Jogjakeren – Keberagaman agama dan budaya di DIY menjadi konsep dasar pembangunan kebudayaan guna mendukung NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-undang Dasar 1945, dan Pancasila. Sementara nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai budaya yogyakarta, nilai-nilai kesukuan, dan nilai-nilai universal itu menjadi sebuah pondasi dari konsep dasar pembangunan kebudayaan di DIY dan nasional.
Hal itu dipaparkan Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY Cahyo Widayat, S.H., M.Si., melalui materinya “Menjaga Keberagaman Budaya DIY”. Cahyo Widayat berkesempatan menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Pra Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi DIY, Sabtu (26/6/2021). FGD dilaksanakan secara daring dan luring yang dipusatkan di aula Kantor Kemenag DIY sebagai studio utama.
Menurut Cahyo, kondisi eksisting potensi budaya di masing-masing kabupaten/kota cukup banyak, sehingga keberagaman ini harus dibina, dijaga, sebagai modal dasar untuk membangun keharmonisan.
“Jangan sampai peninggalan budaya oleh leluhur ini menjadi media untuk saling beda pendapat, sehingga pemerintah DIY menugaskan Dinas Kebudayaan untuk melaksanakan pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan,” pesannya.
Implementasi Tata Nilai Yogyakarta
Cahyo menambahkan, menjaga keberagaman agama dan budaya di DIY dilakukan melalui implementasi tata nilai yogyakarta. “Kearifan lokal menjadi dasar menjaga keberagaman, dalam mewujudkannya perlu memperhatikan Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang tata nilai budaya yogyakarta,” katanya.
Tata nilai kemasyarakatan di DIY dipahami sebagai suatu keluarga besar, adapun nilai yang terkandung adalah sih kinasihan; asih ing sesami (saling menyayangi sesama) dan rukun agawe santosa. “Sementara crah agawe bubrah ini sudah mengakar sebenarnya tapi perlu kita bangkitkan kembali menjadi sebuah semangat supaya kita selalu bersatu. Ana rembug ya dirembug, kalau ada masalah ya di musyawarahkan,” tuturnya.
Adapun nilai-nilai yang lain, kriwikan dadi grojogan (hal sepele menjadi besar), nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, diuwongke, asah asih asuh, dan rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane, sabaya mati sabaya mukti, saiyek saeka kapti, sepi ing pamring rame ing gawe, hamemayu hayuning bawana, ayom ayem.
“Nilai-nilai yang ada di DIY inilah yang perlu kita jaga dalam mewujudkan keharmonisan,” tutupnya.





