Ulat Pemakan Daun Jati di Gunungkidul Ternyata Bernilai Ekonomi Tinggi

Kepompong Ulat Pemakan Daun Jati Bernilai Ekonomi
Kepompong Ulat Pemakan Daun Jati Bernilai Ekonomi

Gunungkidul (21/11) – Gunungkidul kembali diserbu ribuan ulat pemakan daun jati di awal musim tanam, menciptakan fenomena alam yang unik sekaligus menarik perhatian. Serangan ulat ini terlihat di berbagai area, termasuk ruas jalan wisata. Ribuan ulat bergelantungan di tengah jalan, membentuk jaring dari air liur (sawang) yang kerap menghalangi pengendara kendaraan roda dua dan empat. Siapa sangka, ternyata dari ulat ini memiliki nilai ekonomi tinggi.

Banyak pengendara terpaksa berjibaku dengan jaring ulat yang mengganggu perjalanan. Sebagian menggunakan batang bambu untuk menyingkirkan ulat, sementara lainnya memilih mengenakan jas hujan sebagai perlindungan. Meski tidak membahayakan, fenomena ini tetap memunculkan rasa takut dan geli, seperti diungkapkan salah satu warga setempat.

Seorang pemotor yang mengenakan jas hujan meski tidak turun hujan untuk menghindari ulat menempel pada pakaiannya di jalanan
Seorang pemotor yang mengenakan jas hujan meski tidak turun hujan untuk menghindari ulat menempel pada pakaiannya di jalanan

Bagi masyarakat Gunungkidul, fenomena ini bukan hal baru. Ulat pemakan daun jati muncul secara musiman dan dianggap sebagai berkah tersendiri. Ulat ini sering diolah menjadi makanan ekstrem yang gurih dan renyah, cocok sebagai camilan atau lauk pendamping. Harga ulat jati yang dikumpulkan bisa mencapai Rp 70.000 hingga Rp 110.000 per kilogram, menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga setempat.

Read More

Meski terlihat mengerikan bagi sebagian orang, ulat jati juga memiliki sisi unik. Ketika ulat-ulat ini berjatuhan dan berubah menjadi kepompong, biasa disebut enthung atau ungkrung, masyarakat memanfaatkannya sebagai sumber protein hewani. Enthung mengandung protein tinggi hingga 30%, serta karbohidrat, vitamin, dan lemak, menjadikannya alternatif makanan yang bergizi.

Menurut Edy Suryanto, warga Kecamatan Ngawen, ungkrung memiliki rasa gurih yang khas. “Biasanya ungkrung digoreng dengan bawang putih dan garam. Rasanya sangat enak untuk pendamping sarapan,” ujarnya. Selain dikonsumsi sendiri, ungkrung juga dijual.

Warga biasanya mulai mencari ungkrung pada pagi hari di bawah daun-daun jati yang berguguran. Ungkrung juga sering ditemukan bergelantungan di pohon jati. Meski dianggap menjijikkan oleh sebagian orang, ungkrung memiliki kandungan protein tinggi yang baik untuk tubuh.

Fenomena musiman ini menggambarkan hubungan unik antara manusia dan alam di Gunungkidul. Selain menantang, serbuan ulat jati juga membawa berkah bagi masyarakat yang mampu melihat peluang di balik kejadian alam ini. Hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat memanfaatkan fenomena alam untuk mendukung kehidupan sehari-hari.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *