Asah Kemandirian dan Kreativitas, LDII Sinduadi Datangkan Pakar Ecoprint

  • Whatsapp
Ecoprint
Ira Fatma memaparkan teknik ecoprint kepada warga PAC LDII Sinduadi, Minggu (3/10/2021).

Jogjakeren.com – Teknik ecoprint mulai berkembang akhir-akhir ini. Sesuai namanya, ecoprint merupakan teknik pemindahan motif alam ke dalam suatu media, bisa berupa kain, kertas, pakaian, sajadah, bahkan keramik. Setidaknya, ada 2 jenis teknik ecoprint, yaitu teknik pengukusan (steam) dan pukulan (pounding).

“Teknik ecoprint ini menggunakan bahan alami, mudah ditemukan di sekitar rumah. Motif ecoprint bisa disesuaikan dengan selera dan kreativitas masing-masing,” tutur Ira Fatma, pemateri workshop kemandirian ecoprint, Minggu (3/10/2021).

Bacaan Lainnya

Workshop ecoprint ini merupakan kerja sama antara PAC LDII Sinduadi dan Majelis Taklim Al-Munawwaroh Pogung Baru. Sejumlah 27 peserta mengikuti workshop ecoprint, mulai dari mahasiswa, pebisnis, ibu rumah tangga, pendakwah, hingga seorang dokter.

Ecoprint
Hasil pelatihan ecoprint LDII Sinduadi, Minggu (3/10/2021)

Di dalam sambutannya, Ketua PAC LDII Sinduadi, H. Nur Ikhsan menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari bidang kontribusi LDII, khususnya terkait lingkungan dan kemandirian remaja.

Workshop ecoprint dapat menjadi ajang pengenalan kekayaan alam di lingkungan sekitar. Berbagai jenis dedaunan turut dibagikan kepada peserta, di antaranya daun jati, daun lanang, daun minyak kayu putih, daun jarak kepyar, keningkir, dan bawang bombai.

“Materi ecoprint dipilih karena proses pembuatan mudah, bahan sederhana, dan tidak mahal. Sehingga, ecoprint bisa dipraktikkan oleh seluruh kalangan,” ujar Ahmadi Fadillah, S.Pd. selaku ketua panitia workshop.

Selama kegiatan, peserta workshop secara antusias mengikuti pemaparan materi ditengarai dari diskusi yang hangat. Peserta dibagi menjadi 13 kelompok kecil untuk meningkatkan efektivitas penyerapan materi dan praktik.

Luluk Nabilla, peserta asal Masjid Al-Manshurin Pingit mengharapkan kegiatan workshop dapat berkelanjutan dan ada monitoring. “Semoga kegiatan ini terus berlanjut, bahkan lebih sering. Karena, ecoprint ini bila ditekuni dapat menjadi peluang bisnis bagi kalangan muda,” ujarnya.

Ecoprint

Di sela-sela sesi diskusi, Ira Fatma juga menekankan perlunya kreativitas dari para peserta. Meskipun pangsa pasar ecoprint di Yogyakarta masih baik, namun tetap ada persaingan di kalangan pengrajin. Senada dengan hal ini, Dewan Penasihat LDII PAC Sinduadi H. Much Nur Syamsu, S.Pt., M.Par., CHE, CGSP mendorong adanya berbagai pembekalan kreativitas.

“Ecoprint ini menarik. Kami berharap ada workshop berikutnya, karena yang disampaikan hari ini saya yakin masih teknis dasarnya saja,” tuturnya yang juga dosen STIPRAM Yogyakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *