Jogjakeren.com – Suasana mendadak tegang di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat alarm darurat berbunyi. Tapi tenang, ini bukan bencana sungguhan, melainkan simulasi bencana besar yang digelar oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU) bersama sejumlah mitra pada pertengahan Juni 2025.
Acara ini bukan sekadar latihan biasa. Dengan skenario bencana gempa bumi berskala besar, ratusan mahasiswa, dosen, dan relawan turut ambil bagian. Mereka ditantang untuk berperan aktif dalam proses evakuasi, penanganan korban, hingga simulasi pelayanan darurat di pos pengungsian.
Menurut panitia dari YAKKUM, simulasi ini merupakan bagian dari program “Kampus Tangguh Bencana”, di mana kampus diharapkan tidak hanya jadi tempat belajar, tapi juga siap menghadapi risiko darurat yang bisa datang kapan saja.
“Mahasiswa adalah generasi muda yang punya peran strategis. Kalau sejak dini mereka dibekali kemampuan tanggap darurat, maka dampak bencana bisa ditekan,” kata salah satu fasilitator YEU dalam sesi evaluasi kegiatan.
Nggak cuma latihan lapangan, peserta juga diajak memahami sistem koordinasi, peran tiap unit saat bencana, hingga cara membuat keputusan cepat dalam situasi genting. Beberapa instansi yang turut mendukung acara ini antara lain BPBD DIY, Palang Merah Indonesia, dan pihak keamanan kampus.
Reaksi peserta? Mayoritas mengaku kaget di awal, tapi justru merasa lebih siap setelah mengikuti simulasi. “Awalnya gugup, tapi ternyata banyak hal yang bisa dipelajari. Sekarang tahu harus ngapain kalau sewaktu-waktu bencana terjadi di kampus,” ujar salah satu mahasiswa peserta simulasi.
Di tengah cuaca Jogja yang mulai terik, semangat belajar para peserta tetap membara. Bahkan, beberapa mahasiswa berharap simulasi seperti ini bisa rutin digelar, tidak hanya di UMY, tapi juga di kampus-kampus lain di DIY.
Kegiatan ini jadi pengingat penting bahwa bencana bisa datang kapan saja. Tapi dengan persiapan yang matang dan latihan yang realistis, masyarakat—terutama generasi muda—bisa lebih siap dan sigap menghadapinya.





