Tekad Moral Jawa: “Sepi ing Pamrih’’ dan “Rasa”

sepi ing pamrih
Sumber ilustrasi: kompasiana.com

Jogjakeren.com – Bagaimana kita dapat mengembangkan kemampuan tekad untuk berpegang teguh pada “sepi ing pamrih” dan “rasa” pada suara hati. Berikut ini beberapa penjelasannya. Salah satu usaha penting dalam perkembangan kekuatan batin adalah berusaha untuk semakin membebaskan diri dari cengkeraman kekuatan-kekuatan irrasional dari dalam diri kita.

Di antara dorongan-dorongan irrasional itu termasuk perasaan takut terutama pada orang lain. Memiliki kekhawatiran bahwa akan dikritik, ditegur, atau ditinggalkan orang-orang terdekat kita. Nafsu untuk memiliki dan menguasai. Perasaan malas, malu-malu, dendam, dengki, iri, benci, dan banyak perasaan lain lagi.

Semua perasaan, kencondongan dan nafsu itu cenderung mencegah kita untuk mendengarkan suara hati dan membuat kita tidak lagi terbuka bagi kesadaran hati, seperti kesadaran tentang tanggung jawab kita sebagai manusia.

Bacaan Lainnya

Penguasaan oleh kekuatan itu dalam bahasa Jawa disebut pamrih. Manusia tidak dapat menjadi dirinya sendiri, dalam arti menguasai diri, kecuali ia menjadi sepi ing pamrih, bebas dari pamrih.

Manusia yang bebas dari pamrih tidak lagi perlu gelisah dan prihatin tentang dirinya sendiri, ia semakin bebas dari nafsu ingin memiliki, ia mengontrol nafsu-nafsu dan emosi-emosinya. Karena ia sepi ing pamrih, ia dapat semakin rame ing gawe, artinya sanggup memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Sebuah istilah lain yang dapat membantu kita untuk mengerti ke arah mana kita harus berusaha kalau mau menjadi orang “bermata satu”, jadi sanggup untuk mendengar suara hati, untuk mengarahkan diri pada yang betul-betul bernilai pada tanggung jawab sebagai manusia, kalau dalam kata Jawa adalah “rasa” atau perasaan.

Mengembangkan perasaan merupakan unsur penting dalam pendidikan tradisional Jawa. Untuk itu kita harus sepi ing pamrih. Dengan rasa yang dimaksud adalah “merasakan” segala dimensi hidup. Dari rasa yang tepat dengan sendirinya mengalir sikap yang tepat terhadap hidup, terhadap masyarakat, dan terhadap kewajiban dan tanggung jawabnya.

Dalam moral Jawa disebut rasa adalah bukan lain daripada sikap moral dasar seseorang. Mencapai rasa yang mendalam berarti orang itu sudah mantap dalam ketekadan untuk selalu memilih yang baik dan benar. Orang itu tidak lagi sempit dan kacau jiwanya, maka ia sanggup bertindak semata-mata dengan melihat pada tanggung jawabnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar