Tarakan, Jogjakeren.com – Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari program yang megah atau serba kompleks. Di tengah dinamika aktivitas sehari-hari warga Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, berbagai tantangan lingkungan pesisir dapat menjadi titik awal untuk membangun kesadaran kolektif sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi perhatian utama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui rangkaian program kerja berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG) yang menyasar pada perbaikan infrastruktur sanitasi pemukiman pesisir.
Karakteristik Kelurahan Karangrejo sebagai kawasan pesisir dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi memiliki keunikan sekaligus tantangan tersendiri. Berada di area pasang surut air laut dengan kondisi muka air tanah yang sangat dangkal, masyarakat setempat menghadapi kendala teknis dalam penyediaan sarana sanitasi dasar yang layak.
Tangki septik konvensional berbahan pasangan batu bata maupun beton sulit diterapkan karena tidak kedap air, rentan mengalami kebocoran saat air laut pasang, dan membutuhkan area penggalian tanah yang cukup luas. Akibatnya, limbah cair rumah tangga (black water) berpotensi mencemari lingkungan perairan pesisir dan berdampak pada kesehatan lingkungan jangka panjang.

Berangkat dari kondisi faktual tersebut, Tim KKN-PPM UGM berupaya menghadirkan program yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna. Melalui integrasi antara pemahaman akademis bidang Teknik Sipil dan Lingkungan serta kearifan lokal masyarakat, mahasiswa merancang dan merakit instalasi pengolah limbah domestik yang dikenal sebagai Tripikon-S (Tangki Septik Pipa Konsentris). Program ini diarahkan khusus di kawasan RT 15 Kelurahan Karangrejo sebagai percontohan sanitasi pesisir yang ekonomis, efisien, dan ramah lingkungan.
Menjawab Tantangan Sanitasi Pesisir melalui Teknologi Tripikon-S
Salah satu langkah awal dalam mendorong perbaikan lingkungan pemukiman pesisir dilakukan melalui pengenalan teknologi sanitasi tepat guna. Tripikon-S merupakan inovasi teknologi pengolahan limbah cair domestik yang dikembangkan di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) FT UGM.
Teknologi ini secara khusus dirancang untuk mengatasi permasalahan sanitasi di lokasi-lokasi dengan keterbatasan lahan, kondisi muka air tanah dangkal, daerah pasang surut, serta kawasan rawa yang sulit dijangkau oleh sistem sanitasi konvensional.
Secara prinsip teknis, Tripikon-S bekerja mirip dengan tangki septik konvensional melalui kombinasi proses fisik pengendapan dan penguraian biologis secara anaerobik. Keunggulan utamanya terletak pada bentuk strukturnya yang memanfaatkan tiga pipa PVC dengan diameter berbeda yang disusun secara konsentris.
Pipa dalam (diameter 3 inch) berfungsi sebagai saluran masuk limbah dari toilet, pipa tengah (diameter 6 inch) menjadi ruang utama penguraian anaerobik, sedangkan pipa luar (diameter 10 inch) berperan sebagai ruang peluapan dan pengendapan lanjutan. Konfigurasi ini menjadikan Tripikon-S sangat ringkas, kedap air, serta fleksibel untuk dipasang di atas permukaan tanah maupun setengah terbenam.

Rincian Komponen dan Spesifikasi Teknis Tripikon-S:
● Reaktor Utama (Pipa Konsentris): Menggunakan kombinasi pipa PVC AW diameter 10 inch (luar), 6 inch (tengah), dan 3 inch (dalam) yang tersambung kedap air untuk mencegah kebocoran akibat tekanan pasang laut.
● Unit Up-Flow Filter Lanjutan: Efluen buangan dari Tripikon-S dialirkan menuju tabung filtrasi vertikal berdiameter 4 inch yang berisi susunan media ijuk (20 cm) dan kerikil diameter 3 cm (15 cm) untuk menyaring sisa-sisa kotoran sebelum mencapai saluran akhir.
● Sistem Ventilasi dan Pengurasan: Dilengkapi pipa udara (hawa) PVC 1,5 inch untuk melepaskan gas hasil penguraian serta pipa pengurasan khusus 3/4 inch sepanjang 1,7 meter yang mempermudah proses pemeliharaan berkala.
Perakitan Mandiri dan Briefing Teknis Pemasangan bersama Warga RT 15
Tahapan pelaksanaan program kerja tidak hanya berfokus pada perakitan fisik unit reaktor di posko KKN, tetapi juga dilanjutkan dengan kegiatan briefing teknis dan edukasi lapangan bersama warga setempat. Tim KKN-PPM UGM mengundang Ketua RT 15 beserta perwakilan warga Karangrejo untuk mengikuti pemaparan materi serta diskusi interaktif mengenai tata cara pemasangan, kriteria lokasi yang ideal, dan perawatan rutin sistem Tripikon-S.
Dalam sesi briefing teknis tersebut, mahasiswa menjelaskan langkah-langkah detail yang perlu diperhatikan saat melakukan instalasi di kawasan pesisir. Beberapa poin krusial yang disampaikan meliputi: menjaga kemiringan pipa penyalur dari jamban minimal 2 persen, memastikan seluruh sambungan pipa dilapis perekat PVC secara kedap air, menentukan posisi pipa hawa minimal 25 cm di atas permukaan tanah, serta mengatur jarak aman instalasi dari sumber air bersih.
Selain itu, warga juga dibekali dengan pemahaman mengenai pentingnya pemeliharaan rutin, seperti pembersihan media filter (backwash) secara berkala dan jadwal pengurasan lumpur endapan setiap satu tahun sekali.
“Melalui perakitan dan briefing teknis ini, kami ingin memastikan warga memahami prinsip kerja TripikonS secara menyeluruh, mulai dari proses pengolahan hingga cara perawatan rutinnya. Harapannya, teknologi tepat guna yang ramah lingkungan ini dapat dipasang dengan tepat dan nantinya direplikasi secara mandiri oleh masyarakat sekitar,” terang Akmal sebagai perwakilan Tim KKN-PPM UGM Karangrejo.
Membangun Keberlanjutan Lingkungan Pesisir Karangrejo
Bagi mahasiswa KKN-PPM UGM, rangkaian kegiatan perakitan dan briefing teknis Tripikon-S di Kelurahan Karangrejo, Tarakan Barat menjadi ruang nyata untuk menerapkan keilmuan Teknik Sipil ke dalam kondisi riil masyarakat pesisir. Interaksi langsung dengan warga memberikan pengalaman berharga dalam memahami berbagai tantangan geografis serta kebutuhan nyata masyarakat kawasan pesisir.
Sementara itu, bagi masyarakat Karangrejo, hadirnya edukasi dan inovasi teknologi tepat guna ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Dengan tersedianya solusi sanitasi yang tepat untuk wilayah pasang surut, kualitas lingkungan pemukiman pesisir di Kota Tarakan diharapkan dapat terus meningkat, menciptakan pemukiman yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan meskipun masa kegiatan KKN-PPM telah berakhir.





