Pernah Menjadi Pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, Simak Segala Hal Unik yang Ada di Kotagede

Kotagede
Area memasuki kawasan Kotagede (Foto: goodnewsfromindonesia.id)

Jogjakeren.com – Yogyakarta terkenal dengan kota yang masih kental kebudayaannya. Benar saja, sejak dulu hingga sekarang Yogyakarta masih menganut sistem pemerintahan kerajaan. Itulah salah satu alasan Yogyakarta disebut dengan daerah istimewa. Tidak heran juga jika sejarah dari setiap sudut Kota Yogyakarta masih melekat sampai saat ini.

Kotagede adalah salah satu sudut kota Jogja yang konon merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam Yogyakarta. Banyak benda dan tempat peninggalan Kerajaan Mataram Islam dengan cerita yang cukup menarik di Kotagede ini. Peninggalan sejarah tersebut memang sudah sangat tua, tapi sampai sekarang sangat menarik untuk diulik bahkan masih mengandung nilai estetik. Apa saja peninggalan sejarah dan hal unik yang ada di Kotagede? Yuk kita simak!

  1. Masjid Gedhe Mataram dan Makam Raja Mataram

Masjid Gedhe Mataram dan Makam Raja Mataram terletak dalam satu kompleks yang sama. Lokasi tepatnya berada di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul. Sampai saat ini, Masjid Gedhe Mataram masih digunakan sebagai tempat ibadah. Masjid dengan adanya akulturasi Hindu-Buddha ini merupakan masjid tertua yang ada di Yogyakarta, lebih tua daripada Masjid Gedhe Kauman yang dekat dengan Alun-Alun Utara. Meskipun demikian, Masjid ini sudah mengalami banyak perkembangan, mulai dari bentuk yang sederhana hingga penambahan serambi dan halaman masjid.

Read More

Jika berjalan ke arah selatan dari pusat masjid, kita akan menjumpai sebuah gapura bergaya Hindu karena berbentuk seperti gapura yang ada di tempat peribadahan orang Hindu. Gapura ini merupakan tempat yang sering dijadikan orang-orang sebagai spot foto prewedding. Yang unik dari tempat ini adalah bangunannya yang masih asli sejak zaman kerajaan.

Berdasarkan cerita dari warga sekitar dan abdi dalem makam kerajaan, bangunan fisik berupa masjid dan gapura tidak boleh diubah kecuali roboh lalu diperbaiki. Lebih uniknya lagi, tembok di kompleks makam tersebut berbahan dasar bata merah dan sama sekali tidak menggunakan semen sebagai bahan perekatnya. Bahan perekat yang digunakan adalah putih telur. Entah ada campuran bahan lain atau tidak, tapi bangunan ini masih tetap kokoh hingga sekarang.

  1. Situs Watu Gilang dan Watu Gatheng

Watu Gilang adalah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang digunakan sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati. Watu Gilang ini berada di dalam bangunan kecil, sederhana, dan tertutup. Jika ingin melihatnya, harus meminta izin terlebih dahulu kepada juru kunci yang berada di sekitar situs tersebut. Selain Watu Gilang, di dalam bangunan tersebut terdapat Watu Gatheng, yaitu tiga buah batu kuning berbentuk seperti bola. Konon, batu-batu tersebut digunakan Pangeran Ronggo sebagai alat permainan.

Situs ini letaknya tidak jauh dari kompleks Makam Raja Mataram. Bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Tempatnya tidak begitu estetik untuk dijadikan sebagai spot foto. Akan tetapi, cerita sejarah dari situs tersebut sangat menarik untuk kita ketahui.

  1. Pasar Legi Kotagede

Pasar Legi Kotagede merupakan pasar tertua di Yogyakarta. Pasar ini dibangun sejak abad ke-16. Sesuai dengan tata kota berkonsep Catur Gatra Tunggal pada zaman dahulu (dalam sebuah pemerintahan, kraton, masjid, pasar, dan alun-alun adalah hal yang tidak bisa dipisahkan), maka di Kotagede masih bisa dijumpai pasar dan masjid peninggalan kerajaan yang berdekatan. Letak dan fungsi Pasar Legi sejak zaman dahulu sampai sekarang sama sekali tidak berubah. Namun, untuk bangunannya sudah dilakukan perbaikan beberapa kali.

Adapun penamaan pasar legi ini diambil dari sistem penanggalan Jawa. Terdapat istilah Pancawara, yaitu Pon, Legi, Pahing, Kliwon, dan Wage. Nah, setiap hari Legi ini Pasar Kotagede akan dipenuhi pengunjung yang lebih ramai dari biasanya, bahkan bisa sampai berdesak-desakan. Apa yang dijual pun tidak seperti pada hari-hari biasa.

Pada hari biasa, pedagang Pasar Kotagede menjual berbagai kebutuhan pangan, seperti sayur-mayur, bumbu dapur, jajanan pasar, dan kebutuhan lainnya. Tapi, di saat Legi kita dapat menjumpai penjual burung, penjual serangga untuk pakan burung, ayam, dan hewan unggas lain.

  1. Kerajinan Perak

Kotagede sangat identik dengan kerajinan peraknya. Jika diperhatikan di sepanjang Jalan Kemasan berjajar toko-toko kerajinan perak. Ternyata, kerajinan perak di Kotagede sudah ada sejak zaman Mataram Islam dan Belanda. Dikutip dari laman merdeka.com, pada waktu itu abdi dalem kriya diperintahkan Panembahan Senopati membuat perhiasan untuk kebutuhan kraton. Tradisi membuat kerajinan perak itu terus berlanjut hingga masa pemerintahan Sultan HB VIII. Seiring berjalannya waktu, kerajinan perak di Kotagede mulai dikenal dunia. Sehingga sangat wajar jika Kotagede terkenal dengan kerajinan peraknya.

  1. Pabrik dan Toko Cokelat Monggo

Pabrik dan toko Cokelat Monggo  terletak di sebelah utara situs Watu Gilang. Jika diukur dari kompleks Makam Raja Mataram, jaraknya lebih dekat dengan pabrik Cokelat Monggo dari pada situs Watu Gilang. Meskipun bukan peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Islam, Cokelat Monggo ini adalah cokelat yang sering dijadikan sebagai oleh-oleh ketika berkunjung ke Yogyakarta. Tempatnya cukup unik dan estetik, cocok dijadikan sebagai spot foto karena di tokonya sendiri memang sudah menyediakan spot-spot untuk mengabadikan momen.

Cokelat Monggo memiliki rasa dasar cokelat yang tidak terlalu manis dan sedikit pahit. Untuk varian rasanya, Cokelat Monggo memiliki banyak jenis rasa yang cukup unik. Ada cokelat dengan sensasi pedas, rasa kulit jeruk, matcha, rosela, bahkan sampai ada rasa rendang, dan masih banyak lagi. Karena termasuk cokelat premium, Cokelat Monggo ini sangat cocok dijadikan sebagai hadiah untuk orang tersayang, untuk oleh-oleh, atau hanya sekadar dinikmati sendiri.

Itu tadi beberapa hal unik yang ada di Kotagede. Jika ingin mengenal sejarah Kotagede dan segala hal unik di dalamnya, kalian bisa langsung pergi ke tempat ini dan merasakan sendiri sensasinya. So, sudah ada rencana ke Kotagede?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *