Santri Berprestasi, Bukti Nyata ‘Mondok’ Tidak Menghambat Kesuksesan

Santri Berprestasi
Ulin Nuha, santri PPPM Baitussalam, Yogyakarta berhasil meraih Juara 2 Nihonggo Nouryoku Siken.

Jogjakeren.com – Asosiasi Guru Bahasa Jepang Indonesia mengadakan Olimpiade Nihonggo AGBJI 2021 secara terbuka untuk siswa SMA/SMK/SLTA sederajat di seluruh Indonesia. Total peserta olimpiade berjumlah 197 orang dengan tiga cabang perlombaan, yaitu Speech Contest, Story Telling, dan Nihonggo Nouryoku Siken.

Lomba  Nihonggo Nouryoku Siken dilaksanakan melalui zoom meeting pada tanggal 13-14 November 2021. Teknisnya simpel, peserta cukup mengerjakan soal pilihan ganda. Jika lolos dari babak penyisihan, mereka akan lanjut ke babak semifinal dan mengerjakan soal isian singkat. Adapun peserta yang lolos dari babak semifinal, akan lanjut ke babak final yang dilaksanakan pada tanggal 15 November 2021. Babak final terasa lebih menegangkan karena pada babak ini peserta akan di-interview secara langsung oleh orang Jepang asli.

Santri Berprestasi
Ulin Nuha, santri PPPM Baitussalam, Yogyakarta.

Ulin Nuha, salah satu santri PPPM Baitussalam Yogyakarta yang mewakili sekolahnya, SMAN 7 YOGYAKARTA berhasil mendapatkan juara ke-2 pada cabang perlombaan Nihonggo Nouryoku Siken. Yang menjadikan hal ini menarik perhatian adalah seorang santri yang tetap bisa mengukir prestasi.

Read More

Pada dasarnya, hakikat seorang santri adalah orang yang belajar ilmu agama. Karena memang difokuskan untuk belajar agama, namun tidak sedikit santri yang sekaligus mampu mengejar ilmu pengetahuan umum di sekolah. Sehingga, stigma tersebut bisa diubah oleh seorang Ulin Nuha. Justru dengan lebih fokus mengejar ilmu agama, ilmu pengetahuan umum lebih mudah dikuasai karena adanya pertolongan Allah.

Di pondok pesantren, santri diajarkan untuk bisa hidup disiplin, jujur, amanah, hemat, dan memiliki akhlak yang baik. Dengan bermodalkan karakter tersebut, santri bisa lebih mudah menguasai ilmu pengetahuan umum, kesuksesan dunia pun akan lebih mudah tercapai.

Begitu pula dengan apa yang sedang dijalani Ulin. Meskipun kegiatan di pondok pesantren sangat padat, Ulin memiliki cara tersendiri dalam menyisihkan waktu untuk urusan sekolahnya. Tentu saja tanpa mengganggu kegiatan di pondok pesantrennya. “Saya menyediakan waktu khusus untuk urusan sekolah, setiap hari satu jam,” jelas Ulin.

“Nah dalam satu jam itu bisa belajar macam-macam, termasuk persiapan lomba. Satu minggu, kan ada tujuh hari, ada tujuh jam berarti. Intinya konsisten belajar,” tambahnya.

‌Dari  ketekunannya dalam menjalankan kegiatan pondok inilah, urusan sekolahnya menjadi lebih mudah. Itu semua merupakan bukti nyata bahwa Allah memberi pertolongan pada orang-orang yang tekun dalam belajar agama.

Selain itu, dalam menghadapi beratnya sekolah sambil mondok, Ulin juga memiliki prinsip, yaitu berteman dengan kerasnya hidup. Hal tersebut dianggap sebagai konsekuensi karena telah mematok cita-cita yang tinggi. “Prinsip saya, saya mematok cita-cita yang tinggi, berarti saya harus sembodo, berteman dengan kerasnya dunia,” kata Ulin.

Sebenarnya, bukti nyata mondok tidak menghambat kesuksesan bukan hanya ada pada diri Ulin. Masih banyak sosok yang bisa membuktikan bahwa tekun belajar agama tidak akan menghambat kesuksesan. Justru dengan tekun belajar agama, Allah akan semakin banyak menolong. So, masih ragu untuk mondok?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment