Menanamkan Nilai Karakter Religius di Masa Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Karakter Religius
Ilustrasi pendidikan karakter religius (Foto: psikologiup45.com)

Jogjakeren – Karakter merupakan nilai-nilai yang unik- yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010). Penanaman nilai karakter dapat ditanamkan oleh guru di sekolah maupun oleh orang tua di rumah dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua juga guru dari segala macam perilaku. Waktu di rumah lebih banyak dari pada di sekolah. Ketika di rumah, guru adalah orang tua juga. Orang tua sebagai ‘role model’ bagi anak.

Pada publikasi Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional yang berjudul Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011) menyatakan bahwa pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleren, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Bacaan Lainnya

Di dalam publikasi Pusat Kurikulum tersebut dinyatakan pula bahwa pendidikan karakter berfungsi (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur; (3) meningkatkan peradapan bangsa yang kompetetif dalam pergaulan dunia. Salah satu di antara nilai karakter yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional yaitu karakter religius.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, pelaksanaan pendidikan seakan-akan sentral ada di rumah. Guru banyak bekerja di rumah melalui daring, rapat-rapat juga melalui zoom. Bagi orang tua yang tidak bekerja dinas, banyak waktu bersama anak di rumah. Pada saat ini kesempatan orang tua menanamkan karakter terutama karakter religius pada anak. Religius merupakan nilai karakter yang erat kaitannya dengan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karakter religius berupa sikap mencerminkan patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dipercayai dan dianut, menghargai pelaksanaan ibadah dengan orang yang beragama lain agar terciptanya hidup rukun (Ikhwan, 2019).

Manusia mempunyai kewajiban beribadah pada Tuhan Yang Maha Esa. Orang tua tidak hanya menyuruh anak untuk ibadah. Orang tua tidak hanya marah-marah jika anak tidak mau ibadah. Namun orang tua harus memberi contoh cara beribadah. Saat waktu tiba, orang tua mengajak anak ibadah bersama. Kesadaran beribadah bagi anak masih berada pada tahap meniru. Yaitu meniru orang tua. Maka anak dibiasakan bangun pagi, tertib waktu.

Bagi orang tua yang beragama selain Islam, juga dapat mengenalkan anak ke tempat ibadah dan mengenalkan cara-cara ibadah. Ini merupakan pahala besar bagi orang tua karena membiasakan anaknya ingat pada Sang Pencipta. Perbuatan menanamkan karakter  religius juga termasuk melestarikan agama, ini termasuk amal jariyah bagi orang tua.

Karakter Religius
Sarilah, S.Pd., M.Pd.

Di suatu saat, penulis meminjam buku ke rumah teman bertepatan terdengar suara adzan ashar. Kebetulan teman mempunyai anak usia 5 tahun. Setelah ada adzan, anak tersebut bergegas ke masjid. Kemudian penulis bertanya kepada orang tua anak tersebut, “Bu, mengapa anak ibu tanpa disuruh langsung pamit ke masjid,” tanyanya. “Anak saya sejak dapat berjalan saya biasakan diajak ke masjid,” jawab sang Ibu. Itu artinya orang tua sangat berperan di dalam menanamkan karakter religius pada anak sejak kecil.

Pada masa pandemi virus corona ini, orang tua sangat perlu menanamkan kepada anak bahwa adanya pandemi ini merupakan ujian, peringatan dari Allah. Orang tua mengajak pada anak agar menertibkan ibadah, menjauhi larangan agama. Orang tua memberi pengertian kepada anak bahwa manusia jangan sampai meninggalkan ibadah yang sudah diperintahkan agama, agar tidak disiksa Allah baik di dunia maupun di akherat.

Orang tua menjelaskan juga kepada anak bahwa amalan yang akan dibawa untuk bekal mati nanti itu mencari sendiri, maka harus melaksanakan ibadah dengan baik. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, orang tua memberi pengertian kepada anak, ketika ada orang opname di rumah sakit karena terkena covid-19 tidak boleh ditunggu saudara, keluarga, itu artinya hanya Allah yang dapat dimintai pertolongan. Maka harus taat pada perintah-Nya agar selalu ditolong.

Apabila pasien yang terkena covid tersebut meninggal, langsung dibawa ke kuburan oleh petugas, saudara dan tetangga tidak ada yang berani mendekat. Dengan kejadian tersebut, anak diberi pengertian bahwa itu bukti saudara dan keluarga tidak dapat memberi bekal apa-apa. Anak diajak bersyukur, bahwa Allah masih memberi kesehatan, umur panjang. Maka nikmat umur dan sehat digunakan untuk menertibkan ibadah, lebih berbakti dan patuh kepada kedua orang tua, dan jika di sekolah menurut perintah guru.

Melalui penanaman karakter religius di masa pandemi Covid-19 ini, dengan harapan anak dapat memiliki pribadi yang memiliki kecerdasan emosional dan cara bersikap terhadap nilai-nilai agama di dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi warga negara yang berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.

 

Penulis
Sarilah, S.Pd., M.Pd.
SDN Dengok Semanu

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *