Yogyakarta (28/7). Bicara soal Bhinneka Tunggal Ika bukan cuma soal menghafal semboyan atau memahami keberagaman di atas kertas. Di Yogyakarta, semangat itu perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, lewat komunikasi, gotong royong, dan aksi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Ingkung Grobog, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, akademisi hingga komunitas. Para peserta berasal dari sejumlah organisasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Organisasi Kemasyarakatan (FKOK) DIY.
Di antaranya Paksikaton, Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih, Yayasan Perjuangan Wahidiyah, FKPRN KGN, LPKSM YPK RM, Trengginas MP, LIN, PW Wanita Islam DIY, Trisakti, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), Majelis Umat Kristen Indonesia, ISKA, PJBN DIY, serta LDII.
FKOK sendiri menjadi ruang komunikasi dan koordinasi bagi berbagai organisasi kemasyarakatan yang terdaftar di Bakesbangpol DIY. Forum ini tidak hanya menjadi tempat bersilaturahmi, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun sinergi antarlembaga sekaligus memperkuat peran ormas sebagai mitra pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial, persatuan, dan pembangunan di DIY.
Dengan latar belakang yang beragam, forum seperti ini menjadi penting. Sebab, menjaga kebinekaan tidak cukup dilakukan oleh satu kelompok saja. Dibutuhkan komunikasi dan kemauan untuk saling memahami di antara berbagai elemen masyarakat.
Pembahasan dalam sosialisasi tersebut tidak berhenti pada pentingnya menjaga persatuan, tetapi juga bagaimana nilai Pancasila, toleransi, komunikasi lintas kelompok, hingga kemampuan menyaring informasi bisa diterapkan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin digital.
Salah satu gagasan menarik muncul dalam sesi dialog. Atus Syahbudin, dosen Fakultas Kehutanan UGM, akademisi yang berpengalaman melakukan penelitian di kawasan hutan dengan tingkat biodiversitas tinggi. Menurutnya, konsep keberagaman yang dijumpai di alam memberikan pelajaran penting. Keberagaman yang ada di masyarakat diibaratkan seperti biodiversitas di alam. Beragam unsur bisa hidup berdampingan dan justru saling menopang.
“Di hutan kita belajar bahwa biodiversitas bukan hanya tentang flora dan fauna, tetapi juga tentang keberagaman suku, budaya, bahasa, dan kehidupan yang saling menopang. Alam mengajarkan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan apabila dirawat bersama,” ungkap Atus.
Menurutnya, menjaga kebinekaan tidak cukup hanya dengan saling memahami. Dibutuhkan ruang untuk bertemu dan bekerja bersama. Dari situlah komunikasi tumbuh, rasa percaya terbentuk, dan perbedaan tidak mudah berubah menjadi jarak.
Semangat tersebut kemudian diarahkan pada gagasan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari warga Jogja: gotong royong.
Andalan Daerah Urusan Lingkungan Hidup Kwarda DIY ini mengusulkan adanya kegiatan rutin membersihkan kawasan perempatan di DIY melalui gerakan reresik Yogyakarta atau Zero Waste. Kegiatan sederhana ini dinilai bisa menjadi ruang bertemu berbagai kelompok sekaligus memberikan dampak langsung bagi lingkungan.
“Saya mengajak kita semua melakukan aksi nyata. Bagaimana jika sebulan sekali kita bergotong royong membersihkan kawasan perempatan-perempatan di DIY melalui gerakan reresik Yogyakarta (Zero Waste) di perempatan-perempatan. Dengan bekerja bersama, kita bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat persaudaraan, komunikasi, dan semangat kebangsaan,” ujar Atus yang baru saja terpilih kembali menjadi Ketua DPW LDII DIY untuk periode kedua ini.
Gagasan tersebut terasa dekat dengan karakter masyarakat Yogyakarta yang lekat dengan budaya guyub dan gotong royong. Bersih-bersih lingkungan mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan bersama oleh orang-orang dari latar belakang yang berbeda, aktivitas tersebut bisa menjadi ruang membangun kedekatan.
Pada akhirnya, Bhinneka Tunggal Ika memang tidak cukup hanya diucapkan. Ia perlu terlihat dalam cara masyarakat berkomunikasi, bekerja bersama, menghargai perbedaan, dan saling menjaga.
Dan mungkin, menjaga Indonesia bisa dimulai dari hal yang sederhana: berkumpul, membawa alat kebersihan, lalu bersama-sama reresik Jogja.





