Sleman, Jogjakeren.com – Remaja MDT Al-Fattah Ummu Dani Salamah (MASDANIS) di bawah naungan Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Purwomartani Kapanewon Kalasan mengadakan sharing tentang manajemen emosi. Acara tersebut diikuti remaja usia pra nikah di teras Masjid Ummu Dani Salamah pada Kamis (26/9/2024).
Menghadirkan guru Bahasa Inggris SMA Insan Mulia Boarding School Yogyakarta, Jumiati, S.Pd. sebagai pemateri manajemen emosi. Jumiati mengajarkan kepada remaja untuk mengenali emosinya dengan lebih detail. Sehingga ketika memiliki masalah bisa jauh lebih mudah untuk memecahkan masalah dan mencari solusinya.

“Cara terbaik untuk release dan meregulasi emosi adalah dengan mencontoh sikap Nabi Muhammad SAW yaitu ketika sadar sedang marah maka baca taawudz, jika masih belum reda maka berwudhu. Ketika marah dalam posisi berdiri, maka duduk dan apabila masih belum reda maka tidurlah,” terang Jumiati.
Jumiati juga menerangkan bahwa proses hidup manusia itu seperti filosofi bunga sakura, yang mana bunga sakura hanya mekar di musim semi. Bunga sakura adalah bunga yang pertama kali mekar di musim semi. Ini menandakan permulaan baru dan dimulainya musim yang bermanfaat. Kita bisa mencontoh cara tumbuhnya pohon sakura, ia harus stress dengan musim dingin yang lama tetapi bisa mekar dengan indah ketika musim semi datang.
“Artinya, ketika kita diberi qodar berat dan tertekan, maka kita harus sabar. Pada akhirnya kita bisa menjadi lebih baik dan menemukan binarnya lagi,” ujar Jumiati. Pentingnya remaja untuk bisa menyadari bahwa manajemen emosi harus dilatih mulai dari usia remaja. Agar ketika berumah tangga nanti bisa lebih mengontrol emosinya untuk menciptakan keluarga yang bahagia dan harmonis.
Jumiati memberikan tips berumah tangga, apabila pasangan sedang emosi maka kita harus bisa menjadi pendengar yang aktif. Selanjutnya tenangkan pasangan, tidak menyela ketika pasangan sedang berbicara dan belajar untuk tidak menyalahkan terlebih dahulu. Kita bisa memberikan tanggapan seperti “Ohh begitu ya” dan validasi emosinya.
Apabila emosi pasangan sudah reda dan memungkinkan untuk kita berikan tanggapan, maka kita bisa memberikan masukan yang baik tanpa harus menyakiti perasaannya. “Perceraian bukan terjadi karena faktor ekonomi dan selingkuh, namun karena emosinya tidak teregulasi dengan baik,” pungkas Jumiati.





