Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting untuk dibicarakan, terutama di kalangan anak muda saat ini. Di tengah kehidupan yang serba cepat, tuntutan dari berbagai sisi—mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga media sosial—dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang dialami banyak orang. Dulu, kesehatan mental sering kali dianggap tabu untuk dibicarakan. Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang mulai menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Sejalan dengan hal tersebut, menurut WHO (World Health Organization) kesehatan mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap, bukan hanya sekedar tidak adanya penyakit atau kelemahan. Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dan setara dengan 15,5 juta remaja. Gangguan mental yang paling umum meliputi depresi, kecemasan, dan stres pasca-trauma. Selain itu, survei tersebut juga menunjukkan bahwa 1 dari 20 remaja melaporkan merasa lebih depresi, lebih cemas, lebih merasa kesepian, dan lebih sulit untuk berkonsentrasi dibandingkan sebelum pandemi COVID-19.
Meskipun prevalensi gangguan mental di kalangan remaja cukup tinggi, stigma terhadap masalah kesehatan mental masih menjadi hambatan utama dalam mencari bantuan ahli. Stigma ini sering kali muncul dari ketidaktahuan, stereotip negatif, dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Banyak orang masih percaya bahwa gangguan jiwa adalah tanda kelemahan pribadi atau bahkan hukuman moral, dan bukan kondisi medis yang memerlukan perawatan.
Meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental sangat penting untuk mengurangi stigma dan mendorong individu mencari bantuan yang mereka butuhkan. Edukasi mengenai kesehatan mental dapat membantu masyarakat memahami bahwa gangguan mental adalah kondisi medis yang memerlukan perhatian dan perawatan, sama seperti penyakit fisik lainnya.

Langkah-Langkah untuk Menjaga Kesehatan Mental
-
Berdoa dan Lebih Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
Selain pendekatan medis dan sosial, sisi religius atau spiritualitas bisa menjadi salah satu upaya efektif untuk menjaga kesehatan mental. Dalam ajaran agama, banyak mengajarkan mengenai pentingnya bersyukur atas semua pemberian dan qadar dari Allah SWT. Selain itu, dzikir dan berdoa kepada Allah SWT bisa membuat hati jauh lebih tenang.
-
Waktu Berkualitas Bersama Orang Tersayang
Setiap orang tentunya memiliki orang terkasih, baik itu keluarga maupun pasangan. Meningkatkan intensitas berkomunikasi dengan mereka dapat mengurangi stres dan kecemasan. Selain itu, menghabiskan waktu bersama orang tersayang juga bisa mengurangi perasaan terisolasi atau terputus.
-
Beristirahat yang Cukup
Kesehatan mental juga dapat dipengaruhi oleh keadaan fisik seseorang. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi serta mampu menurunkan daya ingat dan konsentrasi. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kualitas tidur minimal 7 jam dalam sehari. Tentunya setiap orang membutuhkan durasi tidur yang berbeda-beda tergantung pada faktor-faktor seperti usia, gaya hidup, dan lain-lain.
-
Olahraga secara Teratur
Olahraga dapat meningkatkan hormon endorfin yang mana hormon tersebut berperan dalam mengurangi rasa sakit dan memberikan perasaan senang atau euphoria. Hormon endorfin yang meningkat setelah olahraga diketahui dapat mengurangi gangguan depresi.
-
Konsumsi Makanan yang Sehat
Selain untuk mencukupi kebutuhan gizi dalam tubuh, mengonsumsi makanan sehat dan bernutrisi juga mampu meningkatkan suasana hati dan mengurangi kecemasan serta stres. Misalnya mengonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung vitamin B khususnya vitamin B12 dapat membantu memperbaiki gejala depresi tentunya dengan dibarengi mengonsumsi obat antidepresan. Vitamin B12 banyak ditemui dalam produk hewani, seperti ikan, daging tanpa lemak, daging unggas, telur, dan susu rendah lemak.
-
Mencoba Hal Baru
Kebiasaan sehari-hari yang monoton dapat menimbulkan rasa jenuh dan mampu menyebabkan stres. Untuk menghindari kondisi itu, mencoba hal baru bisa menjadi pilihan untuk menghilangkan kejenuhan. Kegiatan seperti melukis, berkebun, membuat kerajinan tangan bahkan mengunjungi tempat yang baru dapat menjadi alternatif untuk mengurangi kejenuhan.
-
Mendatangi Psikolog atau Psikiater
Cara ini bisa menjadi alternatif terakhir yang dapat dilakukan oleh seseorang yang sudah memiliki gangguan mental maupun belum. Penanganan profesional diharapkan mampu memberikan solusi dan saran untuk mengatasi permasalahan mental seseorang. Sebelum menentukan akan ke psikolog atau psikiater, pastikan untuk memahami perbedaan keduanya.
Kesimpulan
Kesehatan mental telah menjadi isu yang semakin penting, terutama di kalangan generasi muda yang sering mengahapi stres dan gangguan kecemasan. Meskipun stigma masih ada, pentingnya perawatan kesehatan mental semakin diakui. Kita bisa melakukan berbagai langkah untuk menjaga kesehatan mental seperti diatas. Dengan meningkatkan kesadaran dan mengambil langkah yang tepat, kita dapat melindungi kesehatan mental dan menciptakan generasi yang lebih bahagia dan tangguh.
Ditulis oleh: Luluk Nur Fauziah
Gambar oleh: cottonbro studio




