Sehat Mental dengan Mengembangkan Coping Skill

Coping Skill
Ilustrasi coping skill (Foto: accurate.id)

Jogjakeren.com – Memiliki mental yang sehat dan bahagia merupakan dambaan bagi setiap orang bukan? Tetapi, hidup tidak mungkin berjalan mulus tanpa konflik dan rintangan. Setiap manusia pasti punya masalahnya masing-masing. Tak dapat dipungkiri jika stres tidak mungkin tidak dialami oleh setiap orang dalam menjalani kehidupan.

Seperti kita ketahui, menghadapi stres tidaklah mudah bagi sebagian orang. Stres sendiri dapat diartikan sebagai sebuah pengalaman yang dihasilkan dari adanya interaksi individu dengan lingkungannya yang menimbulkan tekanan fisiologis dan psikologis. Stres juga dapat dikatakan sebagai sebuah efek tertentu yang dirasakan individu yang disebut sebagai kondisi homeostasisnya.

Read More

Kondisi homeostasis adalah kecenderungan individu untuk mempertahankan kestabilan diri atau menjaga agar tubuhnya tetap berfungsi normal saat lingkungannya mengalami perubahan. Stres menghadirkan respon tubuh terhadap sumber dari rasa stres tersebut yang dikaitkan dengan istilah coping.

Apa itu Coping?

Lazarus dan Folkman (1984) menyebutkan bahwa coping adalah suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan. Coping selalu berkaitan dengan coping strategy, coping style dan coping skills.

Secara singkat, coping style (gaya coping) mengacu pada cara-cara yang lebih disukai seseorang untuk menggunakan sumber daya coping yang dimilikinya. Sedangkan, coping skill (keterampilan coping) digunakan dalam pelaksanaan aktual dari sumber daya coping tersebut, yaitu tindakan. Sementara itu, strategi coping adalah jenis-jenis upaya yang spesifik baik berupa perilaku maupun respon psikologis yang individu lakukan untuk menguasai, mentolerir, menghilangkan dan mengurangi kejadian ataupun pengalaman yang menyebabkan tekanan.

Dalam konsep Making the Most of Emotional Experiences Emotion-Focused Coping, Emotional Intelligence, Socioemotional Selectivity, and Emotional Storytelling, menjabarkan tentang bagaimana orang memanfaatkan pengalaman emosional mereka dalam menangani emosi positif dan negatif dengan cara yang mengarah pada hasil yang positif dengan mendiskusikan teori dan penelitian yang terkait dengan coping yang berfokus pada emosi, kecerdasan emosional, selektivitas sosioemosional, dan bercerita emosional.

Umumnya, strategi dasar coping stres sendiri dibagi menjadi dua, yaitu problem focused coping dan emotional focused coping. Problem focused coping, atau coping aktif, lebih tertuju untuk sebuah upaya di mana tiap individu dapat dengan aktif mencari jalan keluar dari masalah yang tujuannya untuk menghilangkan atau mengubah kondisi yang bisa memancing rasa stres.

Sedangkan, emotional-focused coping, atau coping pasif lebih tertuju pada sebuah strategi yang akan individu lakukan untuk bisa mengatur emosinya dengan tujuan untuk dapat menyesuaikan diri terhadap dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Dari banyaknya cara untuk mengatasi masalah, kedua cara di atas yang paling banyak digunakan untuk mengatasi berbagai masalah.

Strategi Coping

Dalam menentukan strategi, ada banyak faktor yang menjadi penentu di mana beberapa faktor di antaranya adalah seperti kepribadian seseorang dan jenis masalah yang menimbulkan stres atau sejauh mana tingkatan stres yang dialaminya. Cara lain yang biasa digunakan adalah strategi active coping dan avoidant coping. Strategi active coping merupakan sebuah respon psikologis dan perilaku yang dilakukan untuk mengubah rasa tekanan dan memikirkan hal tersebut. Sementara strategi avoidant coping lebih berarah kepada individu dengan menghindari sumber stres tersebut.

David L Tobin (2014) membedakan strategi coping yang ditunjukkan seseorang untuk mengatasi stres. Strategi ini merupakan gabungan dari strategi-strategi lain, baik berupa coping yang berfokus pada masalah maupun coping yang berfokus pada emosi. Kedua strategi tersebut yaitu engagement dan disengagement. Diketahui terdapat beberapa strategi coping dalam pola engagement.

Pertama, strategi yang dapat mengurangi sumber stres dengan mengatasi masalah (problem solving). Selanjutnya, individu mampu merubah makna pengalaman yang dirasa sangat menekan untuk bisa berubah menjadi situasi yang kurang membuatnya nyaman atau merasa terancam yang termasuk dalam strategi coping. Berikutnya adalah strategi berupa mencari dukungan emosional dari orang atau lingkungan terdekat seperti, keluarga, sahabat, dan sebagainya untuk dapat menenangkan perasaan yang tidak nyaman.

Lalu ada strategi untuk melepaskan beban emosional melalui ekspresi emosi (express emotion) yang bisa dilakukan agar merasakan rasa amarah yang tinggi kemudian melampiaskannya dengan ekspresi. Lalu terdapat strategi engagement yang dilakukan dengan menggambarkan bagaimana individu mengelola sekelilingnya untuk bisa membantunya yang sedang berada pada kondisi stres. Dengan strategi-strategi ini, seorang individu bertindak secara aktif dan masuk ke dalam situasi seolah melakukan negosiasi dengan situasi yang membuatnya stres.

Selanjutnya, terdapat strategi gabungan yang tujuannya menggambarkan bagaimana individu tidak ingin terlibat dalam situasi yang melibatkan dirinya dalam kondisi yang bisa menghadirkan stres yang biasa dikenal dengan strategi coping disengagement. Strategi yang mengarah pada sebuah pikiran untuk menghindari persoalan yang dirasa bisa menimbulkan stres menjadi strategi utama disengagement.

Ada pula sebuah strategi yang berarah agar individu merefleksikan ketidakmampuannya dalam memberikan keputusan atas persoalan yang dihadapinya. Kemudian ada coping dimana individu berpikir dengan menyalahkan diri mereka untuk sebuah kondisi yang menjeratnya. Lalu yang terakhir adalah strategi yang membuat individu mengomentari dirinya sendiri atas kondisi yang membuatnya stres.

Coping sendiri diupayakan untuk bisa mengatasi stres yang membuat kita dapat menyesuaikan diri dan tetap bisa mencapai keseimbangan. Namun, beberapa strategi coping yang kita pilih justru membuat kita terpuruk, tidak mampu mencapai keseimbangan sehingga membuat kita semakin tertekan. Oleh sebab itu, coping yang kita kembangkan seyogyanya merupakan coping yang efektif.

Strategi coping aktif baik berupa respon perilaku maupun emosi adalah strategi yang lebih efektif dalam mengatasi situasi yang penuh tekanan. Strategi coping engagement termasuk pula strategi coping aktif yang efektif. Sementara itu, strategi coping menghindar (avoidant), termasuk strategi coping disengagement dinilai dapat menjadi suatu faktor risiko yang bersifat psikologis atau melatarbelakangi respon-respon yang bersifat negatif seperti penggunaan alkohol dan obat-obatan.

Keterampilan Coping

Menurut Sydney Youngerman-Cole dan Katy E. Magee (2009), banyak persoalan kesehatan mental yang dimulai ketika stres fisik dan emosional menyebabkan perubahan kimiawi dalam otak. Oleh karena itu, keterampilan diri kita dalam coping stres sangat penting untuk terus dilatih dah dikembangkan.

Jika kita bisa mengendalikan diri untuk terbiasa menggunakan coping stres yang efektif, kita bisa lebih mudah untuk menjalankannya sebagai strategi coping sepanjang waktu. Coping strategi yang efektif dapat mendukung kesehatan mental tiap individu. Coping yang efektif dapat membawa kita ke arah dampak-dampak yang lebih positif dan memperoleh kekuatan untuk dapat meraih kebahagiaan.

Kita dapat menggunakan keterampilan coping seperti meditasi dan teknik refleksi, memberi waktu luang untuk diri sendiri, melakukan aktivitas fisik atau latihan fisik, membaca, berteman, mengembangkan dan mendengarkan humor, melakukan hobi, melakukan aktivitas spiritual (berdoa dan beribadah), memelihara hewan peliharaan, tidur yang cukup, dan memakan makanan yang bernutrisi.

Kita mungkin tidak akan pernah bisa menghindari permasalahan yang akan memunculkan stres. Namun, kita bisa mengendalikan diri untuk bisa mengatasi stres yang datang dengan keterampilan coping yang kita miliki. Meskipun keterampilam coping tidak mudah dikuasai, namun tidaklah sulit jika kita bisa terus melatih diri kita sendiri.

Kita bisa saja menjadi individu yang memiliki emosi yang tidak stabil karena tidak mampu mengendalikan diri dalam keterampilan penguasaan emosi. Akan tetapi, jika terus berlatih, kita mampu memperoleh keseimbangan fisiologis maupun emosional yang menjadi salah satu indikator sehat mental.

Bukan tidak mungkin kita terperangkap dalam masalah-masalah gangguan mental. “Di antara stimulus dan respon ada sebuah ruang. Dalam ruang tersebut merupakan kekuasaan kita untuk memilih respon. Dalam respon tersebut, terletak pertumbuhan kita dan tentu saja kebebasan kita” (Victor E.Frankl). Oleh sebab itu, mengembangkan ketrampilan strategi coping yang sesuai dengan diri kita, strategi yang efektif dan positif, akan menjadi alat yang membuat kita menjadi lebih kuat saat harus berhadapan dengan stres.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.