Hari Skizofrenia Sedunia, Waspada Yogyakarta Pengidap Skizofrenia Tertinggi Kedua di Indonesia

pengidap skizofrenia
Ilustrasi Skizofrenia (Foto: siapdok.id)

Jogjakeren.com – 24 Mei merupakan Hari Skizofrenia sedunia. Provinsi Yogyakarta menjadi provinsi dengan angka skizofrenia tertinggi kedua di Indonesia. Penyebab pasti skizofrenia masih belum diketahui hingga saat ini. Namun, semakin cepat dideteksi dan diobati, semakin baik prediksi pemulihannya.

Skizofrenia adalah salah satu gangguan mental yang serius. Penderita skizofrenia biasanya tidak dapat membedakan mana yang nyata dan yang tidak.

Umumnya, penderita skizofrenia memiliki gejala halusinasi dan delusi, pengabaian diri, penarikan diri dari lingkungan sosial, dan kehilangan motivasi.

Skizofrenia bisa diobati, tetapi penyakit ini memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi. Semakin cepat dideteksi dan diobati, semakin baik prediksi untuk pemulihannya.

Skizofrenia di Yogyakarta

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018,  kejadian skizofrenia di Yogyakarta sebanyak 10,4 per 1.000 rumah tangga. Artinya, setiap 1.000 rumah tangga di Yogyakarta terdapat 10,4  rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia.

Angka tersebut menjadikan Provinsi DI Yogyakarta sebagai provinsi dengan angka skizofrenia tertinggi kedua di Indonesia. Urutan pertama merupakan Provinsi Bali dengan angka skizofrenia mencapai 11,1 per 1.000 rumah tangga.

Gejala Skizofrenia

Dilansir dari Mayo Clinic, Skizofrenia melibatkan berbagai masalah dengan pemikiran (kognisi), perilaku dan emosi. Gejala mungkin termasuk:

  • Khayalan

Ini adalah keyakinan salah yang tidak didasarkan pada kenyataan. Misalnya, Anda merasa dirugikan atau dilecehkan; isyarat atau komentar tertentu ditujukan kepada Anda; Anda memiliki kemampuan atau ketenaran yang luar biasa; orang lain jatuh cinta dengan Anda; atau bencana besar akan segera terjadi.

  • Halusinasi

Ini biasanya melibatkan melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada. Namun bagi orang dengan skizofrenia, mereka memiliki kekuatan dan dampak penuh dari pengalaman normal. Halusinasi bisa dalam berbagai indra, tetapi mendengar suara adalah halusinasi yang paling umum.

  • Pemikiran yang tidak teratur (ucapan)

Pemikiran yang tidak teratur disimpulkan dari ucapan yang tidak teratur. Komunikasi yang efektif dapat terganggu, dan jawaban atas pertanyaan mungkin sebagian atau seluruhnya tidak berhubungan. Jarang, ucapan mungkin termasuk menyusun kata-kata yang tidak berarti yang tidak dapat dipahami, kadang-kadang dikenal sebagai salad kata.

  • Perilaku motorik yang sangat tidak teratur atau abnormal

Perilaku tidak terfokus pada tujuan, sehingga sulit untuk melakukan tugas. Perilaku dapat mencakup penolakan terhadap instruksi, postur tubuh yang tidak pantas atau aneh, kurangnya respons, atau gerakan yang tidak berguna dan berlebihan.

  • Gejala negatif

Ini mengacu pada berkurangnya atau kurangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal. Misalnya, orang tersebut mungkin mengabaikan kebersihan pribadi atau tampak kurang emosi (tidak melakukan kontak mata, tidak mengubah ekspresi wajah, atau berbicara dengan nada monoton). Selain itu, orang tersebut mungkin kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari, menarik diri secara sosial, atau tidak memiliki kemampuan untuk mengalami kesenangan.

Penyebab Skizofrenia

Penyebab pasti skizofrenia masih belum diketahui hingga saat ini. Kombinasi genetika, kimia otak, dan lingkungan diduga berkontribusi pada terjadinya skizofrenia. Para peneliti berkesimpulan bahwa skizofrenia merupakan penyakit otak dan bukan gangguan mental semata.

Gejala Skizofrenia

Meskipun penyebab pasti skizofrenia masih belum diketahui, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat memicu atau meningkatkan risiko berkembangnya skizofrenia. Beberapa faktor risikonya yaitu

  • Memiliki riwayat keluarga skizofrenia.
  • Beberapa komplikasi kehamilan dan kelahiran, seperti malnutrisi atau paparan racun atau virus yang dapat mempengaruhi perkembangan otak
  • Mengkonsumsi obat-obatan yang mengubah pikiran (psikoaktif atau psikotropika) selama masa remaja dan dewasa muda.

Komplikasi Skizofrenia

Jika tidak diobati, skizofrenia dapat mengakibatkan masalah parah yang memengaruhi setiap bidang kehidupan. Komplikasi yang dapat disebabkan atau dikaitkan dengan skizofrenia meliputi:

  • Bunuh diri, percobaan bunuh diri dan pikiran untuk bunuh diri
  • Gangguan kecemasan dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
  • Depresi
  • Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan lain, termasuk nikotin
  • Ketidakmampuan untuk bekerja atau bersekolah
  • Masalah keuangan dan tunawisma
  • Isolasi sosial
  • Masalah kesehatan 
  • Menjadi korban
  • Perilaku agresif, meskipun jarang terjadi

 Pencegahan

Tidak ada cara pasti untuk mencegah skizofrenia. Namun, pengobatan segera dapat membantu mencegah kekambuhan atau memburuknya gejala. Selain itu, memahami faktor risiko skizofrenia dapat mengarah pada diagnosis dan pengobatan lebih dini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *