Jogjakeren.com – Menyambut bulan Ramadan, PAC LDII Purwomartani mengundang Penyuluh Agama Islam Kapanewon Kalasan dan tokoh masyarakat dalam acara pengajian rutin Ramadan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Al-Fatah Pundung Rejo, Kadirojo 2, Purwomartani, Kalasan, Sleman.
Penyuluh Agama Islam Kapanewon Kalasan, Muhammad Nur Cholis, S.Sos., M.Si diundang untuk mengisi acara pengajain tersebut. Turut hadir sejumlah tokoh masyarakat, yakni Lurah Kalurahan Purwomartani H. Semiono, Rois Kadirojo 2, Dukuh Padukuhan Kadirojo 2, Ketua RW 2 Kadirojo 2, Ketua RT 05 dan RT 06 Kadirojo 2 Purwomartani.
Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat tersebut disambut oleh Pengurus PAC LDII Purwomartani didampingi Wakil Ketua PC LDII Kapanewon Kalasan, M. Amir Khusna, S.T beserta beberapa pengurus harian PC LDII Kapanewon Kalasan.

Pengajian dibuka secara langusung oleh M. Amir Khusna. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan beberapa hal terkait organisasi dan pencapaian dari warga LDII khususnya di Kalurahan Purwomartani Kalasan.
”Masjid Al-Fatah ini sudah terdaftar di sistem informasi Kemenag SIMAS (Sistem Informasi Masjid),” terang Amir Khusna.
Beberapa prestasi dari MDT Alfatah naungan PAC LDII Purwomartani juga disampaikan.”MDT Kami mengikuti Lomba MTQ tingkat Kapanewon Kalasan dan alhamdulillah mendapatkan 6 piala, serta ditunjuk untuk mewakili Kapanewon Kalasan di tingkat Kabupaten,” imbuh Amir Khusna.
Amir juga menyampaikan pemberitahuan dan perizinan untuk kegiatan warga LDII khususnya di Kalurahan Purwomartani. ”Dari kepengurusan memaparkan kegiatan bulan Ramadan sekaligus meminta izin untuk melakukan kegiatan tersebut,” pungkasnya.
Ceramah Pengajian Rutin Ramadan, Lurah Purwomartani Ceritakan Sejarah LDII di Kadirojo

Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Lurah Kalurahan Purwomartani, H. Semiono. Ia menyampaikan sejarah dari LDII di wilayah Purwomartani, khususnya di Kadirojo 2.
”Dulu waktu ini belum jadi masjid seperti sekarang, tempat lahir saya ya di dalam masjid ini. Dulu juga warga sini banyak yang belum hafal Al-Fatihah lalu ada mubaligh yang ngajar, umurnya masih muda dan mereka mengajar ngaji,” papar H. Semiono.
Semiono juga menyampaikan tentang pentingnya pendidikan yang harus dibarengi dengan akhlak dan pemahaman agama.
”Pendidikan dan pengetahuan teknologi itu harus dibarengi akhlak dan pemahaman agama yang kuat. Saya mohon LDII menjadi pioneer untuk berbudi pekerti mulia, berpendidikan tinggi dan berbudaya tentunya yang tidak melanggar norma hukum dan agama, serta aktif berpartisipasi dalam pemerintahan dan masyarakat, khususnya di wilayah Kalurahan Purwomartani,” jelas H. Semiono.
Di akhir sambutannya, ia juga menegaskan pentingnya akhlak dan budi pekerti dalam menyongsong Indonesia Emas. ”Untuk menyongsong Indonesia Emas, kedepan orang LDII harus mempunyai budi pekerti luhur dan tidak melanggar norma-norma agama kita, serta mempunyai akhlak yang mulia,” pungkasnya.

Penyuluh Agama Islam Kapanewon Kalasan: Bulan Romadhon Penuh Makna
Sesi terakhir adalah ceramah oleh Penyuluh Agama Kapanewon Kalasan, Muhammad Nur Cholis, S.Sos., M.Si. Selain sebagai Penyuluh Agama Islam, ia juga menjabat sebagai Ketua Forum Pembauran Kebangsaan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman.
Nur Cholis menyampaikan beberapa hal terkait pelajaran yang didapat dari bulan Ramadan, seperti puasa dan tarawih. ”Selain mengikuti syariat, puasa juga mengajarkan kita untuk bisa menghargai makanan dan merasakan bagaimana orang yang dibawah kita yang terkadang tidak bisa makan nasi,” ungkapnya.
Ia juga berpesan agar bisa menata hati dan jasad, khususnya ketika bulan Ramadan ini. ”Bulan Ramadan, menata hati itu penting. Hati ini adalah segumpal daging, jadi ketika jelek hatinya, jelek semuanya. Yang kedua kesehatan jasad kita,” jelas Nur Cholis.
Mengakhiri sambutannya, Nur Cholis berpesan agar masyarakat bisa rukun dalam perbedaan dan keberagaman. Bulan Ramadan ini bisa menjadi saat yang tepat untuk bisa melatih dan membiasakan kerukunan dalam masyarakat.
“Indonesia itu harus punya komitmen kebangsaan, contoh paham Pancasila, itu bisa dilatih ketika bulan Ramadan. Kita jadikan momentum bulan Ramadan ini untuk fastabiqul khairat, dan jadikan umat Islam itu sebagai pioneer kedamaian dan rukun dalam perbedaan dan keberagaman,” jelas Nur Cholis mengakhiri ceramahnya.





