Arisan Ecobrick, Metode Baru Mahasiswa UGM Mengedukasi Budaya dan Pengetahuan Umum Anak-anak di Kampung Sanggrahan Yogyakarta

Ecobrick
Mahasiswa UGM mengedukasi anak-anak Kampung Sanggrahan Yogyakarta dengan arisan ecobrick.

Jogjakeren – Lima mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) UGM menginisiasi arisan Ecobrick. Arisan ini memakai metode baru dalam rangka mengedukasi anak-anak Kampung Sanggrahan Yogyakarta untuk mencintai lingkungan, menambah pengetahuan umum dan wawasan kebudayaan.

Sebagaimana arisan pada umumnya, arisan ecobrick dilakukan dengan mengumpulkan nama anggota di dalam wadah. Lalu setiap anggota wajib membayar arisan per minggu sesuai kesepakatan. Uniknya, pembayaran arisan dengan mengumpulkan botol ecobrick, yang kemudian akan diundi seminggu sekali untuk menentukan pemenang arisan. Botol-botol tersebut akan dikreasikan menjadi berbagai bentuk seperti peta Yogyakarta, nama-nama presiden RI, nama-nama planet, spinner wayang Ramayana, dll. Berbagai macam kreasi ini bermanfaat dalam mengedukasi anak-anak.

Ecobrick merupakan botol plastik padat yang berisi limbah non-biological, khususnya sampah plastik dan kertas. Arisan Ecobrick sendiri dipopulerkan oleh tim PKM-PM UGM sejak 1 Juni 2021 hingga kini melalui program bertajuk “Optimasi Arisan Ecobrick dalam Meningkatkan Pola Pikir dan Kreativitas Anak-anak”.

Read More
Ecobrick
Hasil karya anak-anak Kampung Sanggrahan Kota Yogyakarta dari botol.

Program ini berhasil meraih pendanaan PKM-PM yang diselenggarakan oleh Kemenristek Dikti tahun 2021. Tim PKM-PM UGM beranggotakan Ari Hasna Alifa (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/FMIPA), Asa Pratiwi (FMIPA), Nellis Nadinda Putri Renata (Fakultas Biologi), Muhammad Rafie (Fakultas Biologi), dan Mutiara Tri Wulandari (Fakultas Biologi). Tim ini dibimbing oleh dosen FMIPA UGM, Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc.

Menurut dosen yang aktif membimbing KKN-PPM UGM ini, “Arisan Ecobrick” dapat menjadi media bermain sambil belajar bagi anak-anak sembari menekan melimpahnya sampah domestik dari rumah ke rumah. Hal ini mengingat sampah masih dianggap sebagai masalah yang tak berujung. Kian hari, sampah yang dihasilkan kian bertambah. Padahal, sampah berkait erat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, seyogyanya masyarakat mencari celah manfaat dari sampah yang dihasilkan.

“Arisan Ecobrick dapat digunakan anak-anak sebagai games “prajurit penyelamat bumi” untuk menanamkan jiwa sportif dan tanggung jawab. Proses pembuatannya bisa meningkatkan kreativitas dalam membentuk kreasi ecobrick. Dari kreasi itulah anak-anak memperoleh manfaat sebagai sarana bermain yang mengandung nilai edukasi” jelas Eko.

Program ini bermula atas dasar keprihatinan orang tua dan keluhan anak-anak yang merasa sangat jenuh di rumah saja semasa pandemi Covid-19. Anak-anak merasa bosan dengan aktivitas monoton pembelajaran daring. Belum lagi lingkungan sekitar yang kurang nyaman akibat banyaknya sampah bukan organik di Kampung Sanggrahan, Kelurahan Semaki, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Ecobrick
Anak-anak Kampung Sanggrahan Kota Yogyakarta dengan hasil karya yang lain.

Sebagai solusi, Eko bersama tim PKM-PM UGM memulai program arisan Ecobrick. Botol ecobrick yang didapatkan dari arisan, selanjutnya dicat dan dibuat kreasi. Botol-botol disusun menyerupai setengah lingkaran maupun bentuk lain yang menarik seperti menyerupai peta atau lainnya yang dituliskan berbagai pengetahuan. Semisal nama-nama kabupaten di DIY, wayang, bandara, dan presiden-presiden RI. Dengan demikian, semakin hari pengetahuan yang dikembangkan terus bertambah. Koleksi bentuk ecobrick pun semakin banyak dan lengkap.

Kini, anak-anak memiliki sarana kreatif untuk menghilangkan kebosanan. Susilowati, salah satu orang tua mengatakan bahwa program ini sangat membantu anak-anak mengurangi rasa bosan yang dirasakan 1 tahun belakang ini. Berkat arisan ecobrick, anak-anak mempunyai kegiatan produktif, mendapatkan pelajaran dan pengetahuan baru yang disampaikan oleh mahasiswa UGM. Susilowati juga berharap kegiatan ini dapat dilakukan secara rutin dan terus menerus meskipun kelak pandemi sudah berakhir.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *