jogjakeren.com – Manusia telah dianugerahkan rasa cinta dalam hatinya. Lalu, apa yang dimaksud dengan cinta? Setiap orang mempunyai definisi yang berbeda-beda tentang cinta, tergantung dari kondisi yang dialami. Ada yang mengatakan cinta adalah rasa kasih sayang. Tapi tak jarang juga yang merasakan luka karena cinta.
Luka karena cinta terjadi karena pengharapan kepada manusia yang terlalu besar. “Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya” (Imam Syafi’i).
Allah telah berfirman:
“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (Qs. Asy Syarh :8)
Terlalu menggantungkan harapan kepada manusia, padahal ada Allah sebaik-baiknya tempat berharap. Manusia memang tempatnya lupa. Lupa bahwa yang menghadirkan rasa cinta adalah Allah. Maka Allah pun bisa dengan mudahnya menghilangkan rasa cinta tersebut.
Jatuh cinta memang tidak salah, tapi akan salah ketika hati tidak mampu mengontrolnya. Pada akhirnya, ketika hati tidak mampu mengendalikan, maka cinta tersebut akan mengarah pada jalan kemaksiatan.
Dalam pandangan Islam, cinta yang diridai oleh Allah adalah ketika dua insan saling kasih sayang dalam ikatan yang halal yaitu pernikahan. Hubungan yang dijalani tanpa ikatan pernikahan tidak akan memberikan manfaat dan hanya menimbulkan dosa.
Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Qs. Al-Isra’ :32)
Allah menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan. Termasuk perihal jodoh, setiap manusia sudah mempunyai pasangannya masing-masing yang sudah tertulis di lauhil mahfudz. Maka dari itu, sebagai manusia tidak perlu risau perihal jodohnya. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas diri, karena jodoh merupakan cerminan diri.
Sesuai dengan firman Allah “Perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula)” (Qs. Annur : 26)
Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha
Seperti halnya kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha. Ketika Zulaikha mengejar cintanya Yusuf, Allah palingkan Yusuf darinya. Akan tetapi, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf padanya.
Kisah ini memberi gambaran bahwa cinta Zulaikha adalah cinta yang didasari hawa nafsu. Dengan segala upadayanya, ia berusaha memenangkan hati Yusuf walaupun dengan cara yang bertentangan dengan aturan agama. Cinta yang seperti inilah cinta yang tidak diridai oleh Allah, akhirnya Allah pun menjauhkan Yusuf darinya.
Sebaliknya, jika memasrahkan diri kepada Allah, taat dengan segala aturan-Nya, maka bukanlah hal yang sulit bagi Allah untuk memudahkan perihal urusan hamba-Nya termasuk jodoh sekalipun.
Pada hakikatnya, takdir setiap makhluk sudah ditetapkan oleh Allah semenjak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Tugas manusia hanyalah mempercayai akan takdir-Nya dan senantiasa menjaga diri untuk selalu taat dalam keimanan. Karena iman lah yang mampu mengontrol hati agar tidak terperosok dalam jurang cinta yang salah.






1 comment