Atus Eratkan Kerja Sama UGM dengan Hortus Botanicus Leiden

UGM
Manajer koleksi tumbuhan, Roderick W. Bouman saat penyerahan sertifikat pelatihan "Tropical Plant Families Course" (berbaju merah) bersama Ir. Siti Maimunah, M.Sc. (berkerudung), Abdul Rahman Sidiq, S.Hut. (berbaju hitam), dan Atus Syahbudin, Ph.D. (memakai batik).

Jogjakeren.com – Dosen Fakultas Kehutanan UGM Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D. mendapat kesempatan untuk mengikuti training internasional mengenai identifikasi jenis-jenis tumbuhan tropika yang diselenggarakan oleh Hortus Botanicus Leiden (HBL) bersama Project Implementation Unit (PIU) UGM. Training internasional terselenggara berkat kerja sama UGM melalui Fakultas Kehutanan dengan Faculty of Science, Leiden University (LU), khususnya Institute of Biology Leiden (IBL).

Training selama Bulan Januari 2022 tersebut meliputi pemberian materi kelas, kunjungan lapangan di Hortus Botanicus Leiden, Hortus Botanicus Utrecht, dan Naturalis Biodiversity Center, serta pertemuan kerja sama. Selain Atus, dua orang akademisi UGM turut ikut dalam training yakni mahasiswa Doktor Ilmu Kehutanan Ir. Siti Maimunah, M.Sc. dan mahasiswa Master Ilmu Kehutanan Abdul Rahman Sidiq, S.Hut.

Read More

HBL dibangun sejak 9 Februari 1590 dikelola oleh IBL. Direktur HBL, Prof. Paul Kessler mengapresiasi pelaksanaan training ini. Pernah lama meneliti di Kalimantan Timur, Paul mengharapkan pula, hasil pelatihan dapat meningkatkan pemahaman yang lebih baik terhadap evolusi tumbuhan tropika.

UGM
Suasana Hortus Botanicus Leiden saat kunjungan lapangan dengan didampingi oleh Manajer Koleksi Tumbuhan, Roderick W. Bouman (berbaju merah)

“Saya sangat mengapresiasi dan semoga hasilnya dapat membantu meningkatkan pemahaman akan keluarga tumbuh-tumbuhan tropika. Anda pun semakin menghargai keanekaragaman tumbuhan. Jangan ragu untuk mendiskusikan pula kerja sama lainnya,” harap Paul, 2 Februari 2022.

Dalam kesempatan lainnya yang diadakan di lantai 2 glass house HBL, Wakil Direktur HBL, Peter Inklaar dengan didampingi oleh manajer koleksi tumbuhan, Roderick W. Bouman pun menyepakati peningkatan kerja sama dengan UGM. Bentuknyapun bervariasi, seperti kolaborasi penelitian, post doctoral, pengajuan Erasmus student mobility, dan lain-lain.

“Dengan senang hati, mari kita melanjutkan kerja sama ini. Kami sangat berbangga dapat menerima Saudara dalam Tropical Plant Species Course,” kata Peter, 26 Januari 2022.

Atus pun merasa sangat senang dapat mengikuti winter break course ini. Selaku dosen pengampu mata kuliah Dendrologi yang mempelajari dasar-dasar pengenalan jenis pohon, menurutnya masih perlu pengayaan ilmu pengetahuan, baik penegasan keilmuan dari dosen pengampu berkelas dunia maupun kunjungan lapangan di kebun-kebun botani bersejarah.

“Universiteit Leiden berdiri sejak 1575. Hampir bersamaan dengan pembukaan Alas Mentaok di Bumi Mataram. Pada 1590 HBL mulai dimapankan oleh Clusius. Ini termasuk awal mula ilmu botani dikembangkan oleh para pecinta tumbuhan. Lalu, 18 Mei 1817 diikuti oleh peresmian Kebun Raya Bogor. Tentu kesemuanya itu menjadi sejarah yang sangat menarik dan penting untuk diambil hikmahnya saat ini,” ungkap Atus yang juga meneliti tumbuhan mentaok dan flora sumbu filosofi Yogyakarta.

Menurut Atus, Yogyakarta dan Leiden memiliki beberapa kemiripan. Keduanya merupakan kota bersejarah, kental akan kebudayaan lokal, dan tempat berdirinya kampus tertua, yakni LU dan UGM. Pengalaman LU dalam memanejemen HBL akan dapat membantu Fakultas Kehutanan UGM dalam pengelolaan hutan pendidikan pada khususnya, serta pengembangan kebun botani UGM, restorasi Alas Mentaok dan flora sumbu filosofi Yogyakarta secara umum.

UGM
Keterangan gambar, kiri: Atus Syahbudin, Ph.D. (memakai batik) dan Ir. Siti Maimunah, M.Sc. (berkerudung). Kanan: Manajer koleksi tumbuhan, Roderick W. Bouman (berbaju merah) dan Wakil Direktur Hortus Botanicus Leiden, Peter Inklaar saat menerima cendera mata kain ecoprint karya Omah Fatma (berbaju krem)

Mengakhiri pertemuan kerja sama, Siti mengucapkan terima kasih atas pengalaman yang luar biasa di HBL. Menurut dosen INSTIPER Yogyakarta ini, materi training mampu menyegarkan wawasan ilmu pengetahuan botaninya. Champion Asia-Pacific Forest dan penerima Kalpataru inipun berharap suatu hari nanti dapat melanjutkan post doctoral program di LU alias Universiteit Leiden.

Pada kesempatan itu, Siti dan Sidiq memberikan kain jarik dan batu permata berwarna ungu dari Kalimantan. “Semoga Pak Paul dan Pak Peter menikmati hadiah ini. Jarik dapat digunakan sebagai hiasan di meja makan atau untuk hiasan dinding. Dapat pula untuk bagian bawah pakaian adat Jawa,” jelas Sidiq yang telah tinggal di Belanda sejak September 2021 dalam program Erasmus+Student Mobility di Utrecht University.

Sementara Atus menyerahkan cendera mata berupa kain ecoprint bermotif daun kepada Peter. Kain ecoprint tersebut merupakan karya Omah Fatma yang bercorakkan dedaunan tropika seperti jati (Tectona grandis), leda (Eucalyptus deglupta), jarak kepyar (Ricinus communis), kepuh (Sterculia foetida), bayur (Pterospermum javanicum), sawo Kecik (Manilkara kaki), dan lain-lain.

Sejak tahun lalu, Fakultas Kehutanan UGM berkolaborasi melalui tridarma pengabdian dengan Omah Fatma (IG: omah_fatma) dan ormas Islam LDII DIY untuk membangun Laboratorium Tanaman Ecoprint di Bumi Perkemahan Dewaruci, Pantai Selatan Yogyakarta. Inisiasinya bersamaan dengan momentum peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia 2021 DPP LDII yang diresmikan oleh Kepala Biro Bina Mental Spiritual Setda DIY, Djarot Margiantoro, STP, M.Sc.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.