Pemkot Yogyakarta Resmi Luncurkan Program “Satu Kampung Satu Bidan” untuk Jangkau Kesehatan Warga

Satu Kampung Satu Bidan
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meluncurkan program "Satu Kampung Satu Bidan".

Yogyakarta, Jogjakeren.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta resmi meluncurkan program inovatif “Satu kampung Satu Bidan”, sebuah upaya strategis untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan merata hingga tingkat masyarakat paling dasar. Wali Kota Hasto Wardoyo menyebut inisiatif ini sebagai perubahan penting di usia Kota Yogyakarta ke-269, yang melibatkan pengerahan 45 tenaga kesehatan baru ke seluruh kalurahan.

Dikutip kompas.com, program ini merekrut 45 bidan atau tenaga kesehatan (nakes) baru yang akan ditempatkan di setiap kalurahan untuk pengawasan kesehatan warga secara menyeluruh dengan layanan gratis. Dalam pelaksanaan program ini, Pemkot Yogyakarta telah merekrut tenaga tersebut, dan setiap petugas akan bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan di satu wilayah kalurahan.

Layanan pemeriksaan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat melalui program ini dipastikan bersifat gratis. Penempatan tenaga baru ini merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan akses kesehatan yang mudah dan terjangkau bagi semua warga di Kota Yogyakarta, terutama di area yang minim fasilitas kesehatan dan sulit dijangkau mobilisasi umum.

Read More

Tujuan program ini adalah mengawal kesehatan daur hidup manusia, fokus pada pencegahan stunting dan penanganan 1.169 lansia jompo yang sulit dijangkau. Wali Kota Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa program ini berfokus pada pengawalan seluruh daur hidup manusia, mulai dari menjamin kualitas hidup warga hingga memastikan anak dilahirkan tidak mengalami stunting.

Program juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan lansia, mengingat prosentase lansia di Kota Yogyakarta kini mencapai 16 persen. Kota ini menyoroti keberadaan 1.169 lansia jompo yang tinggal di gang-gang sempit dan sulit diakses. Oleh karena itu, melalui konsep “Puskesmas tanpa dinding”, bidan dan nakes baru akan menerobos 169 kampung untuk mendatangi, memeriksa, dan memberi perawatan langsung di tempat tinggal mereka.

Program ini memiliki lima fokus intervensi (penyakit menular/tidak menular, stunting, lansia, jiwa) dan didukung aplikasi Jogja Sehat untuk pelaporan dan koordinasi efektif. Intervensi program tidak hanya terbatas pada ibu hamil, tetapi mencangkup lima area fokus utama yang dijelaskan Hasto: penanganan penyakit menular (seperti TBC/HIV), penyakit tidak menular, pencegahan stunting, peningkatan kesehatan lansia, dan masalah kesehatan jiwa.

Selain itu, Kepala Dinas Kesehatan Emma Rahmi Aryani mengkonfirmasi bahwa program ini diperkuat oleh dukungan teknologi melalui pengembangan aplikasi Jogja Sehat. Sistem digital ini memudahkan pencatatan, pelaporan, dan koordinasi antar sektor agar layanan kesehatan dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

Para bidan baru berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dan pemkot akan melakukan evaluasi kinerja secara rutin dengan indikator konkret. Program ini disambut baik oleh tenaga kesehatan yang direkrut, Arnika Julia Fergin di Kalurahan Klitren, yang menyatakan kesiapan mengimplementasikan ilmunya demi pelayanan terbaik.

Arnica melihat ini sebagai peluang emas untuk benar-benar dekat dengan warga, membantu ibu hamil, balita, hingga lansia. Wali Kota Hasto juga menegaskan bahwa pembangunan SDM berfokus pada petugas kesehatan. Oleh karena itu, pemkot berencana mengumpulkan para bidan/nakes untuk dievaluasi kinerjanya sebulan sekali dengan indikator yang jelas dan konkret guna menjaga kualitas layanan dan mencapai target kesehatan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *