Dulu Dikenal ‘Si Kumis’, Kini Masuk Nominasi ProKlim Lestari, Ini Kata Wabup Sleman

Wabup Sleman
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa mengapresiasi Padukuhan Sangurejo yang masuk nominasi ProKlim Lestari 2026. Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan di Sangurejo, Kamis (20/8/2026).

Sleman, Jogjakeren.com – Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyebut semangat gotong-royong dan konsistensi warga menjadi kunci transformasi Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, dari kawasan yang dahulu dikenal kumuh dan miskin menjadi kampung yang aktif menjaga lingkungan. Hal itu disampaikan Danang saat menyambut tim verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari di Sangurejo, Kamis (20/8/2026).

Danang mengatakan Sangurejo yang dulu dikenal dengan julukan “Si Kumis” atau kumuh dan miskin, kini mampu berkembang melalui kolaborasi masyarakat dan pemerintah. Bahkan, berbagai upaya pelestarian lingkungan membuat Sangurejo masuk nominasi ProKlim Lestari tingkat nasional.

“Dulu Sangurejo itu dikenal Si Kumis, kumuh dan miskin. Tapi karena niat dan semangat warga untuk mengubah itu, hari ini Sangurejo menjadi salah satu wilayah yang sering mendapat penghargaan,” kata Danang.

Read More

Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga menciptakan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Keberadaan embung, komunitas, UMKM, hingga pengembangan produk ecoprint menunjukkan bahwa lingkungan yang terkelola dapat menjadi penggerak ekonomi lokal.

“Lingkungan itu ternyata juga memengaruhi ekosistem ekonomi. Kalau Sabtu-Minggu banyak orang lari di sini, banyak orang jualan. UMKM juga tumbuh. Ini yang harus kita pertahankan dan menjadi contoh bagi wilayah lainnya,” ujarnya.

Danang menegaskan keberhasilan Sangurejo tidak dapat dilepaskan dari konsistensi warga. Menurutnya, program lingkungan tidak akan bertahan jika hanya mengandalkan bantuan pemerintah tanpa adanya partisipasi masyarakat.

“Yang paling penting adalah semangat gotong-royong dan kebersamaan warga. Kalau hanya pemerintah yang bergerak dan setelah diberi bantuan kemudian berhenti, satu-dua tahun bisa hilang. Yang sulit justru menjaga konsistensi masyarakat,” katanya.

Panewu Turi Joko Susilo menambahkan, transformasi Sangurejo berawal dari kesadaran warga pada 2014 untuk memperbaiki hubungan antara manusia dan lingkungan. Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan kesehatan.

“Mulai 2014 mereka bangkit dan menguatkan pemahaman bahwa manusia itu tidak hidup hanya dengan manusia, tetapi juga hidup dengan lingkungan alam yang ada,” kata Joko.

Joko menyebut komitmen pelestarian lingkungan juga terlihat dari tingginya tutupan vegetasi di Kapanewon Turi yang mencapai sekitar 70 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu bentuk mitigasi perubahan iklim sekaligus upaya membangun ketahanan lingkungan.

“Tutupan vegetasi di Turi mencapai 70 persen. Ini salah satu bentuk upaya mitigasi perubahan iklim dan mewujudkan masyarakat yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Verifikator ProKlim Lestari Koko Wijanarka menilai indikator utama keberhasilan Sangurejo bukan sekadar jumlah kegiatan, melainkan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. Transformasi dari kawasan “Si Kumis” menjadi kampung yang aktif dalam aksi lingkungan menjadi bukti perubahan tersebut.

“Yang kita lihat bagaimana masyarakat melakukan perubahan. Dari yang dulunya ‘Si Kumis’, kemudian menjadi seperti ini. Artinya, bagaimana perubahan perilaku dan bagaimana budaya yang ramah lingkungan dibangun,” ujar Koko.

Koko mengatakan masyarakat memiliki peran penting dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim karena sumber emisi juga berasal dari aktivitas masyarakat. Ia menilai gerakan tersebut harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan tidak berhenti pada satu wilayah.

“Tidak bisa kita lakukan hanya pemerintah saja, karena sumber emisinya juga dari masyarakat. Karena itu peran masyarakat menjadi sangat penting dalam upaya aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” katanya.

Dalam penilaian ProKlim Lestari, Koko juga akan melihat peran Sangurejo dalam membina wilayah lain. Sangurejo tercatat telah membina 12 lokasi, dengan dua lokasi binaan, Gondangan dan Kuwang, yang telah meraih Trofi Utama ProKlim.

“Ketika kita bicara Lestari, tidak hanya sekadar menambah aksi adaptasi dan mitigasi, tetapi bagaimana membantu teman-teman lainnya untuk memiliki kondisi seperti yang ada di Sangurejo,” ujarnya.

Koko berharap keberhasilan Sangurejo dapat diperluas ke wilayah sekitarnya hingga membentuk kawasan yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Ia mendorong Wonokerto menjadi Kalurahan ProKlim, Kapanewon Turi menjadi Kapanewon ProKlim, dan dalam jangka panjang Sleman dapat berkembang menjadi Kabupaten ProKlim.

“Jangan sampai Sangurejo yang baik sendiri, sementara sekitarnya masih bermasalah. Kalau wilayah lain terdampak perubahan iklim, Sangurejo juga akan terdampak,” katanya.

Ia menegaskan ProKlim bukan sekadar perlombaan untuk mencari pemenang, tetapi gerakan bersama untuk memastikan masyarakat mampu menghadapi dampak perubahan iklim, seperti kekeringan, banjir, longsor, dan gagal panen.

“Ini merupakan program bersama, membangun bersama. Tidak hanya kami dari kementerian atau Dinas Lingkungan Hidup, tetapi menjadi bagian dari program pembangunan kita semuanya,” pungkas Koko.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *