DPKM UGM, Kagama dan Pemkot Yogyakarta Adakan Webinar Telekonseling Sapa Aruh

Sapa Aruh
Webinar Telekonseling Sapa Aruh: moderator Kasubdit KKN DPKM UGM, Dr. Ir. Ambar Kusumandari, M.E.S. (atas kiri), Direktur DPKM UGM, Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D. (atas tengah, berlatar hijau), Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, Dr. dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D. (bawah kiri, berlatar hitam) Enno Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkot Yogyakarta (bawah kanan, berkerudung hitam) Ketua Forum Gandeng Gendong (Gage) Kota Yogyakarta Abdul Razaq (atas kanan)

Jogjakeren – Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) UGM mengadakan Webinar Telekonseling Sapa Aruh bersama Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), dan Sekretariat Daerah Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Minggu (15/8/2021). Dua narasumber yang berbagi pengalaman adalah Direktur DPKM UGM, Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D. dan Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, Dr. dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D.

Selain narasumber, nampak hadir secara daring Wakil Sekretaris Jenderal VI Kagama Sulastama Raharja, ST., Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta Ir. Edy Muhammad, Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkot Yogyakarta, Ketua Forum Gandeng Gendong (Gage) Kota Yogyakarta Abdul Razaq, para Ketua PKK dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK).

Menurut Irfan, sapa aruh menjadi penting bagi masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri (isoman). Berkat sapaan, masyarakat isoman merasa sangat senang, karena ada orang yang peduli terhadap kondisi kesehatannya, sekaligus memonitor tanda-tanda kegawatdaruratan.

Read More

“Hanya dengan disapa saja mereka sangat senang, karena mereka tahu ada orang yang memerhatikannya. Matur nuwun Pak. Sapaan itu membantu saya untuk tetap bersemangat,” kata Irfan sambil menceritakan pengalaman tetangganya yang baru saja selesai isoman.

Kegiatan DPKM UGM Merespon Berkembangnya Covid-19

Sapa Aruh
Dari kir atas ke kanan, Kasubdit KKN DPKM UGM, Dr. Ir. Ambar Kusumandari, M.E.S., Direktur DPKM UGM, Prof. Ir. Irfan Dwidya Prijambada, M.Eng., Ph.D., Ketua Forum Gandeng Gendong (Gage) Kota Yogyakarta Abdul Razaq, Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, Dr. dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D.

Irfan menyampaikan bahwa DPKM UGM telah melakukan beberapa kegiatan untuk merespon berkembangnya Covid-19 di Indonesia. Tanggapan pertama UGM berupa upaya peningkatan kesadaran masyarakat dengan memberikan pengetahuan yang benar mengenai Covid-19 beserta pencegahan penularannya dan penanganan pasien tertular. Baliho besar berbahasa daerah dipasang, mobil penerangan DERU UGM mendatangi kampung-kampung, pasar-pasar dan tokoh-tokoh masyarakat guna penyuluhan.

Bersama mahasiswa KKN juga menyusun dan menyebarkan buku saku desa tangguh Covid-19, menyediakan hand sanitizer, masker, vitamin, dan memproduksi face shield. Sembari memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), DPKM UGM pun bekerja sama membuat coverall suit, pakaian APD, serta menginspirasi budaya baru dalam jual beli, yakni dengan mengajarkan bisnis daring melalui media sosial. Lalu pemberian bantuan penyelenggaraan shelter inisiatif masyarakat berupa APD, kasur (bed) dan bantuan peti jenazah. Yang terkini berupa pengerahan relawan mahasiswa KKN-PPM UGM untuk membantu vaksinasi, administrasi di rumah sakit, dan telekonseling.

KKN-PPM UGM dengan program pokok “Sapa Aruh” ini sangatlah penting mengingat DIY mengalami angka penularan Covid-19 yang masih tinggi. Riris selaku ahli epidemiologi mengungkapkan bahwa beberapa waktu terakhir lonjakan kasusnya sangat tinggi. Angka kematian di DIY 2-3x lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian global akibat banyak kasus masyarakat isoman tak tertangani.

Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM ini mengurai urgensi program telekonseling untuk mendukung isolasi mandiri. Di sisi lain, Riris menjelaskan pula mengapa isoman di rumah lebih disukai masyarakat. Beberapa penyebabnya menurut Riris antara lain layanan kesehatan di rumah sakit atau shelter belum mencukupi, hoax “dicovidkan bila periksa di rumah sakit” yang menyebabkan masyarakat semakin takut untuk mengunjungi rumah sakit, stigma buruk penyintas Covid-19, serta ketakutan minimnya dukungan psikososial dari keluarga dan kerabat terdekat. Padahal masyarakat isoman memerlukan literasi kesehatan yang baik, memantau kondisi klinis yang timbul, dan berjejaring luas untuk dapat mengakses obat, oksigen, makanan, laboratorium, ambulance, tempat tidur rumah sakit/shelter, serta memonitoring tanda-tanda kegawatan dan dukungan psikososial.

Relawan Forum Gage Kota Yogyakarta

Sapa Aruh

Sementara itu, Abdul Razaq mengakui bahwa para relawan Forum Gage Kota Yogyakarta hanya mampu sapa aruh terhadap masyarakat isoman, namun tidak memiliki kapasitas terkait kesehatan atau keadaan psikologinya. Demikian pula, Enno dari Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkot Yogyakarta yang menginginkan kemudahan akses ke UGM secara lebih maksimal dalam memanfaatkan telekonseling ini.
“Bagaimana kita melakukan sinergi antara telekonseling KKN UGM dan Kagama dengan sapa aruh yang sudah berjalan di Yogyakarta melalui mitra kerja kami ketua LPMK dan ketua PKK. KKN ini akan nyambung di bagian mananya dengan sapa aruh yang sudah berjalan?” pinta Enno.

Ajakan sinergi juga datang dari Edy Muhammad. Upaya membangun jejaring bisa dikembangkan lebih lanjut bersama Forum Gage, LPMK, Pusat Konseling Keluarga (Pustaga) yang berisikan psikolog di 18 puskesmas. Belum lagi setiap kelurahan memiliki 2 orang duta perubahan perilaku. Duta ini menyosiliasikan dan mendampingi masyarakat agar taat dengan prokes. “Jika semuanya bergerak, maka akan semakin lengkap. Apalagi langkah ini seiring dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) kemanusiaan. Salah satunya dengan telekonseling ini. Perlu dipilih media apa yang sebaiknya dipakai,” sambut Edy.

Pada sesi diskusi, ketua LPMK Terban, Drs. Hadi Sutarmanto, M.S. mengusulkan perlunya sapa aruh tidak hanya terhadap masyarakat isoman, namun juga kepada para penyintas. Mantan dosen Fakultas Psikologi UGM ini menyarankan juga bagi penyintas Covid-19 diberikan edukasi dan sosialisasi agar mereka dapat diterima oleh masyarakat. Mereka pun terbuka hatinya sebagai donor plasma konvalesen. “Stigma-stigma penyintas Covid-19 ini agar disosiliasikan agar tidak terjadi pengisolasian para penyintas,” saran Hadi.

Pada akhir sesi, moderator webinar yang juga selaku Kasubdit KKN DPKM UGM, Dr. Ir. Ambar Kusumandari, M.E.S. menggarisbawahi beberapa hasil webinar, antara lain: bantuan bagi masyarakat yang sedang isoman merupakan hal penting, namun demikian yang tak kalah pentingnya adalah bantuan sapa aruh atau telekonseling. Dukungan psikososial juga sangat penting. Hal ini berkait dengan rasa cemas, termasuk perasaan bahwa masa isoman merupakan bagian akhir dari kehidupan. Untuk itu, penyintas supaya mampu berdamai dengan dirinya sendiri, berpikir dan berkegiatan positif.

Secara umum masyarakat tetap tidak boleh kendor dalam menerapkan protokol kesehatan 5M mengingat belum diketahui kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Program KKN-PPM dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta seyogyanya dapat bergandengan tangan, saling bersinergi untuk menyukseskan program sapa aruh Kota Yogyakarta.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *