Jogjakeren.com – Sebagai peninggalan bersejarah, filosofi Candi Prambanan mengartikan makna Trimurti, tiga dewa tertinggi dalam agama Hindu. Candi Prambanan merupakan salah satu candi terbesar di Indonesia, dengan kondisi bangunannya yang sebagian besar masih dalam kondisi yang kokoh.
Selain itu, bangunan megah nan bersejarah ini lokasinya juga tidak terlalu jauh dengan pusat Kota Yogyakarta. Bahkan, bisa dikatakan candi ini terletak di pusat keramaian di Kabupaten Sleman, tepat berada di jalur Jalan Yogyakarta-Solo.
Oleh karena itu, kawasan wisata bersejarah ini selalu ramai oleh pengunjung. Di samping lokasinya yang begitu strategis, keindahan yang tersuguh di kawasan Candi Prambanan siap memukau setiap mata yang memandang.

Candi Prambanan Terletak di Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman
Kawasan Candi Prambanan terletak di Jalan Raya Yogyakarta – Solo No. 16, Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari pusat Kota Jogja, pengunjung hanya perlu mengendarai kendaraan selama kurang lebih 30 menit saja.
Selain itu, kawasan candi ini juga berjarak tidak terlalu jauh dengan sejumlah candi lain yang ada di Yogyakarta. Termasuk Candi Kalasan, Candi Sambisari, Candi Lumbung dan Candi Bubrah.
Sejarah Candi Prambanan Yogyakarta

Dilansir dari Pemerintah Kapanewon Prambanan, Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang dijelaskan dalam prasasti Siwagrha dibangun sejak pertengahan abad ke-9. Menurut prasasti tersebut juga, candi ini dibangun oleh raja dari Wangsa Sanjaya, Raja Balitung Maha Sambu.
Bangunan-bangunan candi digunakan sebagai tempat memuja dewa-dewa Hindu. Penyimpanan abu jenazah para raja dan juga pemujaan roh juga dilakukan di kawasan candi ini.
Awal mula ditemukannya bangunan candi ini adalah pada tahun 1733 oleh CA. Lons, seorang arkeolog asal Belanda. Sebelumnya, masyarakat sebenarnya telah mengetahui keberadaan reruntuhan candi ini, namun belum ada perhatian dari pemerintah pada masa itu.
Selanjutnya dilakukan upaya penelitian oleh sejumlah arkeolog, serta penggalian dan pembongkaran yang masih asal-asalan. Bahkan reruntuhan candi juga digunakan oleh masyarakat untuk bahan bangunan.
Akhirnya pada tahun 1930-an, dilakukan pemugaran oleh sejumlah arkeolog luar negeri yang serius sesuai dengan kaidah arkeologi. Baru pada tahun 1942 renovasi dan restorasi diserahkan kepada putra Indonesia. Pada tahun 1953 kawasan Candi Prambanan diresmikan oleh Presiden Ir. Soekarno.
Pada tahun 1991, Candi Prambanan dimasukkan dalam Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Sampai dengan saat ini, bangunan candi terus dilakukan penjagaan dan perawatan agar tetap berdiri kokoh, sebagai bangunan bersejarah yang diakui dunia.
Filosofi Candi Prambanan dengan Tiga Candi Utamanya

Aslinya, bangunan Candi Prambanan memiliki 240 candi dengan pintu masuk kompleks yang terdapat di empat penjuru mata angin. Namun, bagian pintu masuk utama adalah pada gerbang timur.
Saat ini, hanya terdapat 18 candi yang berhasil direstorasi. 18 candi ini terdiri dari 8 candi utama, 8 candi kecil, dan 2 candi perwira. Adapun sisanya hanya berupa reruntuhan bebatuan candi yang tidak dilakukan restorasi.
Kompleks Candi Prambanan berbentuk persegi panjang, yang terdiri dari halaman luar, serta tiga pelataran. Pelataran tersebut adalah pelataran luar, pelataran tengah, serta pelataran dalam.
Di kawasan candi ini, terdapat tiga bangunan candi utama yang dinamai dengan Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu. Candi Siwa merupakan candi yang ada di tengah dan candi yang paling besar.
Sebelah utara Candi Siwa terdapat Candi Wisnu, sementara di sebelah selatan Candi Siwa terdapat Candi Brahma. Ketiga candi utama ini dipersembahkan untuk memuja tiga dewa utama di agama Hindu.
Fiolosofi Candi Prambanan ini juga dapat dipahami melalui arca-arca yang terdapat di dalam candi utama. Berbagai relief yang ada di kawasan candi ini juga menjelaskan berbagai hal terkait dengan dewa-dewa di agama Hindu serta cerita-cerita tentang Ramayana dan Krishnayana.





