Gunungkidul (26/9) – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong penguatan pembinaan generasi muda melalui Satuan Komunitas (Sako) Sekawan Persada Nusantara (SPN). Salah satunya melalui Kemah Santri Sako SPN DIY ke-4 yang digelar di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hadi, Gunungkidul, (25–27/9).
Sebanyak 183 santri dari sembilan pondok pesantren se-DIY mengikuti kegiatan tersebut. Selama tiga hari, peserta mengikuti berbagai aktivitas yang memadukan pendidikan kepramukaan, pembentukan karakter, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, keterampilan hidup, hingga jelajah alam.
Kegiatan dibuka melalui upacara yang menghadirkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY, Ahmad Bahiej, sebagai pembina upacara.
Hadir pula Wakil Ketua Kwarda DIY sekaligus Ketua Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kearifan Lokal, Chairul Agus Mantara. Turut mendampingi Andu Satuan Komunitas dan Gugus Darma Dwi Haryanto, Andu Penanggulangan Bencana Agung Wicaksana, serta Andu Lingkungan Hidup Atus Syahbudin, yang juga merupakan Ketua Majelis Pembimbing (Mabi) Sako SPN DIY dan Ketua DPW LDII DIY.
Kwarda DIY Dorong Sako SPN Terus Berkembang
Chairul Agus Mantara menyampaikan pesan Ketua Kwarda DIY GKR Hayu agar Sako SPN terus berkembang dan dapat menjadi inspirasi bagi komunitas kepanduan maupun organisasi pendidikan lainnya.
“Pesan beliau adalah bagaimana Sako ini bisa berkembang dan menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas yang lainnya,” kata Agus seusai upacara pembukaan.
Menurut Agus, pembinaan Sako menjadi bagian penting dalam memperluas ruang pendidikan kepramukaan di masyarakat. Melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan peserta, berbagai nilai seperti disiplin, kemandirian, kerja sama, kepemimpinan, dan kepedulian dapat dipraktikkan secara nyata.
Dukungan terhadap pengembangan Sako SPN DIY juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan. Di antaranya Kemah Besar Daerah (Kembesda), partisipasi dalam Kemah Besar Nasional (Kembesnas), penguatan organisasi, pembinaan pembina, serta kegiatan yang menghubungkan kepramukaan dengan pengabdian masyarakat dan kepedulian terhadap lingkungan.
Salah satu pengembangan tersebut terlihat dalam keterlibatan Sako SPN pada rintisan Kampung ProKlim Sangurejo, Turi, Sleman. Kegiatan ini mempertemukan gerakan kepramukaan dengan pendidikan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Dalam pembinaan tersebut, LDII turut menjadi bagian dari komunitas yang mengembangkan kegiatan Sako SPN melalui lingkungan pesantren dan pendidikan kepramukaan.

Kemah Menjadi Sekolah Kehidupan
Sementara itu, Ahmad Bahiej mengingatkan para santri bahwa perkemahan bukan sekadar kegiatan mendirikan tenda atau mengikuti berbagai perlombaan.
“Perkemahan adalah sekolah kehidupan. Di sini kita belajar disiplin, mandiri, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, kepedulian, dan ketangguhan,” ujar Ahmad Bahiej.
Menurutnya, alam dapat menjadi ruang belajar yang efektif untuk membentuk pribadi yang tangguh. Panas, hujan, kelelahan, maupun keterbatasan selama mengikuti perkemahan merupakan pengalaman yang dapat melatih mental dan kemandirian peserta.
Ia berharap berbagai nilai yang diperoleh selama perkemahan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Para santri diharapkan membawa pengalaman tersebut kembali ke lingkungan pesantren dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ahmad Bahiej juga menilai pesantren dan Gerakan Pramuka memiliki ruang strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga beriman, berakhlak, mencintai Tanah Air, mampu bekerja sama, serta siap menghadapi perubahan zaman.
Dalam amanatnya, Ahmad Bahiej menyampaikan tiga pesan kepada para peserta Kemah Santri Sako SPN DIY. Pertama, menjadi Pramuka yang berkarakter. Kedua, membangun kemampuan bekerja sama sekaligus menghargai perbedaan. Ketiga, menjadi manusia yang mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Ketua Sako SPN DIY, Sarjita, mengatakan Kemah Santri tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkuat karakter peserta.
“Kemah santri ini diisi dengan wawasan kebangsaan, jelajah alam, dan berbagai perlombaan yang melatih karakter para santri,” ujarnya.
Melalui dukungan Kwarda DIY, pembinaan Sako SPN diharapkan terus berkembang. Penguatan tersebut tidak hanya dilakukan melalui kegiatan perkemahan, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas pembina, penguatan organisasi, kegiatan sosial, kepedulian lingkungan, dan pengabdian kepada masyarakat.





