Silaturahmi Kebangsaan LDII-MUI: Memaafkan Mencegah Perpecahan Bangsa

  • Whatsapp
LDII MUI
Peserta luring Silaturahmi Kebangsaan DPW LDII Provinsi Jawa Tengah bertempat di ruang Guntur Hotel Grasia, Semarang, Jawa Tengah, Senin (1/6/2021).

Jogjakeren – Komunikasi organisasi antara Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah terjalin sangat harmonis. Terbukti, beberapa silaturahmi Syawal LDII-MUI dapat terlaksana secara luring.

Beberapa waktu lalu, Ketua Umum MUI DIY KH Thoha Abdurrahman menerima silaturahmi Syawal pengurus harian DPW LDII DIY. Silaturahmi dipimpin Ketua DPW LDII DIY Dr. H. Wahyudi, MS. Dalam pertemuan tersebut, keduanya berbincang akrab mengenai perkembangan Covid-19 terkini, kegiatan LDII selama Ramadan dan Syawal 1442 H serta kabar Musyawarah Nasional (Munas) LDII yang dibuka oleh Presiden RI Ir. Joko Widodo.

Bacaan Lainnya

LDII MUI
Silaturahmi Ketua DPW LDII DIY Dr. H. Wahyudi, MS., (kanan) dengan Ketua Umum MUI DIY KH Thoha Abdurrahman (kiri) berlangsung akrab.

Adapun di Jawa Tengah (Jateng), DPW LDII Jateng menyelenggarakan Silaturahmi Kebangsaan bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila di ruang Guntur Hotel Grasia, Semarang, Jawa Tengah, Senin (1/6/2021). Silaturahmi Kebangsaan mengangkat tema “Budaya Saling Memaafkan, dengan Tujuan Memperkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.

Tampak hadir Ketua MUI Jateng, KH Ahmad Darodji, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jateng Musta’in Ahmad, Ketua FKUB Jateng KH Taslim Syahlan, Binmas Polda Jateng yang diwakili Kompol, perwakilan NU dan Muhammadiyah serta Kesbangpol. Kegiatan dilaksanakan secara luring dengan protokol kesehatan ketat dan daring diikuti 35 DPD LDII se-Jawa Tengah.

Solusi Hadapi Konflik

LDII MUI
DPW LDII Provinsi Jawa Tengah menggelar Silaturahmi Kebangsaan secara luring dan daring, Senin (1/6/2021).

Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Prof. DR. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam menghadapi konflik yang mengarah pada divided nation yakni dengan saling memaafkan.

“Salah satu inti yang bisa dijadikan formula adalah sikap saling memaafkan yang perlu menjadi budaya. Semua bibit perpecahan atau kekerasan dapat dicegah dan diselesaikan,” kata Singgih.

Karena itu Singgih berharap, melalui acara ini dapat mempererat tali persaudaraan. “Dengan memaafkan, perpecahan dapat dihindari,” tegasnya.

Singgih juga mendorong warga LDII melaksanakan moderasi beragama. Sesuai dengan arahan dari Kementerian Agama dan MUI untuk melakukan moderasi beragama, serta terus silaturrahmi dan konsultasi dengan jajaran pemerintah.

Wujud dari upaya ukhuwah islamiyah dan wathoniyah, kata Singgih, LDII terus mengundang para stakeholder pemerintah, MUI, atau ormas Islam yang lain. “Silaturrahmi adalah salah satu pondasi persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Singgih.

Ia juga menyampaikan mengenai 8 klaster program yang utamanya adalah klaster kebangsaan yang bertujuan menciptakan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda. Lalu juga klaster dakwah yang menargetkan tri sukses generasi penerus, yakni generasi yang alim-faqih, berakhlak mulia, dan mandiri.

Budaya Memaafkan Ciri Khas Bangsa Indonesia

Sementara itu KH Ahmad Daroji mengapresiasi budaya memaafkan yang menjadi tema utama acara ini. “Budaya minta maaf ini betul, Prof (Singgih), karena setelahnya akan timbul ikhlas antar sesama,” katanya.

KH Ahmad Daroji menambahkan, budaya memaafkan ini merupakan ciri khas bangsa Indonesia dan Islam yang dikembangkan adalah Islam Nusantara. “Islam sejatinya mengajarkan hidup selaras, serasi, dan seimbang. Ini salah satu bentuk bagaimana hubungan manusia kepada Allah dan juga kepada sesama manusia,” jelasnya.

Senada dengan KH Ahmad Daroji, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, H. Musta’in Ahmad, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa semangat silaturrahmi dari LDII patut diapresiasi.

Kondisi masyarakat di Indonesia berbeda-beda, agar saling mengenal satu sama lain maka terus semangat bersilaturahmi. “LDII mengingatkan kembali pada nilai luhur Pancasila dengan menggelar silaturahmi kebangsaan ini. Dengan terbukanya arus informasi, para founding fathers sudah tegas menunjukkan kebangsaan Indonesia,” kata Musta’in.

Menurutnya, perbedaan agama, suku, dalam hal ini justru bertemu melalui Pancasila. Negara yang memilih Pancasila sebagai pedoman dengan mengedepankan ilmu agama sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, ini menjadi ukuran toleransi kerukunan hidup beragama.

Pererat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Dirbinmas Polda Jateng, Kompol Hasyin Setyawan menambahkan kegiatan silaturahmi kebangsaan ini perlu dikembangkan semua ormas yang lain supaya bisa berkolaborasi. Semua ormas supaya bisa mempererat persatuan dan kesatuan bangsa sehingga tidak ada perpecahan.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan LDII ini dan untuk generasi penerus bangsa bisa meniru kegiatan LDII ini dengan merangkul semua elemen bangsa tidak hanya ormas keagamaan tapi juga kemasyarakatan untuk mempererat tali persaudaraan dan persatuan,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *