Paguyuban Aryasatya, Sukses Menggelar Pentas Sanggar Sastra ‘WISUNA’

  • Whatsapp
Pentas Sanggar Sastra "Wisuna" (Sabtu, 12/6/2021)
Pentas Sanggar Sastra "Wisuna" (Sabtu, 12/6/2021)

Jogjakeren – Sehubungan dengan Mata Kuliah Sanggar Sastra Jawa, Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, Paguyuban Aryasatya sukses menggelar Pentas Sanggar Sastra Jawa dengan judul “WISUNA” adaptasi dari naskah Suk-Suk Pari Ambruk karya Gondhol Sumargiyono, S.Pd.T.

Pentas Sanggar Sastra sukses digelar pada Sabtu, 12 Juni 2021 di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta. Mengingat kondisi saat ini dalam masa pandemi covid-19, pagelaran dilaksanakan dengan protokol kesehatan dengan hanya dihadiri tamu undangan. Pagelaran pentas sanggar tersebut ditayangkan melalui live streaming di channel YouTube Paguyuban Aryasatya.

Bacaan Lainnya

Penulis naskah, Gondhol Sumargiyono menjelaskan bahwa naskah dramanya ia tulis pada tahun 2015. “Saya tulis itu 2015, proses penulisannya dalam waktu satu minggu. Tetapi dalam mencari literasi dan turun ke lapangan itu dalam beberapa bulan,” ujarnya.

Tentang Teater “Wisuna”

Teater “Wisuna” bercerita latar belakang kehidupan masyarakat, mengangkat isu dan keresahan yang sering dijumpai. Di mana dalam kehidupan rumah tangga salah satu komponennya fokus mengejar karir, bekerja demi memperbaiki perekonomian keluarga, namun kebutuhan biologis tak terpenuhi. Hingga akhirnya datang “dia” yang sering disebut dengan pihak ketiga pembawa rasa puas dan kebahagiaan sesaat serta benih-benih kehancuran.

Seperti yang dikatakan Gondhol Sumargiyono, “Saya menulis ini terilhami dari orang-orang yang kerja proyek ke Jogja, tapi istrinya tertinggal di rumah. Lamanya mereka tidak berhubungan, ini yang menjadi masalah. Ini fenomena sosial yang terjadi dimanapun ketika jauh dari suami atau istri,” ujarnya.

Kepada paguyuban aryasatya, ia mengucapkan terima kasih, matur nuwun. “Semoga bisa mengambil isi cerita suk-suk pari ambruk wisuna. Perasaan saya terharu, terenyuh, campur aduk,” pungkasnya.

Pementasan teater “Wisuna” sebagai arena mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah untuk belajar, berlatih, dan memahami satu sama lain selama proses bersama. Tak hanya itu, Dosen Pembimbing Mata Kuliah Sanggar Sastra Jawa, Suwardi Endraswara menuturkan, “Dari proses itu nanti akan menjadi berguna ketika di lingkungan masyarakat. Melatih keberanian dan melatih pementasan yang baik,” tuturnya.

Sebuah pementasan ini, diharapkan bisa mengajak kepada para masyarakat, terutama generasi muda untuk menyadari akan pentingnya berprestasi dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Peran mahasiswa sebagai generasi muda merupakan pilar utama dalam melestarikan kebudayaan tradisional di tengah maraknya kebudayaan asing.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *