Atus: Organisasi LDII DIY Harus Bisa Beradaptasi

  • Whatsapp
Pengurus DPW LDII DIY mengikuti pengarahan dan pengukuhan (Minggu, 19/12/2021)

Jogjakeren.com – Agar sebuah organisasi dapat bertahan lama, maka harus siap beradaptasi. Ditegaskan Atus Syahbudin, mengawali sambutannya dalam pengukuhan pengurus baru DPW LDII DIY, pada Minggu (19/12/2021).

Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY masa bakti 2021-2026 secara resmi dikukuhkan di Gedung Serbaguna LDII, Maguwoharjo, Sleman melalui penyerahan Surat Keputusan (SK) Kepengurusan. Acara dihelat secara tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan, serta dihadiri 50 orang pengurus.

Bacaan Lainnya
Pengurus DPW LDII DIY mengikuti pengarahan dan pengukuhan (Minggu, 19/12/2021)

Bagaimana urgensi adaptasi sebuah organisasi?

Agar dapat bertahan kehidupannya, setiap makhluk hidup mulai dari manusia, hewan dan tumbuhan perlu beradaptasi. Apabila hal ini tidak dapat dilakukan, maka makhluk hidup tersebut lambat laun akan punah. Hal ini pun berlaku dalam sebuah roda organisasi.

Perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Dengan berjalannya waktu, tantangan zaman senantiasa berubah. Keputusan organisasi yang relevan untuk tahun lalu, belum tentu cocok diterapkan saat ini. “Apabila sebuah keputusan sudah tidak sesuai dengan kondisi masyarakat, maka dibutuhkan keputusan baru lagi,” tutur Drs. H. Sudiyarto, M.Acc., Ketua Dewan Penasihat DPW LDII DIY.

Pengarahan oleh Dewan Penasihat DPW LDII DIY (Minggu, 19/12/2021)

Hal senada disampaikan oleh Ketua DPW LDII DIY periode 2021-2016. “Adaptasi sebuah organisasi dapat diawali dengan adanya analisis SWOT,” ujar Atus Syahbudin yang juga Dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Analisis SWOT meliputi Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Misalnya, strengths (kekuatan) yang dimiliki Provinsi DIY adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang berpendidikan. Hal ini sesuai dengan julukan yang disematkan, Kota Pelajar. Namun, kondisi ini sekaligus bisa menjadi weaknesses (kelemahan), karena tidak semua SDM adalah warga asli Yogyakarta. “Mari, setiap biro harus membuat rencana kerja 5 tahunan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan keadaan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.