Jogjakeren.com – Dalam sebuah kesempatan pembinaan generasi muda di Kulon Progo, Ustadz H. Muhammad Ali Imron menyampaikan sebuah kisah yang sarat pelajaran. Kisah itu bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan refleksi nyata tentang bagaimana Islam memandang kemuliaan seseorang. Sosok yang beliau angkat adalah Julaibib radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal bukan karena penampilan, status sosial, ataupun kekayaannya, melainkan karena ketakwaannya.
Julaibib bukan dari kalangan terpandang. Secara fisik, ia memiliki rupa yang tidak menarik. Ia pun hidup dalam kemiskinan. Namun, Rasulullah ﷺ sangat mencintainya, karena ketakwaan yang menghiasi hidupnya. Dalam satu peristiwa, Nabi ﷺ bermaksud mencarikannya pasangan hidup. Beliau pun mendatangi seorang sahabat Anshar dan berkata, “Nikahkanlah putrimu denganku.”
Tentu sang sahabat merasa bahagia mendengar permintaan itu. Siapa yang tak ingin menjalin hubungan keluarga dengan Rasulullah ﷺ? Namun ternyata, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa pinangan itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk Julaibib. Hal ini sontak membuat sang sahabat dan istrinya ragu. Mereka tidak bisa menerima Julaibib sebagai menantu karena penampilannya dan status sosialnya.
Namun, kejutan justru datang dari sang putri. Mendengar percakapan orang tuanya, ia berkata tegas dari dalam kamar:
“Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah? Bukankah Allah telah berfirman: ‘Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka’ (QS. Al-Ahzab: 36). Aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib!”
Sang putri ini tak menimbang rupa, martabat dunia, atau harta. Ia memilih taat kepada Rasulullah ﷺ dan percaya bahwa pilihan beliau adalah yang terbaik. Tentu saja kabar ini disambut Julaibib dengan suka cita.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Saat panggilan jihad datang, Julaibib memilih medan perang daripada melangsungkan pernikahan yang sudah di depan mata. Ia memilih syahid di jalan Allah sebagai bentuk puncak ketaatan dan cintanya kepada agama.
Usai peperangan, biasanya Rasulullah ﷺ menanyakan siapa saja yang syahid dalam peperangan itu, sebuah bentuk perhatian kepada para sahabatnya. Sahabat tidak menyebutkan nama yang dicari oleh Rasulullah, yakni Julaibib. Nabi pun berseru: “Sesunguhnya aku telah kehilangan salah seorang sahabatku, Jualaibib. Carilah ia!”
Ternyata, dalam pertempuran Julaibib gugur setelah berhasil menewaskan tujuh musuh. Rasulullah ﷺ bersabda dengan penuh cinta “Dia telah membunuh tujuh orang ini, kemudian mereka membunuhnya.”
Rasulullah ﷺ pun turun langsung memakamkannya, memeluk jasadnya penuh kasih, dan tak melepasnya hingga ke liang lahat. Julaibib menutup hidupnya dengan kemuliaan tertinggi: mati syahid.
Hikmah yang Diambil
Kisah sahabat Julaibib ini dijadikan nasihat oleh Ustadz H. Muhammad Ali Imron untuk menyemangati generasi muda agar meneladani ketakwaan Julaibib. “Nabi tidak memandang rupa, kekayaan, warna kulit, atau fisik. Tapi sebagaimana firman Allah dalam QS Al Hujurat ayat 13 yaitu sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Gadingmangu, Perak, Jombang ini saat mengisi materi untuk generasi muda LDII Kulon Progo pada Minggu (18/5/2025).
Ia mengajak para pemuda dan pemudi untuk tidak mengejar pencitraan, tapi membangun jati diri dengan ketakwaan. Sebab dari takwa, kemuliaan sejati itu lahir. Jadilah pemuda yang bertaqwa, bukan hanya bergaya.





