Rutin Tahunan, Begini Proses Pengumpulan Kulit Hewan Kurban untuk Dilelang

Pengumpulan Kulit Hewan Kurban
Kumpulan Kulit Hewan Qurban yang Akan Dilelang (dok. Jurnalis)

Sleman, Jogjakeren.com – Pengumpulan kulit hewan kurban telah menjadi tradisi tahunan yang tidak hanya mengandung nilai keagamaan, tetapi juga ekonomi. Dari sejumlah PC LDII yang berada di area DPD LDII Sleman bagian barat, kulit hewan yang dikurbankan dikumpulkan, kemudian dilelang untuk mendapatkan harga yang maksimal.

Tujuan dari pengumpulan ini sangat jelas yaitu untuk menjaga agar harga kulit tetap stabil. “Dengan adanya lelang itu kita bisa memilih harga tertinggi, di samping itu sebagai pertimbangan kami,” ungkap Toni, penanggung jawab pengumpulan kulit hewan kurban LDII Sleman Barat. “Kalau dibeli beberapa orang itu masalah keuangannya kadang ada yang terlambat. Bahkan belum selesai pembayaran, barang sudah dibawa,” tambahnya. Dengan sistem lelang, modal yang ada lebih terorganisir dan harga terbaik dapat dipilih dengan tepat.

Proses Pengumpulan

“Dikumpulkan dari PC dan PAC, kulit hewan kurban kemudian diantar ke tempat pengumpulan untuk dilakukan penilaian,” ujarnya menjelaskan proses selanjutnya. “Kulit kambing yang cacat biasanya dihargai murah, sekitar 5 ribu per ekor, sementara yang utuh bisa mencapai 35 ribu hingga 25 ribu, tergantung jenisnya seperti kambing Jawa atau Gibas,” tambahnya menjelaskan variasi harga berdasarkan kondisi dan jenis hewan.

Bacaan Lainnya

Jumlahnya sendiri cukup mengesankan, dengan 96 sapi dan 180 kambing yang dikumpulkan tahun ini. “Lelang dilakukan berdasarkan harga kulit saat ini, dengan sapi dijual per kilogram dan kambing per lembar atau per ekor,” lanjutnya menjelaskan mekanisme lelang yang berlaku.

Lelang ini tidak hanya berada dalam satu area, tetapi dibagi ke empat area yang sebelumnya bergabung dalam satu acara besar. “Sekarang setiap daerah melakukan lelang sendiri, meskipun kadang ada daerah lain yang ikut karena harga yang ditawarkan cukup menarik,” tutur Toni.

Hasil Lelang

Hasil dari lelang ini tidak hanya menguntungkan para penjual, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat setempat. “Uang yang didapatkan dari lelang ini biasanya dialokasikan untuk keperluan majelis taklim yang meminta bantuan setiap tahun,” tambahnya. “Ini sesuai dengan agenda tahunan dan memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya menjelaskan dampak positif dari kegiatan ini.

Pengumpulan kulit hewan kurban ini bukanlah hal baru, tetapi merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang berkelanjutan dan memberikan solusi ekonomi yang bermanfaat. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya mempertahankan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal dengan cara yang berkelanjutan dan berdampak positif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *