Sleman, Jogjakeren.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Sleman sukses menyelenggarakan kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kompleks Masjid Mulyo Abadi, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan tenaga medis dari Puskesmas Mlati. Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan nasional yang serentak dilaksanakan oleh DPW LDII se-Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari kerja sama antara DPP LDII dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam mendukung Asta Cita.
Acara ini dihadiri oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya dan diikuti oleh sekitar 145 peserta dari warga LDII dan masyarakat sekitar, termasuk santri Pondok Pesantren Mulyo Abadi. Selain pemeriksaan kesehatan umum, peserta juga mendapat layanan konsultasi dengan dokter dan psikolog.
Ketua DPD LDII Sleman, Suwarjo, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kerja sama tenaga kesehatan dari Puskesmas Mlati serta seluruh peserta yang antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi LDII terhadap program nasional peningkatan kesehatan masyarakat.
“Kami ingin membantu pemerintah menyukseskan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat. Harapannya, warga bisa tahu kondisi kesehatannya sejak dini, sehingga derajat kesehatan masyarakat semakin baik dan meningkat,” jelasnya.

Takmir Masjid Mulyo Abadi, Jiwantoro mengungkapkan bahwa pihaknya mendukung pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis dengan menyediakan sarana tempat, tenda kursi, dan juga fasilitas lainnya. “Kami bersyukur bisa berkolaborasi dengan DPD LDII Sleman. Harapannya masyarakat bisa teredukasi, ada konsultasi dengan dokter dan psikolog. Sehingga semua warga bisa lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan,” tutur Jiwan.
Sementara itu, Bupati Sleman menilai bahwa kegiatan CKG sangat meringankan tugas pemerintah dalam bidang kesehatan. Ia juga berpesan kepada masyarakat agar rutin melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi penyakit.
“Cek kesehatan secara dini penting untuk antisipasi. Kalau ada penyakit, bisa segera diketahui dan diobati lebih awal,” ujar Harda.
Suwarjo menambahkan bahwa antusiasme warga sangat tinggi dalam mengikuti cek kesehatan. Sehingga pihaknya harus membatasi jumlah peserta menjadi sekitar 150 orang karena keterbatasan waktu dan tenaga medis. “Sasaran utamanya (dibatasi) warga usia 18 tahun ke atas hingga lansia. Karena untuk usia sekolah sudah ada program pemeriksaan di institusi pendidikan masing-masing,” imbuhnya.
Harda menyebut, kesehatan masyarakat itu tanggung jawab negara. “Ketika LDII ikut membantu, tentu pemerintah amat senang. Kegiatan ini bisa menjadi contoh bagi ormas lain untuk ikut berperan,” pungkas Harda.





