Kita Semua adalah Buruh: Semangat untuk Bekerja dan Berserikat

serikat buruh

Jogjakeren.com – Salah satu kalimat penyemangat yang hingga kini masih dirasakan menjelang diperingatinya Hari Buruh Nasional setiap tanggal 1 Mei yaitu “Kita semua adalah buruh selama kita bukan pemilik modal”. Apakah kamu pernah membaca atau mendengarnya? Sejauh mana kamu merasakannya hingga kini? Sudahkah kamu menjadi bagian dari pemilik modal tersebut?

Sebagian besar dari kita sadar bahwa tidak semua orang bisa menjadi pemilik modal sehingga hidup sebagai buruh adalah pilihan hidup yang diambil. Jika kamu masih beranggapan bahwa buruh hanya ada di sektor informal, maka pahami juga bahwa pekerja sektor formal juga merupakan buruh.

Secara garis besar, buruh dibedakan menjadi 2 klasifikasi yaitu buruh profesional dan buruh kasar. Orang yang bekerja di bawah pemilik modal menggunakan otaknya termasuk dalam buruh profesional, sedangkan pekerja yang menggunakan tenaga otot termasuk dalam buruh kasar.

Read More

Hubungan Buruh dan Serikat serta Tantangannya

Dalam pembagian porsi kekuasaan, buruh memang memiliki kekuatan yang lebih kecil dibanding pemilik modal yang berkuasa atas alat produksi. Tantangan paling besar bagi buruh dengan fenomena ini adalah melemahnya posisi tawar sehingga kemungkinan munculnya masalah seperti upah kecil dan jam kerja tidak manusiawi menjadi besar. Itulah kenapa buruh membentuk serikat.

Dalam KBBI, serikat berarti berkumpul, berhimpun, atau bergabung. Menyadari bahwa buruh memiliki kekuatan yang cenderung lebih kecil dibanding pemilik modal justru harus dijadikan sebagai sumber kekuatan untuk berserikat. Apalagi dengan fakta bahwa pembuat kebijakan tidak jarang terlalu ‘baik’ kepada para pemilik modal. Dari sini, kamu semakin paham kan kenapa serikat buruh yang muncul dalam banyak gerakan menjadi penting.

serikat buruh

Semangat Berserikat selain Menjadi Anggota Serikat

Sayangnya, banyak serikat buruh di Indonesia yang masih belum begitu kuat karena manajemen atau pengelolaan internal yang kurang baik. Tidak hanya dalam bentuk organisasi lokal, serikat buruh yang berbentuk partai pun masih menghadapi banyak rintangan. Meskipun begitu, semangat berserikat masih bisa dipupuk dan disuarakan secara lantang. Ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk menuangkan semangat berserikat selain menjadi anggota serikat buruh.

  • Berpartisipasi dalam diskusi terkait isu yang sedang dihadapi pekerja. Bisa juga dengan ikut mengusulkan solusi menghadapi kebijakan yang merugikan buruh.
  • Mendukung kampanye serikat dalam berbagai bentuk. Apabila kamu tidak bisa menjadi relawan dan/atau peserta demonstrasi, misalnya, kamu masih bisa berkontribusi dengan memberikan donasi untuk mereka.
  • Menyuarakan aksi serikat sesuai kemampuan, misalnya dengan ikut mengumpulkan tanda tangan petisi yang mendukung hak pekerja, membagikan ulasan ahli terkait pemenuhan hak pekerja di berbagai platform media sosial, dan lain sebagainya.

Kesadaran Diri adalah Kunci

Mendukung dan menyuarakan hak-hak pekerja adalah tanggung jawab moral bagi yang menyadarinya. Terutama jika kamu adalah salah satu bagian dari pihak buruh. Menjadikan Hari Buruh Nasional sebagai pengingat dalam menyuarakan semangat berserikat adalah hal paling kecil yang bisa kita lakukan. Menyerah pada kondisi yang ada bukan solusi, tapi memperjuangkannya hak kita bersama meskipun hasilnya tidak besar adalah tindakan yang lebih bermakna.

Sumber Gambar: Federasi Serikat Pekerja Mandiri. 2021. 3 (tiga) PILAR UTAMA SERIKAT BURUH. Diakses dari https://www.fspm.org/2021/11/3-tiga-pilar-utama-serikat-buruh.html

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *