UGM Lantik Lima Kurator Keanekaragaman Hayati, Sangurejo Jadi Ruang Belajar Valuasi SDA

Kurator Keanekaragaman Hayati Sangurejo
Fakultas Biologi UGM melantik lima Kurator Keanekaragaman Hayati Periode I Tahun Akademik 2026/2027 pada Rabu (26/8/2026).

Sleman, Jogjakeren.com – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melantik lima lulusan Program Studi Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PPKH) Periode I Tahun Akademik 2026/2027. Para lulusan tersebut diharapkan mampu memperkuat pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia melalui kompetensi profesional di bidang kurasi.

Pelantikan digelar di Fakultas Biologi UGM, Rabu (26/8/2026), setelah para lulusan menyelesaikan pendidikan profesi selama 11 bulan 10 hari. Kaprodi Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati UGM, Tuty Arisuryanti, mengatakan kelima lulusan berasal dari beragam latar belakang pendidikan, mulai sarjana hingga doktoral, serta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Seluruh lulusan meraih predikat pujian dengan rerata IPK 3,96. Henta Ria Anisa menjadi lulusan terbaik dengan IPK 4,00, sementara lulusan lainnya, Dewantari Mega Sekti Alam Sari, telah direkrut sebagai kurator di PT Sanjaya Reptile Indonesia, tempat ia menjalani magang dan tugas akhir.

Read More

Prosesi pelantikan ditandai dengan penyerahan Sertifikat Profesi oleh Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono dan Sertifikat Kompetensi oleh Ketua Indonesia Biologist Association (IBA) KRT. Ario S. Setiadi. Acara dilanjutkan dengan pengucapan sumpah profesi dan pembacaan Panca Prasetia Alumni oleh para lulusan.

Melalui program profesi tersebut, Fakultas Biologi UGM bersama IBA berupaya menyiapkan tenaga profesional yang memiliki kompetensi, keterampilan, dan integritas dalam menjalankan tugas sebagai kurator keanekaragaman hayati. Dengan tambahan lima lulusan periode ini, PPKH UGM telah menghasilkan 22 alumni.

Penguatan kompetensi kurator juga dilakukan melalui pembelajaran lapangan yang menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat. Salah satunya melalui praktikum kurasi di Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kurator Keanekaragaman Hayati Sangurejo
Dosen PPKH UGM, Atus Syahbudin saat menerima tamu dari Universiti Putra Malaysia (UPM) di Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, DIY.

Dosen PPKH UGM, Atus Syahbudin, turut membimbing mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Di Sangurejo, mahasiswa tidak hanya belajar mengidentifikasi dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati, tetapi juga melakukan inventarisasi serta menghitung potensi dan valuasi sumber daya alam (SDA).

“Mahasiswa PPKH sangat beruntung dengan Kampung Sangurejo sebagai tempat untuk mengasah ketajaman dalam penghitungan valuasi SDA,” kata Atus.

Menurut Atus, Sangurejo memiliki beragam potensi yang dapat menjadi objek pembelajaran, mulai dari sumber daya air, tanaman buah-buahan, perikanan, hingga tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis. Keragaman tersebut memberi pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk memahami bahwa kekayaan hayati tidak berhenti pada tahap identifikasi dan dokumentasi, tetapi juga dapat dihitung nilai serta manfaatnya sebagai dasar pengelolaan SDA secara berkelanjutan.

Kegiatan akademik tersebut sekaligus memperkuat posisi Sangurejo sebagai ruang belajar yang mempertemukan pendidikan tinggi, masyarakat, dan agenda konservasi. Terlebih, Sangurejo tengah berproses menuju ProKlim Lestari setelah sebelumnya meraih predikat ProKlim Utama tingkat nasional.

Data hasil inventarisasi dan valuasi SDA diharapkan dapat membantu Sangurejo mendokumentasikan kekayaan alamnya secara lebih sistematis. Informasi tersebut dapat menjadi dasar pengembangan potensi ekonomi masyarakat dengan tetap mempertahankan fungsi ekologis dan keberlanjutan lingkungan.

Pengembangan tenaga profesional di bidang kurasi keanekaragaman hayati juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 14 tentang Ekosistem Laut, SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan kekayaan biodiversitas Indonesia dikelola secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *