Yogyakarta, Jogjakeren.com – Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) memiliki peran strategis dalam membekali mahasiswa menghadapi dinamika kehidupan kampus dan perkembangan teknologi. Selain memperkuat pemahaman agama, pesantren mahasiswa dinilai perlu menjadi ruang pembentukan karakter, kesehatan, kemandirian, keterampilan, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mengatakan pola pendidikan berasrama dapat menjadi salah satu sarana membangun ketahanan generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial. Hal itu disampaikannya dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Kamis (24/9/2026).
“Ketahanan itu amanah Presiden, Pak Prabowo. Sekolah boarding dan pesantren dapat menjadi benteng dalam menghadapi kemajuan teknologi, termasuk penggunaan HP, derasnya arus informasi dan pergaulan bebas,” ujar Atus.

Dalam forum tersebut, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko, menyoroti semakin kuatnya perhatian negara terhadap pesantren. Menurutnya, kehadiran Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di Kementerian Agama menjadi bagian dari perkembangan kelembagaan pesantren di Indonesia.
“Pesantren sekarang sudah naik kelas,” kata Singgih.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi forum untuk menyerap aspirasi pengasuh pesantren mengenai kebutuhan dan pengembangan pendidikan pesantren. Sejumlah pesantren yang hadir antara lain PP Al-Furqon Bantul, PP Al-Mumtaz Gunungkidul, PP Sunan Pandanaran Sleman, PP Maidanul Qur’an Kota Yogyakarta, PP Nurul Ummah Dua Kulon Progo, serta dua pesantren di bawah naungan LDII DIY, yakni Pondok Pesantren Mahasiswa Ar Royan Baitul Hamdi Kota Yogyakarta dan Pondok Pesantren Mahasiswa Grha Cendikia Sleman.
Pengasuh PPM LDII, Ustadz Roshid Kurniawan dari PP Mahasiswa Ar Royan Baitul Hamdi dan Ustadz Endri Sulistyo dari PP Mahasiswa Grha Cendikia turut mengikuti agenda tersebut.
Membekali Mahasiswa Menghadapi Perubahan
Atus menilai perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus memiliki fondasi agama dan karakter yang kuat.
“Mahasiswa perlu dibekali ilmu, akhlak, kesehatan dan kemampuan mengambil keputusan. Perbedaan pandangan yang ditemui di luar pesantren harus dihadapi dengan ilmu dan sikap yang baik,” tuturnya.
Menurutnya, kehidupan pesantren yang mengedepankan kebersamaan juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar mengatur waktu, menjaga kebersihan, menghormati orang lain, serta membangun tanggung jawab sosial.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan kehidupan mahasiswa di Yogyakarta yang berasal dari berbagai daerah, budaya, latar belakang, pemikiran, dan gaya hidup. PPM dapat melengkapi pendidikan perguruan tinggi dengan pembinaan keagamaan dan karakter dalam kehidupan sehari-hari.
“Pesantren mahasiswa bukan hanya tempat untuk memperdalam agama. Di sana mahasiswa juga belajar hidup bersama, mandiri, bertanggung jawab, dan menghadapi persoalan kehidupan secara dewasa,” jelas Atus.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan mahasiswa dalam menghadapi berbagai isu sosial yang berkembang di lingkungan kampus dan masyarakat. Menurutnya, pembinaan perlu dilakukan melalui pendidikan, pendampingan, literasi kesehatan, serta penguatan karakter.
Kesehatan dan Lingkungan Jadi Bagian Pembinaan

Selain pembinaan keagamaan dan karakter, Atus mendorong pesantren mahasiswa memperkuat aspek kesehatan. Menurutnya, kehidupan komunal di asrama membutuhkan perhatian terhadap kebersihan kamar, sanitasi, pola hidup sehat, kesehatan kulit, kesehatan mental, hingga kesehatan reproduksi.
“Pesantren juga perlu menjadi lingkungan pendidikan yang sehat dan aman bagi mahasiswa. Pos Kesehatan Pesantren atau Poskestren dapat diperkuat untuk mendukung kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Atus juga mengaitkan pengembangan pesantren dengan kepedulian terhadap lingkungan. Ia mendorong konsep EcoPesantren diterapkan melalui pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air, efisiensi energi, pertanian, serta pengembangan sarana ramah lingkungan.
“Pesantren harus mendukung SDGs. Lingkungan hidup harus menjadi bagian dari pembinaan santri,” katanya.
Menurut Atus, penerapannya dapat disesuaikan dengan potensi wilayah. Pesantren di Gunungkidul, misalnya, dapat dikembangkan sebagai pusat pembelajaran pemanenan air hujan. Sementara pesantren di Kulon Progo dapat mengembangkan pembelajaran dan pengolahan komoditas lokal seperti kopi, pala, dan cengkeh.
Di kawasan perkotaan, PPM dapat memanfaatkan lahan terbatas untuk urban farming. Gagasan tersebut juga dapat dikembangkan melalui gerakan Pojok Hijau Masjid agar lingkungan pesantren dan masjid menjadi ruang praktik bagi mahasiswa dalam memahami isu keberlanjutan.
Dorong Pesantren Jadi Pusat Keterampilan
Atus menambahkan, pesantren mahasiswa perlu terus berkembang agar tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik dan pemahaman agama. Keterampilan praktis juga diperlukan agar mahasiswa mampu hidup mandiri dan berkontribusi di masyarakat.
“Pesantren juga harus menjadi pusat keterampilan. Mahasiswa bukan hanya belajar menjadi sarjana, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang mandiri, produktif dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai penguatan Ditjen Pesantren dapat menjadi momentum untuk memperluas peran pesantren dalam menjawab kebutuhan generasi muda. Bagi PPM, tantangan tersebut mencakup perkembangan teknologi, perubahan sosial, kesehatan, keterampilan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, pesantren mahasiswa dapat menjadi rumah kedua bagi mahasiswa untuk memperdalam agama sekaligus membangun karakter, menjaga kesehatan, mengembangkan keterampilan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Pesantren, menurut Atus, tidak harus menjadi ruang yang tertutup terhadap perubahan zaman. Sebaliknya, pesantren dapat terbuka terhadap ilmu dan kemajuan dengan tetap memiliki nilai dan karakter sebagai penyaring.
“Dengan bekal agama, ilmu, karakter, keterampilan, dan kepedulian lingkungan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi sarjana yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.





