Menilik Potensi Pengelolaan Sampah di Balik Gerakan Zero Waste

Hari Peduli Sampah Nasional
Pengelolaan sampah organik dengan larva lalat BSF (Sumber: Mongabay.co.id)

Jogjakeren.comSobat Jogker, tau kah kamu kalau setiap tanggal 21 Februari diperingati Hari Peduli Sampah Nasional? Saat ini, mulai bermunculan gerakan-gerakan untuk mengurangi volume buangan sampah baik di tingkat lokal maupun nasional, salah satunya Gerakan Zero Waste.

Gerakan Zero Waste merupakan gaya hidup minim sampah yang saat ini populer dan terus dikampanyekan melalui media sosial. Hal ini menandakan bahwa permasalahan sampah masih perlu mendapat perhatian dari semua lapisan masyarakat. Di Indonesia, pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022 menyebut bahwa 132 kabupaten/kota se-Indonesia menghasilkan lebih dari 16 juta ton sampah. Dari jumlah tersebut, 51,28% di antaranya belum mendapat penanganan, 23,6% tidak terkelola, dan pengurangan sampah baru mencapai 27,68%.

Permasalahan sampah merupakan multiplier effect dari minimnya kesadaran masyarakat. Hingga saat ini, sebagian besar sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga tidak diolah dan dibuang begitu saja. Kondisi ini tak ayal menimbulkan berbagai permasalahan. Dampak yang mungkin timbul, di antaranya menjadi sumber bau tidak sedap, berpotensi sebagai sumber penyakit, menurunkan nilai estetika, meningkatkan kerusakan ekologis, hingga memicu bencana banjir dan tanah longsor. Maka, perlu dilakukan upaya-upaya untuk penanganan permasalahan sampah ini, termasuk Gerakan Zero Waste.

Read More

Baca juga: Memanfaatkan Sampah Plastik Jadi Media Tanam

Sampah organik dari rumah tangga mendominasi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yaitu hingga 55,6%. Oleh karenanya, pemerintah telah menyusun dan menetapkan beberapa Kebijakan Strategis Nasional (Jakstranas) tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang termuat di dalam Perpres Nomor 97 Tahun 2017. Hasilnya, berbagai upaya pengelolaan sampah organik rumah tangga mulai dilakukan, misalnya pengomposan untuk sampah lunak dan konversi termal untuk sampah padat.

Hari Peduli Sampah Nasional
Pemilahan sampah oleh Remaja LDII di Desa Margodadi, Seyegan, Sleman

Jakstranas tentang pengelolaan sampah kemudian diturunkan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Misalnya, Kota Yogyakarta yang menargetkan zero sampah anorganik di akhir tahun 2023. Setiap wilayah juga diharapkan mulai memiliki cara pengelolaan sampah organik untuk menekan biaya pengelolaannya di TPA. Kemudian, pengelolaan daur ulang sampah anorganik dengan memaksimalkan Bank-Bank Sampah. Berdasarkan laporan Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Very Tri Jatmiko, sampai dengan akhir bulan Desember 2022 sudah terbentuk 575 Bank Sampah yang tersebar di 45 Kelurahan dan 14 Kemantren.

Pengembangan Metode Konversi Limbah Organik

Metode pengelolaan sampah organik rumah tangga yang dapat diterapkan adalah pemanfaatan larva lalat Black Fly Soldier (BSF) sebagai agen dekomposer. Pemanfaatan larva lalat BSF dalam pengelolaan sampah organik merupakan pilihan solutif untuk mengatasi permasalahan timbunan sampah rumah tangga. Larva lalat BSF memiliki laju reduksi sampah organik mencapai 62,68 hingga 73,98% dengan efisiensi reduksi mencapai 55%. Pengolahan sampah organik menggunakan larva lalat BSF ini tidak memerlukan teknologi yang canggih, sehingga dapat dilakukan bahkan di skala rumah tangga. Dengan demikian, secara tidak langsung biaya pengangkutan sampah ke TPA dapat dipangkas.

Hari Peduli Sampah Nasional
Pengelolaan sampah organik dengan larva lalat BSF (Sumber: Mongabay.co.id)

Penggunaan larva lalat BSF dalam mengolah sampah organik juga dapat menghasilkan produk berdaya guna. Produk pertama yaitu maggot yang dapat digunakan sebagai pakan ikan dan unggas. Karena, maggot lalat BSF memiliki kandungan protein sekitar 42%. Produk kedua yaitu pupuk organik cair yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah dan lahan pertanian. Produk ketiga yaitu kasgot atau limbah sisa yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos dan media tanam.

Selamat Hari Peduli Sampah Nasional, Sobat Jogker.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *