Meski deretan lamaran kerja membanjir inbox HRD, banyak perusahaan justru masih kesulitan menemukan kandidat yang tepat. Fenomena ini menjadi teka-teki besar di dunia rekrutmen modern. Lantas, apa penyebabnya?. Ternyata, masalahnya tidak terletak pada jumlah pelamar, tetapi pada kualitas dan kecocokan (fit and proper) antara kandidat dengan kebutuhan perusahaan.
Penyebab HRD susah cari pegawai
Salah satu penyebab HRD susah cari pegawai yang utama adalah kesenjangan keterampilan (skills gap). Banyak pelamar, terutama fresh graduate, memiliki nilai akademis yang baik namun kurang menguasai keterampilan teknis (hard skills) maupun soft skills yang dibutuhkan di dunia kerja. Perkembangan industri yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi oleh kurikulum pendidikan, sehingga perusahaan harus ekstra menyaring untuk menemukan talenta yang benar-benar siap pakai.
Faktor berikutnya adalah ekspektasi gaji yang tidak realistis. Di satu sisi, perusahaan memiliki standar penggajian berdasarkan struktur dan kemampuan, sementara di sisi lain, kandidat sering memiliki ekspektasi yang jauh lebih tinggi dari rata-rata pasar. Ketidakselarasan ini membuat proses negosiasi gagal dan kandidat memilih mengundurkan diri.
Kurangnya pengalaman kerja yang relevan juga menjadi penghalang besar. Banyak lowongan, terutama untuk level non-entry, membutuhkan kandidat dengan portofolio atau pengalaman spesifik. Pelamar yang sering berpindah-pindah pekerjaan (job hopper) atau memiliki riwayat karir yang tidak linier juga sering dianggap berisiko oleh perekrut.
Proses rekrutmen yang terlalu lama dan berbelit-belit turut menyumbang masalah ini. Kandidat terbaik biasanya memiliki banyak opsi. Jika perusahaan lambat dalam mengambil keputusan, besar kemungkinan kandidat potensial telah diterima oleh perusahaan lain yang prosesnya lebih cepat dan efisien.
Terakhir, budaya perusahaan (company culture) yang kurang dikenal atau tidak menarik bagi generasi pekerja sekarang, seperti Millennial dan Gen Z, membuat mereka enggan bergabung. Perusahaan yang tidak menawarkan nilai tambah seperti lingkungan kerja kolaboratif, work-life balance, dan kesempatan pengembangan karir akan kalah bersaing dalam merebut talenta terbaik.
Jadi, masalahnya bukan pada sedikitnya pelamar, tetapi pada pencarian kandidat ideal yang memiliki kombinasi tepat antara keterampilan, pengalaman, ekspektasi, dan keselarasan dengan nilai-nilai perusahaan.





