Jogjakeren.com – Memaafkan sulit nggak sih? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab secara subyektif. Karena biasanya akan menyangkut pada sebanyak apa kesalahan yang dilakukan “lawannya” dan sejauh apa luka yang digoreskan ke dalam hati.
Tapi, coba kita belajar dari tokoh-tokoh teladan kita.
Ada Nabi Yusuf yang meskipun notabene telah disakiti secara berulang-ulang oleh para saudaranya, dimasukkan ke dalam sumur, dijual layaknya budak, akhirnya pula mendapatkan cobaan dipenjara tanpa kesalahan (kecuali kesalahan karena punya wajah teramat tampan) selama kisaran 12 tahun.
Tapi dengan kesalahan saudaranya yang sepertinya akan sulit termaafkan tersebut, Nabi Yusuf dengan lapang dada telah memanfaatkan mereka sedari awal.
Lalu apa yang terjadi, ia akhirnya menjadi manusia yang teramat mulia, dunia dan akhiratnya.
Coba belajar dari Sahabat Rasullullah bernama dhom-dhom. Betapa ia memiliki sifat teramat mulia, di awal pagi ia menghizibkan dirinya untuk memaafkan siapapun yang berbuat salah padanya. Setiap pagi seperti itu, sungguh luar biasa memiliki hati seluas samudera.
Lalu apa yang terjadi? Rasullullah bersabda “Ia diganjar surga oleh Allah karena kemuliaan sifatnya tersebut”.
Memaafkan Dalam Islam
Memaafkan itu pekerjaan hati, bukan hanya di lisan. Hati yang tidak menaruh dendam meskipun disakiti berkali-kali, hati yang tulus ikhlas mendoakan agar orang yang mendholimi mendapatkan ampunan dan menjadi manusia yang lebih baik, hati yang selalu mengedepankan Allah dalam setiap langkahnya.
Memaafkan orang lain pun juga diniati karena Allah, bukan hanya karena kewajiban semata bahkan hanya karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain.
Memaafkan bukan untuk disaksikan orang lain. Memaafkan itu dari hati sehingga namanya hati sudah seharusnya tanpa ada unsur riya dan sum’ah di dalamnya. Memaafkan itu bukan untuk dipuji, sehingga tidak perlu bercerita atau bahkan update status tentang sifat tersebut. Memaafkan adalah energi memberi, jadi tidak lagi ada tuntutan orang lain perlu memahami apa yang dia lakukan.
Memaafkan hubungannya dengan Allah, berdoalah pada Allah agar diberikan hati yang mudah memaafkan dan mengangkat segala dendam dalam hati.
Dalam QS. At-Taghobun:14 Allah berfirman:
{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ }
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Jika diartikan secara global, lafadz wain ta’fu, watasfahu, wataghfaru artinya memaafkan. Jika ditilik dari arti per kata, sebagai berikut:
Kita memulai memaafkan dari ta’fu atau afwan artinya menghapus kesalahan orang lain dan memulai dari nol. Kita tidak bisa memaafkan orang lain jika kita tidak mulai menghapus kesalahan mereka, inilah fungsinya release emosi.
Lantas berlanjut pada tasfahu yang berarti membuka lembaran baru. Kesalahan mereka yang lalu tak perlu diingat dan diungkit lagi, karena mulai dari nol maka kita sudah seharusnya membuat lembaran baru dalam menjalani kehidupan saat berinteraksi lagi dengan mereka.
Lanjut dengan wataghfaru atau memaafkan dengan menutupi kesalahan atau aib mereka yang telah menyakiti kita.
Jadi, prosesnya tentu tak mudah bukan? Tapi kita perlu fokus channel sendiri, agar hati kita bersih terbebas dari rasa dendam dan sebagainya.





