Sambang Desa: Rasa Haru dan Bangga Menyeruak di Bumi Sermo Kulon Progo

Warga Transmigran Sambang Desa ke Sermo Kulon Progo (foto: Kompas)
Warga Transmigran Sambang Desa ke Sermo Kulon Progo (foto: Kompas)

Kulon Progo (20/3) – Sambang Desa yang digagas Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, kali ini menghadirkan warga transmigran bedol desa Sermo ke ‘kampung halaman’-nya. Kala itu, Giyatno dan 125 orang lainnya adalah salah satu kelompok transmigran asal Sermo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka berangkat bersama-sama pada 27 Desember 1990 dan tiba di Dusun Taktoi II, Desa Taktoi, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu pada 4 Januari 1991 untuk transmigrasi.

Transmigrasi adalah program pemerintah Indonesia yang dimulai pada tahun 1950-an dengan tujuan untuk mengurangi kemiskinan dan mengembangkan daerah-daerah yang masih terisolasi di Indonesia. Menurut jenisnya, transmigrasi warga Sermo ini termasuk bedol desa, di mana seluruh warga dipindahkan karena akan digunakan sebagai proyek pemerintah.

Ketika mereka meninggalkan kampung halaman mereka, mereka tahu bahwa tanah mereka akan menjadi bagian dari pembangunan Waduk Sermo yang akan mengalirkan air ke wilayah Kulon Progo. Namun, mereka tetap bersemangat dan berharap dapat memulai hidup baru di tempat yang baru.

Read More

Kini, setelah 33 tahun, Giyatno (53) dan beberapa warga transmigran lainnya kembali ke Kulon Progo untuk mengunjungi kampung halaman mereka yang telah menjadi bagian dari waduk. Giyatno terharu melihat perubahan yang telah terjadi. Ujung bibirnya bergetar saat mengacungkan telunjuk ke sebidang tanah miring di pinggir Waduk Sermo. Air mata tampak mulai menggenang di kedua bola matanya, ditahannya agar tidak jatuh di pipi. Sembari menata kata sambil sesekali mengambil napas dalam. “Rumah kami dulu di sana, tepat di atas air, tapi sekarang sudah menjadi bagian dari waduk,” kata Giyatno, saat ditemui di lapangan parkir kawasan dermaga Waduk Sermo, pada Sabtu (18/3/2023).

Tanah keluarganya yang dulu berada di tepi waduk sekarang tenggelam di bawah air. Namun kini, memberikan berkah bagi penduduk sekitar dengan menyediakan air melimpah. Air yang dimanfaatkan untuk irigasi pertanian dan kebutuhan air minum. “Saya merasa senang dan bersyukur setelah semua pengorbanan yang begitu banyak. Tanah tenggelam, tidak apa-apa,” kata Giyatno.

Sambil menangis, Giyatno bersyukur dan merasa senang karena pengorbanan mereka bermanfaat bagi Kulon Progo, walaupun harus meninggalkan kampung halaman mereka yang tercinta. Namun, mereka telah mampu memulai hidup baru dan berhasil di tempat yang jauh dari kampung halaman mereka.

Di tempat yang baru, para transmigran bekerja keras untuk menanam tanaman seperti karet, kelapa sawit, kopi, dan holtikultura. Mereka juga berdagang. Meskipun awalnya sulit, setelah sepuluh tahun, mereka bisa merasakan kesuksesan dalam pertanian. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi petani yang berhasil. Kesuksesan ini membuat mereka bangga dan merasa bahwa pengorbanan mereka untuk transmigrasi telah memberikan hasil yang positif.

Keinginan warga transmigran di Taktoi untuk mengunjungi kampung halaman akhirnya terwujud. Dinas Pariwisata Kulon Progo menghadirkan mereka lewat program famtrip yang dinamai Sambang Desa 2023. Famtrip (familiarization trip) sendiri merupakan kegiatan pengenalan destinasi urban (perkotaan). Sambang Desa mereka yang dulunya meninggalkan kampung untuk pembangunan Waduk Sermo, kini kembali berkesempatan menengok kampung halaman selama 4 hari.

Bus Pengangkut Transmigran pada acara Sambang Desa
Bus Pengangkut Transmigran pada acara Sambang Desa

Tampak rasa bangga saat melihat langsung bendungan dan sejumlah kemajuan di sana. Warga transmigran yang lain, Muji Wiyatno mengaku takjub pada perubahan desanya. Kawasan gunung ini ramai, muncul tempat wisata, banyak pedagang hingga jalan yang halus. “Kemajuannya banyak dan sangat pesat,” bangga Muji. Sekda Kulon Progo, Triyono membenarkan, pembangunan waduk terus diikuti banyak kemajuan di Kulon Progo.

Kisah transmigrasi Giyatno dan 125 orang lainnya dari Dusun Taktoi II, Desa Taktoi, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, menunjukkan betapa kuatnya semangat manusia untuk menghadapi perubahan dan memulai hidup baru di tempat yang baru. Walaupun harus meninggalkan kampung halaman yang tercinta, mereka mampu bangkit dan meraih kesuksesan di tempat yang baru. Cerita ini memberikan inspirasi bagi kita untuk tidak menyerah dalam menghadapi perubahan dan selalu bersemangat untuk memulai hidup baru di tempat yang baru.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *