Jogjakeren.com – “Kamu jangan ribuuttt!!! Diaaammmmm!!!”
Seru seorang ibu pada anaknya sambil mendorong pipi anaknya dengan kasar. Seketika itu juga, si anak menangis dengan kerasnya.
Banyak orang tua yang memarahi anaknya dengan emosional. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan tersebut berdampak negatif bagi perkembangan otak anak karena kemarahan menjadi salah satu penyebab terciptanya toksik dalam keluarga.
Padahal, lingkungan toksik yang diakibatkan oleh stres, konflik keluarga, bahkan kemarahan orang tua dapat membunuh sel-sel otak dengan memacu produksi hormon stres (kortisol) pada otak anak.
Kortisol dapat mengakibatkan kematian sel saraf otak sehingga menurunkan jumlah sambungan antar sel saraf di otak, yang kemudian berakibat menurunkan kemampuan belajar anak.
Selain itu, anak dari orang tua pemarah cenderung memiliki sifat antara lain lebih agresif dan tidak menurut, kurang menunjukkan empati, sulit beradaptasi, membandel, dan mengalami kesulitan sampai masa dewasa, termasuk depresi, dikucilkan, menyiksa pasangan, serta prestasi karir dan finansial rendah.
Karena itu, orang tua harus mencari cara untuk mengatur kemarahannya. Termasuk mencari pertolongan ahli jika perlu. Biasanya, alasan utama kemarahan orang tua terhadap anak adalah karena si anak tidak menuruti tuntutan dan kemauan orang tua.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami apakah tuntutan atau kemauannya sudah sesuai dengan tahap perkembangan anak. Selain itu, mempelajari kepribadian anak juga akan mempermudah orang tua memahami reaksi anak terhadap perkataan dan permintaan orang tua.
Belajar mengatasi kemarahan dengan cara yang sehat akan membawa hasil yang signifikan dalam keluarga. Orang tua akan lebih kalem dalam berinteraksi dengan anak. Hal ini membantu anak dalam pengembangan emosinya.
Selain itu, orang tua pun bisa menjadi contoh yang baik dalam mengatasi kemarahan. Dengan demikian, siklus budaya marah dalam keluarga bisa diputus dan tidak perlu berlanjut ke generasi berikutnya.
Membentak atau memarahi anak memang sering kali terjadi saat orang tua berada di titik lelah. Yang paling penting adalah bagaimana kita merespons dan memperbaiki hubungan (repairing the bond) setelah emosi mereda.
Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:
1. Tenangkan Diri Terlebih Dahulu
Jangan langsung menghampiri anak jika emosi masih tersisa. Ambil napas dalam-dalam, minum air putih, dan pastikan pikiran anda sudah jernih agar tidak mengulangi ledakan emosi.
2. Turunkan Posisi Tubuh dan Duduk Berdampingan
Hampiri anak dengan posisi tubuh sejajar (sejajar mata atau duduk di sampingnya). Hindari berbicara sambil berdiri menatap ke bawah karena membuat Anda terlihat intimidatif.
3. Akui Kesalahan dan Minta Maaf secara Tulus
Sampaikan permintaan maaf secara spesifik atas tindakan memarahi/membentak, bukan atas emosi yang anda rasakan.
Contoh: “Maafkan Ibu/Bapak ya tadi sudah membentak dan bersuara keras. Perbuatan Ibu/Bapak tadi tidak benar.”
Hindari: “Maaf ya Ibu bentak, habisnya kamu susah diberi tahu.” (Ini menyalahkan anak atas emosi orang tua).
4. Jelaskan Emosi Tanpa Menyalahkan Anak
Bantu anak memahami bahwa orang tua juga bisa membuat kesalahan dalam mengelola emosi.
Contoh: “Tadi Ibu sedang merasa lelah dan pusing, tapi membentak kamu tetap bukan cara yang baik untuk menyampaikan hal itu”.
5. Validasi Perasaan Anak
Beri ruang bagi anak untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan setelah dibentak.
Contoh: “Kamu pasti kaget dan takut ya pas Ibu berteriak tadi? Ibu minta maaf ya.”
6. Berikan Pelukan dan Kontak Fisik (Reconnection)
Jika anak sudah mau didekati, berikan pelukan atau sentuhan hangat untuk mengembalikan rasa aman (psychological safety) mereka.
7. Evaluasi dan Cari Solusi Bersama
Setelah suasana tenang, bicarakan kembali masalah awal yang memicu emosi tadi dengan nada rendah dan fokus pada solusi.
Contoh: “Lain kali, kalau mainannya belum dibereskan, bagaimana cara kita menyelesaikannya tanpa harus pakai teriak-teriak?”
Menyadari kesalahan dan mau meminta maaf kepada anak tidak menurunkan wibawa orang tua, melainkan mengajarkan mereka empati, rasa tanggung jawab, dan cara meminta maaf yang benar saat melakukan kesalahan.
Sumber : buku successful parenting
Ditulis ulang oleh Atina Catur Fauziati





