Siapkan Insan Tangguh Bencana, SMA IMBS Yogyakarta Gelar Simulasi

SMA IMBS Yogyakarta
Simulasi korban bencana yang terjadi di sekolah, dipraktikkan oleh siswa SMA IMBS Yogyakarta.

Sleman, jogjakeren.com – Tanggal 26 April telah ditetapkan sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional. Bekerjasama dengan BPBD, Disdikpora, dan Yayasan Plan Indonesia, telah terselenggara kegiatan simulasi bersama serentak se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini digelar di berbagai instansi pemerintah, satuan pendidikan sekolah hingga perguruan tinggi, dan industri swasta di DIY.

Adapun di SMA Insan Mulia Boarding School Yogyakarta simulasi ini diikuti sebanyak 78 peserta didik, 10 guru dan tenaga pendidik serta 1 pembina pramuka pada Jumat (26/4/2024) . Kegiatan simulasi ini merupakan kegiatan perdana yang diharapkan menambah wawasan bagi peserta didik dan menjadi bekal dalam hidup bermasyarakat.

SMA IMBS Yogyakarta
Penjelasan simulasi bencana yang diikuti siswa, guru, dan pembina pramuka.

Tema yang diusung adalah “Tanggap, Tanggon, Trengginas Ngadhepi Bebaya”. Disarikan dari berbagai sumber, arti Tanggap adalah segera mengetahui (keadaan) dan memperhatikan sungguh-sungguh. Tanggap juga diartikan kecepatan dalam beradaptasi dengan situasi yang terus berkembang. Sedangkan Tanggon berarti tangguh dan kokoh walau situasi tak menentu namun tetap kuat dan tidak menyerah. Adapun Trengginas artinya tangkas dalam bertindak dan berolah pikir dengan memiliki kesehatan jasmani, daya tahan tinggi dalam menghadapi tugas. Singkatnya, cepat, tangguh, dan tangkas dalam menghadapi bencana.

Read More

Guru Geografi, Nita Pangestu Handayani yang mendampingi acara ini menjelaskan bahwa apabila dilihat dari sisi geografisnya, Indonesia terletak pada posisi rangkaian cincin api (ring of fire) yang terbentang di sepanjang lempeng pasifik dan merupakan lempeng tektonik yang paling aktif di dunia. Zona lempeng tektonik ini menyebabkan pengaruh sebesar 90% dari kejadian gempa bumi.

Khususnya wilayah Yogyakarta yang memiliki aspek fisik yang kompleks. Selain terletak pada pertemuan lempeng benua dengan aktivitas lempeng tektonik yang labil, di wilayah ini juga terdapat gunung Merapi yang sampai sekarang masih aktif. Hal ini menyebabkan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi dengan jenis bencana yang beragam, dari gempa bumi hingga letusan gunung.

“Maka dari itu, acara rutin setiap 26 april ini penting untuk diselenggarakan. Agar peserta didik mampu menjadi penggerak bagi masyarakat maupun keluarga dalam mitigasi bencana,” harap Nita.

SMA IMBS Yogyakarta
Contoh penanda jalur evakuasi korban bencana pada simulasi mitigasi bencana.

Sementara itu, Faqih Arif Saputro yang biasa disapa Kak Faqih selaku pembina pramuka mengatakan bahwa sekolah harus tahu potensi bencana apa yang kemungkinan bisa terjadi di sekolah itu. Misalkan angin kencang, gempa bumi, banjir, tanah longsor dan lain sebagainya. Dan juga harus tahu apa yang akan dilakukan untuk menyelamatkan terutama orangnya juga aset-aset sekolah. Sehingga seluruh civitas sekolah harus bisa melakukan mitigasi bencana demi keamanan.

Pada kesempatan ini disampaikan selain materi SOP kebencanaan dengan diiringi sirine juga materi pertolongan pertama yang harus dilakukan ketika terdapat korban luka pada saat terjadi bencana. Kak Faqih selaku pemateri menyampaikan praktek teknik pembalutan luka dengan menggunakan mitela.

Selain itu disampaikan juga mengenai hal-hal yang harus dilakukan ketika ada korban yang terindikasi mengalami luka di bagian dalam tubuh. Di antaranya adalah dengan membawa korban ke tempat yang aman dengan menggunakan benda keras yang rata seperti pintu atau papan yang dapat mengangkut keseluruhan tubuh korban dengan posisi tidur agar tidak memperparah cedera.

Kesiapsiagaan dan kewaspadaan pada saat sebelum dan setelah terjadi bencana yang dimulai dari sekolah ini menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan manusia yang tangguh bencana.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *