Gugus Depan Ramah Lingkungan Didorong Jadi Laboratorium Solusi Ekologi Pramuka

Gugus Depan Ramah Lingkungan
Andalan Daerah (Andu) Lingkungan Hidup Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY), Agustinus Ruruh Haryata, dalam Bimbingan Teknis Gugus Depan Ramah Lingkungan 2026.

Yogyakarta, Jogjakeren.com – Gugus depan didorong tidak hanya menjadi tempat peserta didik belajar kepramukaan, tetapi juga menjadi ruang praktik untuk menemukan solusi sederhana terhadap persoalan lingkungan. Konsep tersebut menjadi salah satu gagasan yang disampaikan Andalan Daerah (Andu) Lingkungan Hidup Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY), Agustinus Ruruh Haryata, dalam Bimbingan Teknis Gugus Depan Ramah Lingkungan 2026.

Bimtek tersebut digelar Kwarda DIY di Aula Sekretariat Kwarda DIY, Kompleks Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna, Babarsari, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan diikuti unsur pembina Pramuka dan Andalan Cabang urusan lingkungan hidup untuk memperkuat penerapan program Gugus Depan Ramah Lingkungan di satuan pendidikan kepramukaan.

Ruruh mengatakan persoalan lingkungan seharusnya tidak selalu direspons dengan program besar yang membutuhkan biaya tinggi. Menurutnya, gugus depan dapat memulai dari praktik sederhana yang dekat dengan kehidupan peserta didik, kemudian menjadikannya kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Read More

“Hal-hal yang kita terapkan harus praktis, mudah kita terapkan, dan merupakan bagian dari keseharian kita. Tidak perlu hal-hal yang mahal, tetapi memanfaatkan sumber daya yang ada,” ujar Ruruh.

Ia mencontohkan pemanfaatan botol bekas sebagai media tanam hingga budidaya ikan dalam ember. Praktik sederhana tersebut, menurutnya, dapat menjadi sarana pendidikan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan lingkungan.

Pendekatan tersebut penting karena persoalan lingkungan di DIY semakin beragam. Selain kerusakan dan pencemaran lingkungan, masyarakat menghadapi persoalan sampah serta berbagai ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, erupsi Gunung Merapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Ruruh yang juga Kepala Pelaksana BPBD DIY tersebut menilai pendidikan lingkungan perlu diarahkan agar peserta didik memahami hubungan antara perilaku sehari-hari dengan risiko lingkungan. Dengan begitu, kepedulian tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kemampuan mengambil tindakan.

“Lingkungan hidup ini merupakan faktor utama keberlanjutan kehidupan manusia. Pengelolaan lingkungan hidup yang tepat akan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang,” katanya.

Menurut Ruruh, Gugus Depan Ramah Lingkungan dapat menjadi ruang untuk mengintegrasikan berbagai materi praktis, seperti pengelolaan sampah dengan prinsip 3R, penghematan dan konservasi air, efisiensi energi, konsumsi ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon, pola hidup sehat, serta pelestarian keanekaragaman hayati.

Gugus Depan Ramah Lingkungan
Bimtek Gugus Depan Ramah Lingkungan 2026 diikuti unsur pembina Pramuka dan Andalan Cabang urusan lingkungan hidup untuk memperkuat penerapan program Gugus Depan Ramah Lingkungan di satuan pendidikan kepramukaan.

Ia menekankan, program tersebut juga tidak dapat berjalan sendiri. Gugus depan perlu membangun kemitraan dengan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, maupun lembaga pendidikan agar praktik baik yang dilakukan dapat berkembang di luar lingkungan Pramuka.

“Lingkungan hidup ini harus kita jaga, tetapi didasarkan pada kearifan lokal di lokasi masing-masing. Ini yang ke depan harus kita kembangkan lebih jauh,” ujarnya.

Ruruh juga mengajak peserta belajar dari berbagai inisiatif masyarakat yang telah mengembangkan konservasi berbasis komunitas. Di antaranya perlindungan burung melalui kelompok masyarakat, penanaman bambu untuk mengurangi risiko longsor, serta penanaman tanaman buah di kawasan habitat satwa.

Menurutnya, berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dimulai dari persoalan yang ada di sekitar masyarakat. Pramuka kemudian dapat mengambil peran dengan menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Untuk menjaga keberlanjutan, Ruruh menyebut Gugus Depan Ramah Lingkungan perlu memiliki kebijakan internal, komitmen dan aturan, kemitraan serta partisipasi, sarana prasarana, serta dokumentasi dan komunikasi. Unsur tersebut perlu diterjemahkan ke dalam visi-misi, rencana kegiatan, dukungan anggaran, aturan pendukung, dan peningkatan kapasitas pembina maupun anggota.

Dalam Bimtek Gudep Ramling 2026, peserta juga mendapatkan panduan program dan petunjuk teknis penerapan Gugus Depan Ramah Lingkungan. Mereka mengikuti Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas penguatan program, sinergi dengan Adiwiyata, serta penyusunan rencana tindak lanjut.

Ruruh berharap Gugus Depan Ramah Lingkungan nantinya tidak sekadar menghasilkan kegiatan seremonial. Menurutnya, keberhasilan program justru dapat dilihat dari perubahan perilaku anggota dan munculnya praktik lingkungan yang terus dilakukan meski tanpa dorongan dari luar.

“Yang paling penting adalah bagaimana kebiasaan ramah lingkungan itu terinternalisasi dalam kehidupan kita. Kalau sudah menjadi kebiasaan, gugus depan tidak hanya mengajarkan lingkungan, tetapi ikut membangun budaya masyarakat,” ujarnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *