Rumah Menjadi Sekolah Pertama Pembentukan Karakter Anak

Karakter Anak
Ratusan peserta mengikuti Workshop Rumahku, Sekolah Karakterku yang berlangsung di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Yogyakarta, Sabtu (23/9/2026).

Yogyakarta, Jogjakeren.com – Komunitas Ibu Belajar di Sleman menggelar Workshop “Rumahku, Sekolah Karakterku” bekerja sama dengan Rumah Cerdas Generasi Pembelajar (RCGP). Kegiatan dengan tema “Membumikan 29 Karakter Luhur di Tengah Keluarga” tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).

Pembina Ibu Belajar, Slamet Yunani, saat membuka kegiatan menekankan pentingnya keluarga sebagai lingkungan pertama dalam pembentukan karakter anak. Menurutnya, keberhasilan pembinaan generasi ditentukan oleh tiga hal.

“Suksesnya pembinaan generasi itu meliputi tiga hal. Yang pertama sukses pendidikan agamanya. Yang kedua sukses pendidikan dunianya. Yang ketiga sukses pendidikan karakternya, dengan mewujudkan dan memiliki 29 Karakter Luhur,” ujar Slamet.

Read More

Ia mengatakan, tema “Rumahku, Sekolah Karakterku” sangat relevan dengan upaya membangun karakter generasi. Menurutnya, pembentukan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui materi, tetapi membutuhkan kerja keras dan latihan secara berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa orang tua merupakan pendidik utama bagi anak. Meskipun anak memiliki banyak kesempatan berinteraksi di luar rumah, pendidikan karakter pertama tetap berlangsung di lingkungan keluarga.

“Di antara kita mungkin waktu buat anaknya terbatas, sehingga kadang lupa bahwa pendidikan anak-anak kita itu nomor satu adalah orang tua,” katanya.

Ia berharap kegiatan semacam ini terus memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas SDM khususnya orang tua dan membawa manfaat bagi keluarga.

Workshop diikuti ratusan peserta yang terdiri dari perempuan atau laki-laki yang belum menikah dan pasangan yang sudah menikah. Kegiatan ini bertujuan mempraktikkan 29 Karakter Luhur untuk membangun komunikasi, keteladanan, dan pembiasaan positif dalam keluarga secara terencana, menyenangkan, dan berkelanjutan.

Pemateri workshop, Ressy Laila Untari Ningsih yang juga Founder RCGP mendorong orang tua untuk memperkuat pendidikan karakter anak melalui lingkungan keluarga. Menurutnya, pendidikan di rumah perlu di-branding sebagai bagian penting di luar pendidikan sekolah.

“Sudah saatnya kita mem-branding pendidikan di rumah, di luar pendidikan sekolah. Kemudian yang kedua, dalam hal ini selayaknya kita sebagai orang tua mengajari mereka dengan mulut kita sendiri,” kata Ressy.

Ia mengatakan, setelah memahami berbagai nasihat tentang pendidikan keluarga, hal terpenting berikutnya adalah melakukan tindakan nyata. Menurutnya, orang tua perlu segera berbenah diri, memperbaiki kekurangan, serta mengejar berbagai ketertinggalan dalam mendidik anak.

“Tidak ada kata-kata yang lebih praktis kecuali action yaitu segera berbenah diri dari kekurangan, segera memperbaiki segala ketertinggalan,” ujarnya.

Ressy mengajak seluruh orang tua untuk mulai bertindak tanpa menunggu waktu yang dianggap tepat. Ia menilai tidak ada kata terlambat untuk memulai perubahan, meskipun orang tua tidak boleh terus-menerus menunda.

“Kita diingatkan lagi harus action sekarang. Siapa? Kita semua Bapak Ibu. Kalau kemarin-kemarin belum action, nggak apa-apa. Kita mulai action dari sekarang, tidak ada kata terlambat. Tapi ya jangan telat terus,” katanya.

Menurut Ressy, tindakan tersebut merupakan salah satu wujud dari 29 Karakter Luhur. Ia juga mengingatkan bahwa belajar harus menjadi bagian dari kehidupan orang tua karena umat Islam diperintahkan untuk terus mencari ilmu.

“Motivasi kita harus belajar. Kenapa sih saya selalu butuh belajar? Karena di antaranya Allah memerintahkan kita untuk terus mencari ilmu. Selama kita menjadi orang Islam, kita wajib mencari ilmu,” tuturnya.

Orang Tua Perlu Belajar

Dalam konteks pengasuhan, Ressy mencontohkan seorang ibu perlu mengetahui ilmu yang dibutuhkan agar anak tetap yakin dan bersemangat. Ilmu tersebut antara lain manajemen rumah tangga, manajemen keuangan, serta manajemen komunikasi dengan anak kecil maupun anak remaja.

Menurutnya, proses belajar juga menjadi bekal bagi orang tua agar mampu menjalankan tanggung jawab pengasuhan dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Orang tua perlu dapat menunjukkan bahwa mereka telah berusaha belajar, membuat rencana, dan melakukan pembinaan terhadap keluarganya.

Ressy juga mengingatkan orang tua agar tidak kalah langkah dalam menghadapi perkembangan teknologi. Ia menilai penggunaan teknologi tanpa pendampingan dapat membuat anak semakin jauh dari komunikasi dan interaksi keluarga.

Ia mencontohkan kondisi ketika anak terlalu sibuk dengan telepon genggam hingga mengurangi interaksi dengan keluarga maupun teman. Karena itu, menurut Ressy, orang tua perlu terus belajar agar tidak kalah langkah dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan teknologi.

Ressy kemudian mengajak keluarga membangun mindset bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Belajar, katanya, tidak harus selalu dilakukan dengan duduk di meja, kursi, dan buku, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas sehari-hari.

“Jadi kita sepakati bersama sekarang mindset kita adalah belajar itu di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Belajar tidak harus di meja, kursi dan buku. Kita setiap saat setiap waktu itu bisa menjadi mindset kita untuk di rumah, kita berkegiatan di mana saja itu selalu ada hikmah, selalu ada ilmu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembinaan generasi penerus melalui praktik 29 Karakter Luhur merupakan suatu keharusan. Karena itu, praktik tersebut perlu direncanakan, diprogramkan, dilaksanakan secara terpadu, dan berkelanjutan.

“Mengapa dibuat program praktik 29 Karakter Luhur? Karena pembinaan generus adalah suatu keharusan dan sudah menjadi harga mati. Ternyata harus direncanakan, diprogramkan, dilaksanakan secara terpadu dan berkelanjutan,” kata Ressy.

Menurutnya, praktik 29 Karakter Luhur dapat dilakukan di berbagai lingkungan, mulai dari rumah, masjid, sekolah, tempat kerja, hingga tempat lainnya. Waktu pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan program dan kondisi masing-masing keluarga.

Salah satu praktik yang dicontohkan adalah penerapan Ahlakul Karimah selama satu bulan. Setiap keluarga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian mencatat pengalaman tersebut melalui jurnal keluarga.

Selain praktik, Ressy mendorong keluarga mengadakan forum ngobrol minimal seminggu sekali. Forum tersebut menjadi ruang bagi orang tua dan anak untuk membicarakan praktik 29 Karakter Luhur yang telah dilakukan selama sepekan.

“Jadi seminggu sekali Bapak Ibu bersama anak-anak ngobrol. ‘Nah, gimana minggu ini praktik Ahlakul Karimah-nya? Apa saja yang sudah dipraktikkan?’ Ada laporannya, sehingga anak-anak itu mendengar tentang 29 Karakter Luhur itu bukan hanya di masjid, bukan hanya dari pengajarnya, tapi dari orang tuanya sendiri,” jelasnya.

Ressy menekankan, orang tua perlu sering menyebut dan mengenalkan nilai-nilai karakter tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, anak tidak hanya mendengar tentang karakter dari lingkungan pengajian atau sekolah, tetapi juga mendapatkan contoh langsung dari orang tua di rumah.

Ia menyarankan forum keluarga dilakukan dengan suasana menyenangkan. Orang tua dapat mengajak anak ngobrol sambil menikmati makanan ringan atau melakukan quality time, sehingga pembicaraan tentang karakter tidak terasa seperti kegiatan yang kaku.

“Karena mempraktikkan 29 Karakter Luhur di rumah itu harus dengan cara yang menyenangkan. Ngobrol sambil ngemil contohnya,” ujarnya.

Mempraktikkan 29 Karakter Luhur

Menurut Ressy, bahasa yang digunakan orang tua juga sebaiknya merupakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami anak. Misalnya, ketika anak membantu pekerjaan rumah, orang tua dapat mengaitkannya dengan praktik karakter seperti kemandirian dan tanggung jawab.

Ia mengatakan, praktik 29 Karakter Luhur juga dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan bersama keluarga. Di antaranya pengecekan gerakan dan bacaan salat, membuat pohon syukur, jurnal doa keluarga, memasak bersama, hingga musyawarah keluarga untuk mengevaluasi perjalanan keluarga selama satu tahun.

Ressy menyebut praktik tersebut telah menghasilkan banyak pengalaman yang sebelumnya tidak terduga. “Luar biasa banget. Ada yang baru ngobrol sedalam itu sampai nangis-nangisan bersama suami. Ini pohon syukur juga begitu, banyak sekali harta karunnya,” katanya.

Ia juga menceritakan pengalaman seorang ibu yang diketahui memiliki kemampuan menggambar setelah mengikuti praktik pohon syukur keluarga. Kemampuan tersebut sebelumnya tidak banyak diketahui, tetapi kemudian dapat dikembangkan hingga ibu tersebut diminta mengajar menggambar di suatu kelas.

Menurut Ressy, berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa praktik bersama di dalam keluarga dapat menggali potensi anggota keluarga yang selama ini belum terlihat. Hal serupa dapat terjadi ketika keluarga membuat jurnal doa dan saling mengetahui harapan masing-masing.

Ressy berharap praktik 29 Karakter Luhur dapat membangun suasana keluarga yang penuh kebersamaan dan nilai-nilai positif. Ia menggambarkan tujuan akhirnya adalah terciptanya atmosfer rumah yang nyaman, penuh komunikasi, dan jauh dari bentakan maupun kata-kata yang menyakitkan.

“Nilai-nilai 29 Karakter Luhur itu memang perlu selalu disuarakan di rumah, dipraktikkan di rumah, sehingga atmosfer dalam keluarga, atmosfer di rumah itu adalah atmosfer surga,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *