Kerajinan Perak dan Omah Kalang, Bukti Sejarah Keberadaan Orang Kalang di Kotagede

Kalang Kotagede
Ilustrasi (Foto: cerryku.com)

Jogjakeren.com – Yogyakarta merupakan sebuah kota di Daerah Istimewa Yogyakarta yang budaya Jawanya masih sangat kuat. Di samping itu, sistem pemerintahannya pun masih dipimpin oleh seorang raja, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sesuai dengan namanya, Sultan Hamengku Buwono X merupakan raja ke-10 dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang merupakan pecahan dari kerajaan Mataram Islam setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti.

Jika diputar ke belakang, sejarah Kota Yogyakarta berawal dari kerajaan Mataram Islam. Pada zaman pemerintahan Sultan Agung terdapat kelompok pendatang baru “Wong Kalang” atau orang kalang yang menjadi cikal bakal sejarah pembantu perekonomian warga Kotagede, ibu kota kerajaan Mataram Islam pada saat itu.

Read More

Menurut Suryanto (1998), orang Kalang merupakan keturunan dari Jaka Sana dan Ambarlurung, putri dari Sultan Agung. Ambarlurung dikenal ahli dalam membuat kain, selendang, sarung, dan barang tenun lainnya; sedangkan Jaka Sana merupakan ahli membuat perabot rumah tangga dan rumah. Mereka bermukim di Banyumas, Jawa Tengah yang sebelumnya hidup secara nomaden. Oleh karena itu, orang Kalang sering disebut sebagai pendatang baru yang di tempatkan di wilayah Tegalgendu yang dekat dengan Kotagede.

Ada satu hal menarik dari pemakaian nama-nama kampung di Kotagede yang merupakan bagian dari aktivitas kerajinan yang dilakukan warganya dan masih dapat dijumpai sampai sekarang, seperti Sayangan dari kata “sayang” yang berarti pengrajin tembaga; Mranggen dari kata “mranggi” yang berarti pembuat sarung keris; Pandeyan berasal dari kata “pandhe” yang berarti tukang besi; Samakan berasal dari kata “samak” yang berarti pengrajin kulit; Kemasan dari kata”kemasan” yang berarti tukang emas; dan Jagalan dari kata “jagal” yang berarti penyembelih hewan.. Meskipun terdapat nama-nama kelompok pengrajin, kehidupan warga Kotagede tidak berkelompok sesuai keahliannya masing-masing, melainkan sudah saling  menyebar.

Di tengah kesibukan warga Kotagede dalam menggeluti usaha kerajinan, ternyata orang kalang memiliki andil dalam membantu perekonomian masyarakat Yogyakarta, khususnya warga Kotagede. Tidak seperti kebanyakan warga setempat, orang kalang justru lebih memilih untuk melakukan penjualan emas dan rumah gadai.

Menurut cerita, kelompok orang kalang ini mempekerjakan warga Kotagede sebagai pembuat kerajinan, namun dalam pemberian upah sangat tidak manusiawi. Dari sinilah cikal bakal berkembangnya kerajinan perak Kotagede sehingga menjadikan Kotagede sebagai sentra kerajinan perak di Yogyakarta, bahkan sampai saat ini.

Sayangnya, keberadaan orang kalang kurang disenangi masyarakat Kotagede. Selain karena pemberian upah pekerja yang sedikit, orang kalang juga memiliki pola hidup yang eksklusif. Mereka hanya memikirkan urusan orang-orang keturunan orang kalang itu sendiri sehingga di Kotagede, mereka menjadi masyarakat yang terasingkan.

Dalam urusan pernikahan pun mereka menerapkan sistem perkawinan endogami, yaitu hanya menikahkan keluarga mereka dengan keluarga keturunan kalang lainnya. Sangat berbeda dengan adat pernikahan adat Jawa yang lebih mementingkan bibit, bobot, dan bebet. Karena sikap yang dimiliki orang kalang itulah muncul penamaan “Wong Kalang” yang berasal dari kata kalangan atau tertutup.

Orang kalang memang merupakan golongan terpandang pada saat itu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan rumah-rumah mewah bergaya Indis dan bercorak Artdeco. Banyaknya kekayaan yang mereka miliki menjadikan mereka mampu membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar, meskipun upah yang diberikan tidak seberapa.  Dengan demikian, keberadaan orang kalang di Kotagede merupakan satu bagian dari sejarah kota Yogyakarta. Adanya peninggalan omah kalang yang bisa dijumpai di sekitaran Tegalgendu merupakan salah satu cagar budaya yang meninggalkan corak kebudayaan tersendiri bagi Kota Yogyakarta, khususnya Kotagede.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.