Jogjakeren – Wakil Sekretaris Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (KPEU MUI) Pusat, Dr. H. Ardito Bhinadi, S.E., M.Si. mengajak warga pengajian Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) untuk bersyukur dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT atas cobaan pandemi COVID-19. Pengajar Ekonomi dan Keuangan Syariah pada Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi UPN “Veteran” Yogyakarta juga menasehati sekitar 500 warga LDII yang hadir agar bersabar, bertawakal, dan berprasangka baik kepada Allah SWT, 12/8.
“Saat ini kita sedang dicoba pandemi COVID-19. Mari banyak mendekatkan diri, tawakal, sabar, dan berprasangka baik kepada Allah SWT. Allah SWT telah berjanji di dalam Al Qur’an bahwa sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka supaya sabar, ikhlas karena Allah, (setelahnya) pasti mendapatkan kemudahan. Cobaan ini menguji pula kesungguhan dan ketakwaaan orang iman. Terhadap yang sakit, kita harus yakin dan berprasangka baik, Allah SWT akan memberikan kesembuhan. Yang sakit itu bukanlah aib, itu wujud cintanya Allah SWT. Bagi yang dicoba meninggal dunia, keluarganya agar bersabar karena Allah SWT mencintainya. Yang meninggal disaksikan sebagai syuhada. Seharusnya orang iman iri karena dia mati syahid sebagai syuhada, mendapatkan pahala besar,” jelas H. Ardito.
Pengajian ini diselenggarakan secara online oleh Pimpinan Cabang (PC) LDII Kalasan dengan diikuti oleh 154 ID zoom. Pada titik-titik pengajian yang berupa masjid atau majelis taklim, protokol kesehatan senantiasa dilakukan, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau memakai hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh sebelum memasuki majelis taklim, menjaga jarak minimal 1 meter, memakai masker dan/atau faceshield, serta membatasi peserta pengajian yang bukan anak-anak dan manula.
Rukun dan Kompak Menghadapi COVID-19
Penulis buku Ma’rufnomics (2019) dan Muamalah Syar’iyyah Hidup Barokah (2018) mengharapkan supaya cobaan pandemi COVID-19 jangan sampai menjadikan umat Islam saling curiga dan menyebabkan tidak bisa rukun dan kompak. Warga pengajian LDII diminta harus menyakini bahwa Allah yang memberikan rezeki dan penyakit. Dicontohkan, Kholid bin Walid, panglima perang pada zaman Nabi Muhammad SAW, waktu itu mengalami kematian justru bukan di medan perang. Sebaliknya, agar tidak meninggal dunia, rumahnya dibuat kokoh dan berlapis-lapis, namun itu pun belum menjamin kehidupannya.
“Cobaan ini jangan membuat kita saling curiga, tidak rukun kompak. Jangan-jangan saya sakit ini gara-gara si fulan. Itu bukan begitu, karena sakit itu Allah yang memberikan. Tidak ada yang mencelakakan, membuat sakit, membuat musibah seorangpun kecuali atas ijinnya Allah. Kita tidak boleh ketakutan yang berlebihan. Di sisi lain, kita juga tidak boleh meremehkan,” kata H. Ardito.
Terkait program pemerintah tentang protokol kesehatan, H. Ardito meminta warga LDII agar disiplin memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak dalam pertemuan-pertemuan.
“Dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah, hasilnya pahala, manfaat dunia dan akhirat. Warga LDII pun bisa selamat di masa pandemi ini,” ungkap pakar ekonomi syariah ini yang mengajar pula pada Prodi Ekonomi Syari’ah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Besarnya Pahala Bersama Besarnya Cobaan COVID-19
Akibat pandemi COVID-19, sebagian umat Islam mengalami kesulitan ekonomi. Guna menyikapinya H. Ardito sebagai pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Evaluasi dan Strategi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat di DIY (2016-2017) menekankan pentingnya keyakinan bahwa Allah SWT sebagai zat pemberi rezeki.
“Allah yang membentangkan rezeki. Kita harus yakin. Jika usaha sembakonya terdampak, kita harus yakin Allah SWT akan memberikan rezeki dari jalan lainnya. Bagi yang dicoba ekonomi maka itu cobaan Allah dan wujud kecintaan Allah. Tetaplah sabar, tawakal, berprasangka baik, rukun dan kompak. Jatah rezeki kita sudah ada takarannya sampai meninggal dunia nanti,” nasehat H. Ardito atas kondisi yang mulai banyak menimpa ekonomi umat Islam.
Pada akhir pengajian, warga LDII kembali dimotivasi dan diingatkan bahwa ketika Allah SWT mencintai suatu kaum maka Dia akan memberikan ujian kepada kaum tersebut. Pahala yang diperoleh pun sebanding dengan besarnya cobaan yang ditimpakan.
“Semakin kuat keimanan seseorang, maka semakin besar ujiannya. Nabi, Rosul, para ulama diberikan ujian oleh Allah SWT dengan ujian yang sangat berat. Ketika Allah SWT mencintai suatu kaum, maka Allah SWT akan mencoba mereka. Maka barang siapa menerimanya dengan ikhlas maka Allah pun demikian. Namun barangsiapa marah-marah, benci, maka dia mendapatkan kemurkaan dari Allah SWT,” jelas H. Ardito.
Oleh karena itu, keikhlasan umat Islam dalam menerima cobaan COVID-19 sangatlah penting untuk mendapatkan ridho Allah SWT disertai sabar, tawakal, berprasangka baik dan terus mendekatkan diri kepada-Nya serta mewujudkan kerukunan dan kekompakan. Wabil khusus, berupa bantuan masker, handsanitizer, faceshield, bantuan modal ekonomi bagi warga yang terdampak agar dapat berusaha kembali.





