Jogjakeren.com – Sleman’s Wall of Art#1 diselenggarakan di Tirta Kelapa Art Space, Glondong, Pakem, Sleman. Tirta Kelapa Art Space berkesempatan mengetengahkan Sleman’s Wall Of Art melalui karya seni rupa dari 26 seniman yang memiliki latar belakang berbeda, terdiri dari guru, dosen, mahasiswa, pekerja batu, pemulung sampah, pelukis, pekerja seni, pekerja bengkel las, dan penyandang disabilitas.
Sleman’s Wall of Art#1 mempersembahkan dan memperkenalkan karya-karya dari Ari Sutaryo, Bahrul Hepfi, Cak Ncop, Dini Ambar, Fery Nurdiyanto, Frederico Dwisetyanto, Guntur Songgolangit, Hana Samsudin, Harama Salim, Heri Susila, Heri Untoro, Ki Boyong Selatan, Maro Jalatarang, Niken Larasati, Pambudi Sulistio, Pariatmojo, Patricia Kirana, Rommy Iskandar, Ronny Lampah, Sapto Aji, Shribhagavan, Tejo Bagus, Triyanto, Tsanamerra, Wawan Misdiatanta, hingga Widya Gatra.
Perhelatan tersebut merupakan sebuah pameran yang mengusung berbagai tema dan konsep yang bersumber dari pewayangan, cerita rakyat, adat tradisi, filosofi Jawa dan kearifan lokal.
Pameran ini dibuka sejak tanggal 25 Mei 2023 oleh Kepala Daerah Kabupaten Sleman, Rektor ISI Yogyakarta, dan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Pameran ini berakhir tanggal 27 Mei 2023, dengan ditutup adanya Recycle Art Workshop: Nur “Rumah Sampah”.

Dalam workshop tersebut, Rinto Noer sebagai narasumber sekaligus Pendaur Sampah Plastik dan pendiri Rumah Sampah menekankan bahwa sampah akan menjadi nilai yang tinggi dengan tangan yang tepat. “Jangan remehkan sampah, sampah itu bisa menjadi indah di tangan yang tepat, karena dengan sampah bisa menjadi sebuah karya dan product yang fungsional,” terangnya.
Selain itu, Rinto Noer juga menunjukkan salah satu hasil karya yang terbuat dari sampah plastik. Karya tersebut memiliki filososi yaitu keseimbangan alam dengan manusia yang tidak laras. Adanya recycle (plastic) art diharapkan menjadi salah satu metode untuk menyebarkan kepada masyarakat umum bahwa sampah yang dianggap hanyalah limbah yang tidak bernilai tenyata memiliki nilai estetika dan nilai fungsional.

Selain itu, karya-karya yang ditampilkan juga beragam, ada yang berupa patung, lukis, photografi, komik, digital art, plastic recycle, ukir logam, relief, orgonite, wayang beber, keris, dan seni kaca. Bahan yang digunakan juga beragam, ada yang dari fiber, limbah kayu, kulit hewan, limbah plastik, kanvas, limbah kaca, kertas, dan batu.

Pambudi Sulistio, salah satu seniman Sleman’s Wall of Art menyampaikan apresiasinya kepada semua pihak yang telah mendukung, terlebih kepada seniman-seniman yang berpartisipasi dalam menciptakan karya-karya yang luar biasa. Pambudi Sulistio juga mengajak kepada semua kalangan terutama kalangan milenial untuk bersama-sama berkontribusi menciptakan sebuah karya. “Limbah bukan menjadi sampah, tapi masukanlah kedalam otak,” pungkasnya.





