Media Sosial Bisa Menyebabkan FoMO

  • Whatsapp
Media Sosial
Ilustrasi (Foto: today.line.me)

Jogjakeren – Apakah kamu sering scrolling media sosial? Apakah kamu sering mengecek smartphone-mu? Apakah kamu merasa tertinggal jika tidak mengikuti trend? Apakah smartphone-mu sering di dekatmu, bahkan sebelum tidur? Kalau iya, waspadalah! Bisa jadi kamu terkena sindrom FoMO (Fear of Missing Out).

Apa itu FoMO?

Banyak orang yang tidak menyadari jika dirinya mengidap gangguan mental ini. Masih banyak orang yang menganggap sindrom ini sebagai angin lalu. FoMO diartikan kondisi seseorang yang khawatir secara berlebihan karena merasa akan tertinggal informasi yang sedang berjalan. Sebagian masyarakat mengkaitkan FoMO dengan self-esteem dan rasa insecure yang muncul melalui media sosial.

Bacaan Lainnya

Pengidap gangguan ini seakan gatal jika tidak “meng-update” dirinya dengan trend terbaru. Sindrom tersebut muncul akibat penggunaan media sosial yang terlalu berlebihan. Sehingga, jika sehari saja pengidap tidak membuka media sosial, mereka akan merasa ada yang belum lengkap di kehidupannya.

Lantas, bagaimana FoMO ini muncul?

Sobat pasti penasaran, mengapa sindrom ini bisa muncul di generasi sekarang? Bahkan, mengapa banyak orang yang tidak menyadari dirinya pengidap FoMO? Yuk simak bagaimana FoMO dapat muncul.

  1. Generasi digital “always connected

Setiap hari dan hampir setiap waktu, kita memegang smartphone. Segala hal dapat dengan mudah terhubung dengan smartphone. Banyak informasi-informasi yang beredar di media sosial. Bahkan untuk mengetahui kejadian-kejadian di luar negeri bisa diketahui hanya hitungan menit. Namun, otak memiliki kapasitas dalam menerima informasi. Sobat tetap pilih informasi mana yang sobat butuhkan.

  1. Kebutuhan dasar: self-determination

Hak setiap orang untuk secara bebas menentukan kehendaknya sendiri. Setiap orang bebas mengejar kemajuan di bidang ekonomi, sosial, serta budaya. Kepentingan akan menentukan nasib sendiri, oleh sebab itu terletak pada adanya kebebasan dalam membuat pilihan.

  1. Dinamika usia dewasa awal

Rentang usia ini berkisar antara 18 tahun hingga 25 tahun, masa ini ditandai oleh kegiatan bersifat eksperimen dan eksplorasi. Transisi dari masa remaja menuju masa  dewasa diwarnai dengan peruhan yang berkesinambungan. Masa dewasa awal adalah masa pencarian, penemuan, pemantapan dan masa reproduktif.

Hal ini menjelaskan juga mengapa rata-rata usia remaja hingga dewasa awal rawan mengalami FoMO. FoMO dapat mengakibatkan seseorang mudah stres, tidak berdaya, sulit fokus, mudah lelah, dan bisa menimbulkan keluhan fisik.

Bagaimana solusinya?

Gaya hidup FoMO yang menuntut seseorang untuk terus terkoneksi dengan dunia digital membuat orang sulit untuk menikmati apa yang sedang dijalaninya saat itu juga. Namun, gaya hidup JoMO (Joy of Missing Out) dianggap mampu membantu seseorang untuk keluar dari kecenderungan FoMO. Gaya hidup JoMO mengajak seseorang untuk lebih menikmati hidup dengan lebih lambat, berfokus pada kehidupan saat ini, dan membangun relasi yang hangat dengan orang-orang di sekitar.

Berikut ini beberapa sikap gaya hidup JoMO (Joy of Missing Out).

Memiliki pengalaman solitude

Marano (2018) mengartikan solitude sebagai keadaan sendirian tanpa ada rasa kesepian. Keadaan ini dapat membawa pada suatu tahap yang menimbulkan suatu kesadaran diri. Solitude berbeda dengan Loneliness. Solitude merupakan suatu tindakan menyendiri yang diambil secara sadar dan melibatkan keterlibatan yang positif dan konstruktif dengan diri sendiri.

Memutuskan koneksi dengan media sosial ketika sedang bersama teman teman dan atau keluarga

Memutuskan untuk melepaskan koneksi dengan media sosial pada saat sedang bersama orang di sekeliling membuat kontak sosial menjadi lebih hangat. Dimana hubungan antara satu orang atau lebih terjadi melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *