Refleksi Semangat Cinta Puspa dan Satwa di Tengah Pandemi

Puspa dan Satwa
Hari Cinta Satwa dan Puspa Nasional 2021 (sumber: Greener.co)

Jogjakeren.com – Sobat Jogker, tahukah Anda bahwa setiap tanggal 5 November diperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN)? Peringatan HCPSN ini diprakarsai oleh Presiden RI ke-2, Soeharto melalui penerbitan Keputusan Presiden No.4 Tahun 1993.

Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peringatan HCPSN bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional. Harapannya, HCPSN dapat meningkatkan kepedulian masyarakat tentang pentingnya keberadaan flora dan fauna di dalam kehidupan manusia.

Selain menentukan hari peringatan khusus, pemerintah pusat dan daerah telah membangun berbagai pusat-pusat konservasi hayati, misalnya Taman Nasional, Taman Hutan Rakyat, dan Kebun Binatang. Hal ini selaras dengan adanya Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2012 tentang Taman Keanekaragaman Hayati.

Read More

Bagaimana Potensi Keanekaragaman Hayati dan Upaya Perlindungannya?

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mempunyai ekosistem yang lengkap, mulai dari ekosistem hutan pegunungan, ekosistem hutan dataran rendah, dan vegetasi pantai, serta mangrove. Selain itu, DIY mempunyai satu kesatuan ekologis karst yang unik yaitu Geopark Gunungsewu. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati di Provinsi DIY sangat beragam, meliputi keanekaragaman ekosistem, flora dan fauna, serta sumberdaya genetik.

Beberapa instansi perguruan tinggi di Indonesia turut membangun arboretum sebagai upaya perlindungan keanekaragaman hayati. Arboretum dibangun sebagai tempat pelestarian sumber keanekaragaman hayati untuk mendukung kegiatan penelitian, area konservasi ex-situ, sarana pendidikan dan pelatihan. Selain itu, juga berfungsi sebagai sarana untuk memperkenalkan jenis-jenis pohon kepada masyarakat luas.

Contoh Tantangan di Tengah Pandemi

Dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tak ayal membuat pengunjung kebun binatang menurun drastis. Kondisi ini turut mempengaruhi operasional kebun binatang. Sedangkan, tidak bisa dipungkiri bahwa biaya operasional yang dibutuhkan tidak sedikit. Koleksi satwa liar terlindungi harus tetap dijaga kesejahteraan, kesehatan, dan pakannya. Di samping itu, ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten diperlukan untuk merawat satwa liar koleksi.

Menurut Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI), total koleksi satwa di seluruh anggota PKBSI sebanyak 4.912 jenis dan berjumlah 68.933 ekor. Berupa beragam satwa endemik yang dilindungi maupun satwa dari berbagai belahan dunia. Terdiri dari jenis karnivora, herbivora, reptilia, unggas, dan lainnya. Seluruh satwa tersebut adalah aset negara yang wajib dijaga dan dilestarikan.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Wiratno M.Sc., bahwa kondisi pandemi ini menjadi bahan refleksi semua pihak. Bahwa pengelolaan lembaga konservasi bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Diperlukan sumber daya dan kemampuan yang mumpuni untuk menjamin satwa sejahtera di luar habitat alaminya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *