Yuk Kenali Proses Berpikir Anak 2-6 Tahun dan Perkembangan Moralnya

  • Whatsapp
Perkembangan
Perkembangan anak secara psikologi (sumber: didikasi.com)

Jogjakeren – Perkembangan anak yang terjadi sejak lahir hingga dewasa sebagian besar diabaikan sepanjang sejarah manusia. Anak-anak sering dilihat hanya sebagai versi kecil dari orang dewasa dan sedikit perhatian diberikan pada banyak kemajuan dalam kemampuan kognitif, penggunaan bahasa, dan pertumbuhan fisik yang terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja.

Mengapa penting untuk mempelajari bagaimana anak-anak tumbuh, belajar dan berubah? Pemahaman tentang perkembangan anak sangat penting karena memungkinkan kita untuk sepenuhnya menghargai pertumbuhan kognitif, emosional, fisik, sosial, dan pendidikan yang dialami anak-anak sejak lahir hingga dewasa awal.

Bacaan Lainnya

Artikel sebelumnya sudah menerangkan tentang bagaimana perkembangan anak 2-6 tahun secara fisik dan emosional. Di bawah ini memahami perkembangan kognitif dan moralnya.

Perkembangan Kognitif atau Proses Berpikir

Cara berfikir anak-anak di usia ini masih memusatkan kaku, perlu menggunakan simbol-simbol, dan mulai mampu mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada. Misalnya anak-anak mulai menyukai permainan peran dengan objek yang tidak sebenarnya, seperti mengandaikan kursi sebagai kuda.

Selain itu, perkembangan bahasa mereka juga sudah terlihat mereka memiliki keinginan yang kuat untuk berbicara. Hal itu karena berbicara merupakan sarana pokok sosialisasi dan untuk memperoleh kemandirian. Kita sebagai orang dewasa sepatutnya mengajarkan berbicara dan bertutur kata yang baik, tidak mencela, atau merendahkan. Mereka juga dilatih untuk berani bertanya kepada orang lain yang lebih dewasa tentang apa yang mereka tidak ketahui.

Perkembangan Moral

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan perilaku sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungannya.

Kedua orang tua harus memiliki kesamaan sikap dan perilaku dalam memperbolehkan atau melarang tingkah laku tertentu terhadap anak dan harus sepanjang waktu. Dampak yang akan muncul apabila sikap orang tua yang tidak konsisten dalam menerapkan aturan yaitu anak akan merasa bingung dan meremehkan aturan.

Melalui proses meniru (imitasi) anak-anak belajar perilaku moral dan amoral dari orang tua. Sikap orang tua yang otoriter, akan melahirkan sikap disiplin semu pada anak yang akhirnya perintahnya dipenuhi karena rasa takut bukan karena kesadaran. Jika orang tua bersikap acuh tak acuh, cerderung mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab dan kurang memedulikan norma anak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *