Perekonomian China Dihantam Tekanan Ganda: Perang Dagang dan Perlambatan Domestik

Perang dagang hantam ekonomi China
Perang dagang hantam ekonomi China

Jogjakeren.com – Perekonomian China, yang merupakan kekuatan terbesar kedua di dunia, menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang mengkhawatirkan pada Juli 2025. Perlambatan ini diakibatkan oleh tekanan ganda, yaitu ketidakpastian akibat perang dagang dengan Amerika Serikat dan masalah internal yang mendalam. Data dari Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan bahwa indikator-indikator ekonomi utama seperti penjualan ritel, produksi industri, dan investasi gagal memenuhi target.

 

Faktor Domestik: Kelesuan Konsumen dan Sektor Properti

Salah satu penyebab utama kelesuan ekonomi ini adalah kurangnya kepercayaan konsumen. Pertumbuhan penjualan ritel tahunan melambat drastis menjadi 3,7%, jauh di bawah perkiraan analis sebesar 4,6%. Penurunan ini, menurut para ekonom, dipicu oleh kekhawatiran masyarakat akan sektor properti.

Read More

Harga rumah baru di China terus anjlok, memperburuk sentimen konsumen. Penurunan harga sebesar 2,8% pada Juli 2025, menyusul penurunan 3,2% pada Juni, menggerus kekayaan rumah tangga yang sebagian besar tertanam di sektor properti. Ekonom ING, Lynn Song, menyatakan bahwa sulit bagi konsumen untuk berbelanja dengan percaya diri jika aset terbesar mereka terus kehilangan nilai. Hal ini mengindikasikan bahwa stimulus tambahan dari pemerintah sangat diperlukan untuk memulihkan kepercayaan.

Gangguan pada Manufaktur dan Investasi

Selain sektor properti, aktivitas manufaktur juga terganggu. Gelombang panas ekstrem, badai, dan banjir yang melanda berbagai wilayah di China menekan produktivitas. Output industri hanya tumbuh 5,7% pada Juli, angka terendah sejak November 2024.

Investasi di sektor manufaktur juga melambat, hanya naik 1,6% dalam tujuh bulan pertama 2025. Para ekonom memperingatkan bahwa ketergantungan China pada belanja pemerintah semakin tinggi, namun efek dari stimulus awal tahun mulai memudar. Menurut Xu Tianchen dari Economist Intelligence Unit, “Dampak dari upaya dukungan pemerintah yang sudah digelontorkan pada awal 2025 kini mulai berkurang.”

Perang Dagang dan Dampak Regional

Perlambatan ini terjadi di tengah perang dagang yang belum sepenuhnya mereda. Meskipun China dan AS mencapai gencatan dagang sementara, ketidakpastian kebijakan yang terus berlanjut membebani sentimen bisnis dan rumah tangga. Ekonom senior Allianz, Mohamed El-Erian, menyebut bahwa tekanan dari perang dagang hantam ekonomi China menjadi tantangan besar bagi pertumbuhan.

Dampak dari kebijakan tarif AS ini juga merambat ke negara lain, termasuk India. Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyerukan kemandirian ekonomi sebagai respons terhadap tarif yang diperkirakan akan mencapai 50% pada akhir Agustus 2025. Modi menegaskan bahwa India akan mempercepat agenda substitusi impor untuk memproduksi kebutuhan strategisnya sendiri.

Dengan tekanan domestik dan eksternal yang terus meningkat, tantangan terbesar bagi China saat ini adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan konsumen dan investor. Upaya kebijakan yang lebih efektif dan terarah dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi di tengah badai global dan domestik.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *