Jogjakeren.com – “Kamu mau jadi apa? Pertanyaan ini harus dijawab sejak masih SMA. Kalau nunggu jadi mahasiswa, ini terlambat,” pancing Dr. Andy Bayu Nugroho, S.S., M.Hum. pada acara Gapura Kampus. Kegiatan ini diadakan secara tatap muka di Masjid Baiturrahman, Pogung Baru 15-A, Sinduadi, Mlati, pada Minggu (19/2/2023).
Andy yang juga merupakan seorang dosen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberikan analogi sederhana. “Boneka Susan saja sejak kecil sudah ditanya. Susan, Susan, besok gedhe mau jadi apa?” ujarnya. Hal ini menjadi refleksi di awal acara Gapura Kampus di tahun 2023 ini.
Menurut panitia pelaksana, acara Gapura Kampus dilaksanakan untuk memfasilitasi para siswa kelas XII maupun gap year yang akan menempuh studi di perguruan tinggi. “Tujuan umunya adalah mendorong generasi yang memiliki Tri Sukses. Secara khusus, kegiatan ini akan memberikan informasi tentang jalur masuk perguruan tinggi, prospek kerja, dan kurikulum pondok pesantren mahasiswa,” ujar Wahyu Danisworo.

Andy, lebih lanjut, memberikan penjelasan tentang berbagai jenis perguruan tinggi, meliputi sekolah tinggi kedinasan, non-kedinasan, militer, semi-militer, dan non-militer. “Saat ini, tersedia beberapa jalur untuk masuk di perguruan tinggi. Jalur prestasi, jalur ujian, dan jalur mandiri memiliki persentase daya tampung yang berbeda-beda mulai dari 20 hingga 40%,” paparnya.
Selama acara berlangsung, puluhan remaja Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di wilayah Sleman beserta orangtuanya tampak antusias mengikuti pembekalan persiapan pasca kelulusan SMA/SMK se-derajat. Andy berharap keingintahuan para peserta tidak berhenti di acara Gapura Kampus saja. Namun, remaja LDII bisa lebih banyak mencari tahu melalui website kampus dan diskusi-diskusi personal.
Baca juga: Cetak Generasi Unggul, LDII Perkuat Tri Sukses
Para remaja LDII juga dibekali terkait upaya-upaya untuk menyeimbangkan kegiatan pendidikan dan kegiatan keagamaan. Tim penyuluh dari Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Baitul Al-Hamdi Jogja mendorong remaja LDII supaya bisa memperdalam ilmu agama selama masa perkuliahan. “Usia 19 tahun merupakan fase kehidupan di mana kita menyadari tentang pentingnya ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari kita,” jelas Sabil.
Lulusan program studi Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga menjelaskan kurikulum yang diterapkan di PPM Baitul Al-Hamdi Jogja. “Di PPM, jadwal kegiatannya disusun sedemikian rupa, sehingga para santri dapat mengikuti program pondok dengan nyaman. Selain itu, tugas perkuliahan juga bisa dikerjakan dengan baik. Jadi, keduanya bisa berjalan bersamaan,” imbuhnya.
“Jalur masuk perguruan tinggi sering berubah-ubah, jadi kita butuh pendampingan. Selain itu, di acara Gapura Kampus ini, saya bisa mendapat wawasan yang lebih banyak dari pemateri,” kata Akmal Kurniawan, peserta yang juga calon mahasiswa Teknik Geologi UGM.
Senada, Dewan Penasihat LDII menjelaskan bahwa siswa kelas XII perlu didampingi sehingga tidak kebingungan. “Generus (generasi penerus) perlu didampingi. Selain itu, kita perlu memastikan bahwa mereka juga terjaga agamanya. Nantinya bisa menjadi mubaligh yang sarjana atau sarjana yang mubaligh,” tandas Dawud Muhammad Husein, salah satu Dewan Penasihat LDII Sleman.





