Jogjakeren.com – Pada prosesi wisuda kelulusan siswa kelas 6 SD Muhammadiyah Kauman (Muhamka) Kota Jogja, masing-masing siswa menerima bibit pohon keben. Pertama kali dilakukan, hal ini dalam rangka menanamkan cinta dan peduli lingkungan sejak dini. Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan pohon keben. Lalu, seperti apa pohon keben itu?
Dilansir dari berbagai sumber, keben atau butun dengan nama latin barringtonia asiatica adalah sejenis pohon yang tumbuh di pantai-pantai wilayah tropika, di Samudra Hindia, kawasan Malesia, hingga ke pulau-pulau di Pasifik barat. Nama lainnya adalah putat laut.

Di Indonesia, keben pernah mendapat predikat sebagai pohon perdamaian. Predikat itu ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada Hari Lingkungan Hidup, pada 5 Juni 1986. Tema Hari Lingkungan Hidup tahun itu adalah “A Tree for Peace”. Keben tidak hanya pohon perdamaian. Keben juga punya makna lain.
Di dalam Keraton Yogyakarta, terdapat area yang dinamai keben karena area tersebut ditanami tanaman tersebut. Yakni di halaman Kamandhungan utara. Konon, keben di Keraton Yogyakarta bermakna sebagai lambang negara yang agung dan bersih. Dikutip dari website Kraton Yogyakarta, keben juga memiliki makna sebagai tangkeb-en, atau menutup, yang dimaksud adalah menutup segala pengaruh hawa nafsu, ada pula yang memaknainya sebagai hangrukebi, atau melindungi serta merangkul kebenaran. Di Kraton Yogyakarta, selain ditanam di halaman Kamandhungan utara, keben juga ditanam di halaman Masjid Gedhe.

Sementara itu, buahnya memiliki arti yang sangat penting dalam arsitektur tradisional Jawa. Itu karena buahnya digunakan sebagai hiasan pada rumah tradisional Jawa. Namanya kebenan—kebenan ini diukir berbentuk kuncup bunga. Hiasan kebenan ini tidak hanya menghiasi rumah, tapi juga menghiasi bangunan candi hingga nisan sebagai maejan atau kepala nisan. Pohon ini tidak hanya memiliki nilai budaya yang kental, tetapi juga biasa dimanfaatkan sebagai tanaman tepi jalan untuk naungan.
Selain di Yogyakarta, keben juga bermakna di Pulau Anak Krakatau. Konon, keben adalah tumbuhan pertama yang tumbuh di pulau itu setelah meletusnya Gunung Krakatau.

Tak hanya itu, pohon keben merupakan tumbuhan asli Indonesia dan tergolong tumbuhan yang memiliki umur panjang. Tingginya dapat mencapai 20 meter. Selain itu, pohon keben juga memiliki banyak manfaat, di antaranya sering digunakan sebagai obat-obatan tradisional. Buah dari tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit perut, obat rematik, dan dapat dijadikan sebagai obat luka.

Buah keben biasanya tumbuh di ujung tangkai dan memiliki kulit buah yang halus serta licin. Bentuk dari buah keben ini seperti stupa, yang berbentuk persegi empat atau lima. Ketika buah keben masih muda, buah ini berwarna hijau dan setelah tua akan berubah warna menjadi coklat.





