Yuk! Intip Proses Pembuatan Kerajinan Besek

Intip proses pembuatan besek, di Dusun Pajangan, Moyudan, Sleman.

Sleman, Jogjakeren.com – Tahukah kamu? Besek merupakan salah satu kerajinan tangan yang berbahan dasar bambu yang biasa digunakan untuk membawa atau menaruh makanan, bisa juga untuk menaruh barang.

Salah satu daerah pengrajin besek yaitu di Dusun Pajangan, Moyudan, Sleman. Mayoritas penduduk di dusun tersebut bermata pencaharian sebagai pengrajin besek. Besek yang dihasilkan cukup beragam, ada yang berukuran 9 cm, 15 cm, 18 cm hingga 22 cm.

Besek merupakan kemasan tradisional yang ramah lingkungan, selain itu juga memberikan nilai estetika tradisional yang unik. Terlebih dalam proses pembuatan besek membutuhkan waktu panjang.

Read More

Kalau kamu penasaran bagaimana cara membuat besek, yuk simak langkah-langkah membuat besek berikut ini!

Proses Membuat Kerajinan Besek: 

  1. Memotong bambu

Langkah pertama yang dilakukan untuk membuat besek yaitu memotong bambu menjadi potongan yang lebih kecil. Proses ini dilakukan dengan menggergaji bambu kemudian membelah bambu dengan lebar sekitar 2 cm, yang biasa disebut dengan liningan. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah langkah selanjutnya.

2. Irat/proses menipiskan bambu

Bambu dipotong menjadi bilahan tipis

Setelah menjadi liningan, langkah selanjutnya yaitu irat atau proses menipiskan bambu. Liningan bambu ditipiskan sehingga menjadi lembaran-lembaran tipis. Proses penipisan bambu atau irat ini dilakukan dengan menggunakan pisau. Adapun bambu yang sudah terbelah tipis-tipis ini disebut dengan iratan.

3. Menjemur bambu

Iratan kemudian dijemur di bawah terik matahari. Tujuannya supaya iratan bambu menjadi kering sempurna. Jika iratan tidak dalam keadaan kering, akan mengakibatkan besek berjamur dan bilahan bambu mudah patah. Jadi, proses menjemur iratan sangat penting dilakukan supaya besek tetap dalam keadaan higienis dan lentur saat dianyam.

4. Ngebleki/membentuk pola

Proses ngebleki atau membetuk pola

Proses selanjutnya yaitu ngebleki. Ngebleki adalah proses membentuk pola besek. Iratan yang telah kering kemudian ditata berjejer dengan pola tertentu. Ngebleki bertujuan untuk membentuk pola besek sebelum dianyam agar bentuk besek sesuai dengan harapan. Perbedaan dalam menata iratan akan berpengaruh pada pola setelah besek jadi.

5. Anam/menganyam iratan

Salah satu proses pembuatan kerajinan besek, yaitu menganyam iratan bambu

Setelah ngebleki, proses berikutnya yaitu anam. Anam merupakan proses menganyam iratan yang telah ditata (eblekan). Proses menganyam eblekan dengan pola satu dengan pola lainnya sama. Dalam proses ini, pengrajin memerlukan keahlian khusus dalam menganyam menjadi sebuah besek.

6. Ngethoki/memotong bagian yang tidak diperlukan

Iratan yang sudah dianyam akan berubah menjadi besek. Besek satuan setelah dianyam masih kurang rapi karena banyak bagian iratan yang menonjol. Langkah selanjutnya yaitu dengan ngethoki atau memotong bagian iratan yang tidak diperlukan. Ngethoki dilakukan dengan menggunakan pisau.

7. Nangkepi

langkah terakhir, nangkepi besek

Setelah ngethoki, besek menjadi rapi dan siap untuk ditangkepi. Nangkepi besek dilakukan dengan memasukkan 8 lembar besek menjadi 1 tangkep. Setelah itu, 5 tangkepan besek ditata dan ditumpuk kemudian diikat menggunakan tali rafia atau tali iratan. Setelah selesai ditali, besek siap dipasarkan.

Kesimpulan

Langkah-langkah membuat besek memang membutuhkan waktu yang panjang, ketelitian dan kesabaran, tetapi hasil akhirnya sangat memuaskan. Dengan bahan utama yaitu bambu, besek menjadi alternatif yang ramah lingkungan dan fungsional. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, besek juga bisa dijadikan bisnis kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi.

Jadi, jika kamu tertarik mencoba, tidak ada salahnya mencoba membuat besek sendiri di rumah atau bisa berkunjung langsung ke Dusun Sentra Besek yaitu di Pajangan, Moyudan, Sleman.

Menarik bukan? Selain membantu mengurangi penggunaan plastik, kamu juga ikut melestarikan warisan budaya tradisional. Besek bukan hanya solusi praktis, tetapi juga simbol kearifan lokal yang bisa terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *